Puteri Duyung Yang Misterius

Menurut legenda, puteri
duyung adalah makhluk air
yang memiliki kepala dan tubuh
layaknya seorang perempuan
dan ekor menyerupai ikan. Ikan
duyung hidup di dasar laut dan
dikatakan merupakan seorang
puteri yang telah disumpah
sebahagian anggotanya
daripada paras pinggang hingga
ke kaki menjadi ikan.
Puteri duyung merupakan
makhluk legendaris yang
ceritanya sudah beredar
berabad-abad yang lalu.
Mereka termasuk salah satu
makhluk legendaris separuh
manusia separuh hewan. Cerita
mengenai ikan duyung wujud
dalam hampir semua
masyarakat di dunia. Dalam
mitologi Yunani, ikan duyung
dikatakan selalu menggoda
para pelaut yang lalai. Sesiapa
yang tergoda akan menemui
ajalnya. Masyarakat Babilonia
pula menyembah puteri duyung
sebagai dewa laut yang dikenal
sebagai Ea atau Oannes.
Oannes digambarkan sebagai
duyung jantan.
Cerita tentang ikan duyung atau
puteri duyung pertama kali
ditemukan di Assyria. Cerita itu
berkisah tentang Dewi Atargatis,
Ibu dari ratu Assyria, Semiramis.
Dewi Atargatis jatuh hati pada
seorang gembala, yang
kemudian terbunuh olehnya.
Karena malu, ia menceburkan
diri ke danau untuk mengubah
diri menjadi ikan. Namun, air
tidak bisa mengubah dirinya
sepenuhnya karena ia masih
memiliki kekuatan sebagai
seorang Dewi. Akhirnya, hanya
separuh tubuhnya yang menjadi
ikan.
Legenda Yunani yang terkenal
menceritakan bahwa puteri
duyung adalah Thessalonike,
adik Alexander Agung yang
berubah menjadi duyung
setelah meninggal. Dia hidup
setelah mati sebagai puteri
duyung di laut Aegea, dan
selalu menanyakan nasib
kakaknya.
Dia hanya menanyakan satu hal
bila ada pelaut melintas. Dia
selalu bertanya:
- Ζει ο βασιλιάς Αλέξανδρος ?
(Zi o basiliás Aléxandros?)
(Apakah Alexander Agung
masih hidup?).
Jika dia bertanya demikian,
jawaban yang tepat adalah:
- Ζει και βασιλεύει (Zi kē
basileúi)
(Dia masih hidup dan masih
memerintah).
Bila tidak menjawab seperti
demikian, maka ia berangsur-
angsur berubah menjadi
Gorgon dan mencelakai pelaut
yang sedang melintas. Kisah
mengenai puteri duyung kini
sudah universal, mendunia, dan
bukan milik suatu daerah atau
negara saja. Banyak orang dari
berbagai negara menciptakan
karakter puteri duyung masa
kini atau masa lalu sesuai
dengan imajinasinya.




Sumber: blackfiles.mywapblog.com/puteri-duyung-yang-misteriu.xhtml



VISUAL

Konspirasi Men In Black Yang Sesungguhnya

Men In Black yang selama ini
hanya dikenal sebagai salah
satu karya fiksi yang dibintangi
aktor komedi Will Smith
ternyata diangkat dari kisah
nyata tentang para pria
misterius yang sering
mendatangi rumah para saksi
yang mengaku melihat alien.
Mereka ternyata memang
benar-benar ada dan hadir di
dunia ini.
Dalam kenyataan, Men in Black
(MIB) ternyata bukanlah orang-
orang yang mengenakan jas
hitam rapi, bekerja sebagai agen
rahasia pemerintah dan
bertugas untuk membasmi alien
yang dilengkapi dengan senjata-
senjata canggih termasuk
senjata pengalih ingatan
temporer. Justru sebaliknya,
Men in Black merupakan
sebutan bagi orang-orang yang
mengenakan pakaian serba
hitam dan biasanya mendatangi
saksi mata yang pernah melihat
ufo. Kebanyakan Men in Black
ini mendatangi korban terutama
jika saksi tersebut berhadapan
langsung dengan mahluk luar
angkasa.
Quote:
Dari berbagai kesaksian serta
wawancara dengan orang yang
pernah didatangi MIB, ternyata
tujuan mereka adalah
menyalahkann presepsi si saksi
dan menyesatkan mereka,
bahwa yang mereka lihat bukan
alien. Mungkin inilah salah satu
kesamaan dengan film fiksi yang
mengisahkan bahwa para Men
in Black selalu membuat para
saksi yang melihat alien menjadi
lupa dengan apa yang baru
disaksikannya, tapi itu hanyalah
salah satu definisi yang beredar
mengenai Men in Black karana
banyak kalangan yang memiliki
pendapat lain.
Seorang penulis Amerika
bernama Jerome Clarck
menyatakan bahwa MIB
tidaklah selalu berpakaian serba
hitam. Menurut Clarck, sebutan
itu hanyalah istilah umum yang
menggambarkan orang-orang
yang berpenampilan diluar
kebiasaan atau eksentrik.
Mereka kadang memakai
pakaian yang sudah lama atau
ketinggalan jaman, seragam
USAF (United States Air Force)
atau bahkan mengenakan
model yang nantinya bakal
booming dimasa depan.
Kebanyakan para agen MIB
digambarkan selalu memakai
kacamata hitam sebagai
aksesoris wajib, dimana hal yang
disinyalir untuk menutupi
bentuk mata mereka karena
mempunyai mata sipit. Ada pula
yang menyebutkan kalau mata
agen MIB berbentuk aneh dan
besar karena pengaruh tiroid
(jangan tanya saya apa artinya),
sebagian bahkan percaya kalau
bentuk mata mereka sama
seperti alien. Karena mereka
adalah agen khusus maka
bukan tidak mungkin cara
hidup mereka juga ditangani
secara khusus pula. Selain mata,
jari-jari para agen MIB juga
dikabarkan lebih panjang dari
manusia normal dan suara
mereka mirip dengan suara
robot. Pelengkap lain yang
biasanya digunakan adalah
mobil cadillac antik berwarna
hitam yang terkadang terlihat
selalu seperti baru.
FENOMENA MIB
Quote:
Fenomena keberadaan MIB
ternyata pernah sangat popular
di tahun 1950 dan 1960. Pada
masa tersebut tercatat bahwa
beberapa agen MIB pernah
melakukan intimidasi pada
seorang reporter yang
bertempat tinggal di pinewood,
West Virginia. Reporter tersebut
dipaksa untuk berhenti menulis
artikel mengenai keberadaan
MIB di pinewood, yang ia
kirimkan pada koran lokal dan
nasional. Perlu dicatat bahwa
pinewood sendiri merupakan
daerah yang sangat popular
dengan mahluk yang dijuluki
Mothman di akhir era 1960-an
(bagi yang tidak tahu tentang
Mothman, bisa membaca lebih
jelasnya disini. Fenomena
Mothman pun secara tidak
langsung menguatkan dugaan
bahwa MIB beroprasi di
Pinewood untuk menyelidiki
keberadaan mahluk Mothman
itu.
Laporan mengenai Men in Black
paling mendetail terjadi pada
tahun 1976 dimana seorang pria
bernama Dr.Herbert Hopkins
yang berusia 58 tahun,
melaporkan bahwa ia pernah
didatangi Men in Black. Hopkins
yang berprofesi sebagai
konsultan mengenai UFO
ditelpon oleh seseorang yang
mengaku sebagai Vice President
of New Jersey UFO Research
Organization yang ingin ngobrol
denganya. Anehnya orang
tersebut (yang mengenakan
pakaian serba hitam) sudah
muncul di teras rumahnya
beberapa menit setelah Dr.
Hopkins menaruh gagang
telepon! Ia juga menemui
banyak kejanggalan selama
berbicara dengan tamunya.
Banyak keanehan mengenai
penampilan, tindak-tanduk
serta ucapan orang itu
menimbulkan munculnya
banyak teori mengenai identitas
mereka yang yang sebenarnya.
Beberapa teori konspirasi
menyebutkan kalau agen MIB
bukan seseorang manusia biasa,
tapi ras hybrid manusia-alien.
Mereka bertugas membersihkan
segala bukti fisik mengenai
campur tangan alien yang
tersisa di bumi. Oleh karena itu
penampilan agen MIB tampak
berbeda dari manusia biasa.
Namun ada juga yang percaya
bahwa mereka adalah agen
pemerintah (misalnya agen CIA)
yang berusaha menutup-nutupi
penampakan UFO.



Sumber: blackfiles.mywapblog.com/konspirasi-men-in-black-yang-sesungguhny.xhtml


VISUAL

cerpen horror karya RL STINE (Goosebumps)

KAU tak bisa tidur. Kau berbaring dengan mala tak

mau terpicdng dan memandangi langtt-langit

Jantungmu berdegup-degup kencang. Tangantnu dingin

dan kaku. Dengan bergidik kau turun dari tempat

tidur. Kau mulai mondar-mandir. Pikiran-mu

berputar-putat

Aku sering sekali mengalami hal seperri itu. Kalau

kau?

Kau tahu sesuatu yang mengerikan akan terjadi. Kau

tak hanya merasakannya—kau dapat melihat-nya dalam

benakmu. Kau harus melakukan sesuatu. Tapi apa?

Waktumu sangat sedikit. Dan tidak ada orang yang

bisa kauajak bicara. Tak ada bantuan yang bisa diharapkan. Kau tak punya kekuatan. Kau

ketakutan.... Bagus.

Tahan perasaan itu. Kau sudah siap untuk mem-baca

kisah ini. Kau sudah siap memakai Topeng

Hitam,.

ILUSTRASI OLEH MARK SUMMERS

SEtELAH keluargaku pindah ke rumah baru kami,

teman-temanku mulai suka kumpul-kumpul di

basement. Tempat itu besar, be rantakan karena

banyak tumpukan barang-barang peninggalan pemilik

rumah sebe-lumnya. Tetapi Dad sudah membuat salah

satu sudut tempat itu menjadi seperti ruai%an

rekreasi.

Kami meletakkan meja pingpong di bawah sana,

kulkas kecil yang berisi soda, dan TV yang ku-

hubungkan dengan video game vlayer-hi.

Hampir setiap sore Bill, Julie, Valerie, dan aku

berada di sana.

Bill berbadan besar, berambut pkang, dan ber-wajah

bintik-bintik. Ia berlanh di gym Dad.

Ia suka pamer betapa kuat dirinya. Tapi cowok

malang itu alergi terhadap banyak hal. Ia mulai

bersin-bersin ketika kami turun.

Julie dan Valerie hampir mirip saudara. Keduanya

tinggi dan kurus, berambut cokelat pendek, dan

bermata cokelat. Valeri memakai kacamata, sedang-

kan Julie tidak

Itu bukan satu-satunya perbedaan mereka. Julie

pemalu, suaranya lirih berbisik-bisik Ia adalah

otak kelompok ini. Ia selalu membawa buku atau

maja-lah.

Valerie tidak pernah dapat duduk anteng cukup lama

untuk membaca buku. Ia selalu bicara dan tertawa,

selalu merancang rencana, selalu mengaju-kan pada kami rencana gila untuk menghasilkan berton-ton

uang.

Aku? Aku adalah si cebol dalam kelompok, satu-

satunya yang bertubuh pendek. Rambutku cokelat

yang dipangkas cepak; mukaku tirus, serius, dan

muram. Orang-orang selalu menyuruhku gembira,

bahkan ketika aku sedang senang.

Bill dan aku menghabiskan sebagian besar waktu

kami di basement dengan bermain video game. Julie

suka membaca-baca di antara tumpukan-tumpukan buku

tua dan majalah-majalah yang bertimbun di mana-

mana.

Valerie suka menelepon teman-temannya memakai

pesawat telepon hitam kuno di.samping sofa dan

menyusun rencana. Lucu. Valerie menghabiskan waktu

begitu banyak menyusun rencana, tapi tidak pernah

sempat mewujudkannya satu pun.

Kalau sudah bosan, kami menjelajahi gudang-gudang

dan lemari-lemari dinding. Kau akan ter-cengang

pada barang-barang hebat yang kami temu-kan.Suatu

sore kami membongkar-bongkar setumpuk menu

restoran kuno.

"Robb, apa yang akan dilakukan ayahmu dengan

gundukan-gundukan rongsokan ini?" Valerie ber-

tanya.

"Dad ingin memilah-milah semuanya," kataku

padanya. "Dia ingin melihat-lihat kalau-kalau ada

yang berguna. Tapi akan butuh waktu lama. Umur

rumah ini lebih dari seratus tahun. Dan kupikir

orang-orang yang tinggal di sini aneh. Mereka tak

pernah membuang apa pun"

Di sofa di belakang kami, Julie sedang membaca-

baca di antara tumpukan majalah film yang sudah

menguning. "Ini sangat kuno," katanya. "Siapa orang-orang ini? George Brent? Robert Taylor? Se-

perti membaca buku sejarah saja."

"Hei—lihat ini!" teriak Bill.

Ia membungkuk di atas peti kayu dan menyodor-kan

setumpuk kotak karton persegi empat. "Per-mainan

kuno. Steeplechase—fcuda melewati rintangan. Jenis

permainan apa itu? Dan yang ini dinamakan Pah-

Cheesi. Aneh."

. Ia meniup debu di atas kotak itu dan langsung

mulai bersin-bersin. Bersinnya semakin keras. Ia

tidak berhenti bersiti sampai Valerie mengambil

permainan itu dan menjauhkannya darinya.

"Mungkin ada beberapa dari ini yang mahal nilai-

nya," kata Valerie menggebu-gebu. "Aku berani

taruhan permainan-permainan ini paling tidak ber-

umur seratus tahun."

"Ih." Bill mengelap hidungnya dengan tisu. "Bau-

nya seratus tahun. Aku benci bau lembap."

"Itu bukan bau permainan-permainan ini—tapi

kausmu!" kataku.

Julie dan Valerie tertawa. Bill bergegas maju dan

pura-pura mencekikku. Ia suka berkelahi dan me-

mukul orang-orang serta anak-anak di sekitamya.

Tapi aku jauh lebih kecil daripada dia, takkan

pernah seimbang kalau berkelahi.

Valerie sudah menghampiri sebuah lemari dinding.

"Wow. ltd luar biasa! Lihat!"

Kami semua berbalik untuk melihat harta karun yang

ditemukannya, sebuah kamera yang besar sekali.

"Kau mungkin bisa mendapatkan seratus dolar untuk

ini," katanya, mengangkat kamera itu ke mukanya,

menekan tombolnya. "Robb, sebaiknya ayahmu

menunjukkan barang ini pada orangtuaku. Bisa

dijual di toko barang antik mereka. Kau

mendapatkan keberuntungan di bawah sini!"Aku mengedarkan pandang ke sekeliling basement

ini. Setidaknya ada selusin lemari dinding dan gu-

dang, semuanya penuh dengan barang kuno. Dan ada

sebuah lemari yang terkunci dengan gembok berkarat

yang belum pernah kami buka.

Aku membungkuk di atas kotak besar yang se-

belumnya tempat menyimpan papan-papan per-mainan

kuno itu dan sekilas melihat sesuatu yang hitam di

dasarnya. Syal rua? Bukan. Topeng.

Aku mengambilnya, mengibas-ngibaskannya, dan

memasangnya di wajahku. "Lihat—aku Zorro!"

"Zorro? No way? seru Bill dari seberang ruangan.

"Kau mirip perampok bank."

Aku membetulkan letak topeng itu supaya dapat

melihat dengan jelas lewat lubang matanya—dan

tersentak kaget.

Teman-temanku! Di mana ketiga temanku? Mereka

lenyap.

Lewat topeng itu aku melihat empat anak lainnya.

Mereka duduk melingkar di lantai. Dua cewek dan

dua cowok, semuanya memakai pakaian kuno ber-wama

gelap.

Mereka sedang memainkan salah satu permainan itu.

Aku tidak dapat melihat wajah mereka dengan jelas.

Sosok mereka tersembunyi di balik cahaya terang

berkilauan.

Salah satu cowok memakai setelan hitam. Cowok di

seberangnya memakai kemeja putih berkerah kaku dan

celana wol cokelat yang panjangnya hanya sampai di

bawah lututnya. Sepatu kulitnya cokelat, besar,

dan berdetak. Bahunya turun dengan sedih.

Ketiga anak lainnya tampak gembira. Kedua cewek

itu berambut hitam yang diikat dan disanggul di

puncak kepala mereka. Yang satu memakai jumper

hitam panjang di atas blus putih tipis. Yang lainnya memakai rok berlipit-lipit abu-abu. Ia

tampaknya sedang menceritakan lelucon, sambil

melambai-lambaikan tangannya dan tertawa.

"Hei! Apa yang terjadi?" seruku. "Siapa kalian!"

Keempat anak kuno itu tidak membalikkan badan

ataupun mendongak. Aku tak bisa mendengar cerita

cewek itu. Cowok yang bersetelan hitam meraih dadu

di atas papan permainan itu.

"Hei!" aku kembali berteriak pada mereka. "Kalian

bisa mendengarku? Hei! Kalian bisa melihatku?"

Mereka tetap tidak berbalik. Hanya duduk di sana

dalam pakaian kuno kaku itu, bercakap-cakap dan

bermain.

Napasku sesak, jantungku berdegup kencang. Ku-

tanggalkan topeng itu dari wajahku.

"Tak mungkin!" teriakku.

"Robb, kau kenapa?" Bill bertanya. Ia mengguncang-

guncangkan bahuku. "Ada apa denganmu? Kau

oke?

Aku mengejap-ngejapkan mata beberapa kali. Dan

memandang ketiga temanku—Julie, Valerie, dan Bill,

kembali di basement, kembali dari mana pun mereka

menghilang.

"Kau cuma tertegun, lalu teriak-teriak," kata

Valerie. "Apa sih yang kaulihat tadi?"

Aku menelan hidah dengan susah payah. "Aku mencoba

pakai topeng ini," kataku pada Bill. "Baru saja

kulihat sesuatu... seram sekali."

"Apa kau melihat ke dalam cermin?" guraunya. Ia

menyodok perutku sangat keras, hingga aku

sempoyongan. Ia tidak pemah tahu kekuatannya

sendiri.

Ia mengerutkan kening melihat topeng itu. "Topeng

ini membuatku bersin."Kujejalkan topeng itu ke dalam tangannya. "Please.

Coba pakai ini."

Direntangkannya topeng kain itu dan dipasangnya ke

wajahnya. Kulihat matanya di balik kedua lubang

mata itu.

Ia memandang ke luar pada kami dari balik topeng

itu. "Hei—whoa!" serunya. "Siapa kalian? Bagaimana

kalian bisa ke sini?"

Aku berjongkok di samping Bill. "Kau melihat

ak-anak asing itu juga?" tanyaku. "Ya, kan?".

Bill tidak menjawab. Kukira ia tidak mendengarku.

Mulutnya menganga dan matanya membelalak di balik

topeng.

"Siapa kalian?" Bill bertanya lagi, sekarang ber-

teriak. "Siapa kalian? Jawab aku!"

Ia menarik lepas topeng itu. Mukanya merah par

dam. Ia menggeleng-geleng keras seolah mencoba

menjernihkan pikirannya.

Kuraih pundaknya. "Tadi kaulihat keempat anak itu?

Empat anak yang kelihatannya kuno?"

Bill mengangguk, mulutnya masih menganga. "Ya,"

sahutnya akhirnya. "Anak-anak yang kelihatannya

berasal dari abad lain. Aku—aku tak bisa melihat

muka mereka dengan jelas...."

Julie mengawasi kami dengan membisu, ekspresi-nya

serius, agak ngeri.

Valerie memutar bola matanya. "Dan kapan kalian

berdua merencanakan lelucon kecil ini?" tanyanya.

"Pikir kalian Julie dan aku akan bisa kalian

kibuli?"

"Tidak Ini... ini sungguhan," kata Bill. "Begitu

topeng itu kaupakai, kau akan melihat keempat anak

itu."

Valerie mendengus. "Ya. Tentu."Kusambar topeng itu dari tangan Bill dan kusodor-

kan ke kepala Valerie. "Ayo. Pakai ini."

Ia ragu-ragu, matanya yang hitam mengawasiku dari

balik kacamatanya.

"Ayo," desakku. "Kami nggak bercanda."

Valerie mencoba topeng itu. Lalu giliran Julie.

Mereka berdua melihat anak-anak yang sama dalam

oakaian kuno itu, sedang duduk dalam

Iingkaran di tempat kami duduk, ngobrol, bermain-

main.

Julie-mengembalikan topeng itu padaku. Kami saling

memandang. Tak ada yang bicara. Kuangkat topeng

itu ke dekat wajahku dan meng-amatinya,

membaliknya. Hanya topeng kain. Tak ada

isn'mewanya. Tak ada yang ganjil.

"Kau tahu apa yang kita lihat lewat topeng ini,

kan?" Julie bertanya dengan suara gemetar. "Kita

melihat anak-anak dari zaman dulu. Mungkin anak-

anak yang tinggal di basement ini seratus tahun

lalu."

Pesawat telepon hitam yang kuno itu berdering. Aku

memandanginya. Apakah kami menerima telepon dari

zaman dulu? Ternyata ibu JuHe, menyuruh Julie

pulang. Bill dan Valerie memutuskan pulang juga.

Aku mengantarkan teman-temanku itu naik ke pintu

depan, sambil masih memegang topeng itu erat-erat.

"Kau mau pakai topeng itu lagi?" tanya Bill sambil

berjalan ke pintu. Aku bergidik. "Nggak," sahutku.

"No way."

Tapi aku tak tahan godaan.

Setelah makan malam seharusnya aku mengerja-kan

PR, tapi aku malahan mengendap-endap turun

basement.Kukeluarkan topeng hitam itu dari tempat per-

sembunyiannya, laci bawah meja kabinet kuno. Lalu

aku duduk di ujung sofa.

Dadaku mulai berdegup kencang saat topeng itu

hipasang di mukaku.

Tiba-tiba aku melihat mereka. Keempat anaR itu.

Mereka duduk bersila di lantai, mengenakan pakaian

berat dan kaku, bermain papan permainan kuno.

"Hei! Kalian bisa mendengarku?" panggilku. "Ber-

baliklah!"

Mereka tetap bermain terus.

"Halo!" seruku. "Halo?"

Tak ada reaksi. Cowok pirang itu mengocok dadu

dalam tangannya, menggelindingkannya, dan meng-

gerakkan buahnya di papan permainan. Perhatian

mereka terpusat ke permainan itu.

Aku mengatupkan tanganku ke sekeliling mulutku dan

berteriak sekeras-kerasnya. "Hei! Dengarkan aku!

Kalian bisa—"

Aku berhenti l$etika kulihat ada seseorang lagi di

basement itu. Satu sosok tinggi berbayang-bayang

di belakang perapian.

Seorang laki-laki. Bersembunyi di balik perapian.

Apa yang sedang dilakukannya di sana? Apakah

keempat anak itu tahu ia sedang sembunyi di sana,

menguitip mereka, tetap berada di tempat gelap

itu?

Tidak. Mereka tidak mengangkat kepala dari

permainan mereka itu. "Hei! Lihat!" Aku berteriak,

suaraku serak karena

ngeri. "Ada orang di sana! Di belakang kalian!

Hei!"

Salah satu cewek itu menggelindingkan dadu, lalu

menjalankan buahnya di papan permainan.Aku mengerjap-ngerjapkan mata agar dapat me* lihat

laki-laki itu lebih baik. Ia sangat tua, badannya

tinggi dan kurus. Ia memakai overall kerja baggy

berwarna biru di atas kemeja lengan panjangnya

yang merah. Ia juga memakai kacamata tebal. Ke-

palanya botak, dengan hanya sejumput rambut uban

yang mencuat di telinganya.

Apa yang sedang dipegangnya? Apa itu?

•Kunci inggris?

Kunci inggris logam besar.

Apa yang akan dilakukannya dengan benda itu?

Apakah dia akan memukulkannya pada mereka?

Napasku memburu, kutekan kedua sisi wajahku. Aku

harus memperingatkan mereka!

Apa yang akan terjadi jika aku melintasi ruangan

dan mencoba menyentuh salah satti dari mereka?

Aku akan mencobanya.

Sebelum aku beranjak, terdengar bunyi gemuruh yang

memekakkan di telingaku. Seluruh ruangan bergetar

kencang sekali. Aku mencengkeram lengan sofa,

berjuang menjaga keseimbanganku.

Apa itu? Ledakan?

Kulihat keempat anak itu terbanting tertelentang.

Kudengar bunyi berderak. Bunyi kayu retak. Makin

keras. Makin keras...

"Nooooooo!" jerit salah satu cewek itu dengan

ketakutan.

"Tolong!" jerit yang satunya, berjuang untuk

beranjak duduk.

Bunyi berderak itu menyebar ke seluruh ruangan,

lalu terdengar bunyi krak keras sekali saat tiang

kayu di atas mereka patah.

Tiang berat itu jatuh menimpa mereka. Terpental

satu kali. Dua kali.Dan lalu seluruh langit-langit runtuh, kayu dan

lapisan langit-langit berguguran.

Menghancurkan mereka... menghancurkan mereka

semua... mengubur mereka.

"Noooooooooooo." Teritan mengerikan terlontar dari

dadaku.

Aku tak tahan melihatnya.

Kupejamkan mataku. Tanganku mencengkeram kedua

sisi topeng itu.

Akhirnya topeng itu kulepaskan dan kujatuhkan ke

lantai. Aku membungkuk dan memeluk tubuhku sendiri

erat-erat. Perutku bergolak. Aku berusaha keras

untuk tidak memuntahkan makan malamku.

Lama kemudian aku baru berani membuka mataku

kembali. Saat itu, basement itu tampaknya normal

lagi. Semuanya baik-baik saja. Tak ada anak-anak

yang mati. Tak ada tiang patah atau langit-langit

runtuh.

"Aku tahu kenapa kami melihat anak-anak itu,"

ucapku keras-keras, mencoba menarik kesimpulan

dari hal-hal mengerikan itu. "Seratus tahun lalu

semua anak itu mati di ruangan ini. Mereka tewas

hancur tertimpa di sini...."

Kupandangi topeng itu, yang teronggok di lantai.

Lalu aku berlari ke atas, kakiku rasanya selemas

agar-agar Jell-O.

Mom dan Dad sudah pergi berbelanja. Aku tak suka

ditinggal sendirian. Aku tak sanggup sendirian.

Aku hams menelepon Bill dan memberitahunya. Tapi

ketika aku mengangkat telepon, bel pintu ber-

bunyi.

Aku bergegas menuruni tangga ke pintu depan,

membukanya—dan menjerit. Laki-laki dari zaman dulu

itu. Laki-laki yang bersembunyi di basement, memegang kunci inggris, mengintai anak-anak mala

ng itu.

Laki-laki itu berasal dari seratus tahun lalu...

Ia sedang berdiri di teras depan rumahku!

"Maaf aku terlambat," katanya, sambil memandang-ku

lewat pintu luar.

"Hah? Terlambat? T-ti..." Aku tergagap-gagap.

"Tidak... tidak mungkin...."

Ia menggaruk sejumput ubannya dengan tangan-nya

yang bebas. "Apakah ayahmu ada di rumah? Aku

Calvin Reimer. Dia memanggilku untuk me-meriksa

perapian. Tapi aku sibuk terus dan baru sempat

sekarang."

Apa yang terjadi? tanyaku dalam hati. Aku

melihatnya lewat topeng itu, seratus tahun lalu.

Tapi ia kelihatan persis sekali!

Hantukah dia?

"Boleh aku masuk?" tanyanya. Ia mengangkat kotak

perkakas. "Aku ke sini untuk memperbaiki perapian

itu."

Aku membayangkannya lagi, bersembunyi di balik

perapian di sana, memegang kunci inggris.

Aku tak bisa membiarkannya masuk, pikirku. Dia

orang yang sama dengan yang kulihat lewat topeng

itu!

"Orangtuaku tak ada di rumah," kataku padanya.

Ia tidak memedulikanku dan membuka pintu depan. Ia

melewatiku masuk ke ruang tamu. "Tak apa-apa,"

katanya. "Aku tahu jalannya." Ia mulai melangkah

ke tangga basement.

Jantungku berdegup kencang. Aku membuntuti-nya.

"Apakah kau pernah ke sini dulu?" Suaraku

bergetar.

Ia mendecak. "Kau betul, Nak. Percaya tidak, sudah

hampir lima puluh tahun aku mengurusi rumah ini."Otakku berputar. Aku mengikutinya turun ke

basement. Ia membuka perapian dan langsung mulai

bekerja:

Aku berdiri mengawasinya, tanganku kuselipkan ke

dalam sakuku, mencoba tetap tenang, berusaha

memahami hal ini. Aku tetap membayangkan anak-

anak malang yang hancur tertimpa langit-langit

runtuh itu.

"Mr. Reimer, pernahkah... terjadi sesuatu yang

mengerikan di bawah sini?" tanyaku, suaraku serak.

Ia menatapku dari balik kacamatanya yang tebal.

"Semua orang memanggilku Cal," katanya. "Kenapa

kau menanyakan itu?"

Aku mengangkat bahu dan berusaha terdengar santai.

"Cuma kepingin tahu."

Cal menggigit bibir bawahnya. "Sebenarnya ada

tragedi mengerikan di ruangan ini, hampir lima

puluh tahun lalu terjadinya. Tapi kau umur berapa?

Sebelas? Dua belas? Kupikir kau tak ingin men-

dengarkannya."

"Ya!" sahutku, ketenanganku buyar. "Ceritakanlah!

Aku ingin mendengarnya."

Ia menggaruk ubannya dengan ujung obengnya. "Well,

waktu itu musim dingin. Keluarga Anderson—penghuni

rumah ini saat itu—masih punya perapian batu bara

yang kuno."

Ia menghela napas. "Mereka pindah dari sini

sesudah tragedi itu. Amelia, anak perempuan ketil

itu, berkeliaran di bawah sini. Tak ada orang yang

tahu bagaimana dia bisa terlepas dari pengawasan

pengasuhnya. Tapi dia sampai di bawah sini, pasti

dia lari-lari atau apa. Dan dia jatuh."

Cal berhenti dan mengerjap-ngerjapkan matanya

menatapku. "Kau yaMn ingin mendengarnya?" Aku mengangguk. "Ya. Teruskan. Teruskanlah." Ia

berdeham. "Well, singkat cerita, rupanya sese-

orang membiarkan pintu-pintu perapian terbuka.

Amelia jatuh ke dalam perapian, tepat ke atas

nyala batu bara. Ia terbakar. Terbakar hmgga ke

tulang-tulangnya. Mungkin tak lama. Tak ada yang

men-dengar jeritannya atau apa pun. Belakangan,

semua orang itu menemukan rangkanya yang sudah ha-

ngus."

Cal menggeleng-geleng. "Segera sesudah itu

keluarga Anderson pindah. Tapi beberapa orang

meng-anggap hantu Amelia itu masih tinggal di

sini. Mereka bilang hantu anak itu akan selalu

meng-hantui ruangan ini."

Aku menatap Cal dengan ternganga. Aku tak tahu

harus berkata apa. Kisah yang sangat mengerikan.

Tapi apa hubungannya dengan keempat anak yang

kulihat itu? Dan mengapa Cal kelihatan sama saja

dengan bertahun-tahun lalu?

"Semoga aku tak membuatmu ketakutan," kata Cal,

sambil membanting tutup kotak perkakasnya. "Itu

cuma cerita."

"Tak apa-apa," kataku. "Tapi... apa ada kejadian

mengerikan lainnya di bawah sini?"

Ia berpikir sejenak, lalu menggeleng. "Tidak. Se-

ingatku tak ada yang lainnya," Ia mengetuk-ngetuk

perapian. "Aku harus mengganti pipa di bawah sana

itu. Bilang pada ayahmu aku akan kembali besok"

Aku mengikutinya ke atas dan menutup pintu depan

setelah ia keluar. Kemudian aku bergegas menelepon

teman-temanku dan menceritakan semua peristiwa

itu.

Sore hari berikutnya kami berempat berkumpul di

ruang tamuku. Tidak seorang pun berminat turun ke

basement."Orang tua dari masa seratus tahun lalu itu ada di

rumahmu?" tanya Valerie, gemetar. "Kau mem-

biarkannya masuk?"

"Aku tak punya pilihan," jelasku. "Dia nyelonong

masuk begitu saja. Katanya dia datang untuk mem-

perbaiki perapian. Dia akan kembali hari ini."

"Kita tak bisa kembali ke bawah sana," kata Bill,

menunjuk ke pintu basement. "Kita harus menemu-kan

tempat main baru."

"Kita harus ke bawah sana," aku mendesak. "Ku-

pikir mereka butuh pertolongan kita. Jika kita

entah bagaimana bisa memperingatkan mereka tentang

langit-langit itu, mereka tak perlu mad dengan

cara mengerikan begitu."

"Tapi, Robb—mereka tak bisa melihat atau men-

dengar kita!" protes Julie. "Jadi bagaimana kita

bisa memperingatkan mereka?"

"Pasti ada caranya," aku bersikeras. "Kita harus

menemukan cara untuk berkomunikasi dengan mereka."

Aku bangkit berdiri. "Come on. Kita bisa

menyelamatkan mereka. Aku tahu kita bisa."

Aku nyaris harus memaksa teman-tetnanku turun,

Ketika sampai di bawah, kami betempat berhenti.

Dan memasang telinga.

Aku mendengar bunyi srek srek srek pelan dan lirih

dari sudut yang jauh. Langkah kaki? Srefc srek...

Sekarang makin keras.

"Hantu anak perempuan kecil itu!" pekik Valerie.

"Oh, nor Napasku tersekat di tenggorokanku. Aku

melangkah menuju ke bunyi itu....

Dan kulihat Cal menongolkan kepalanya dari balik

perapian. Ia mengencangkan sambungan pipa dengan

kunci inggris. Bunyi srek srek itu berasal dari

kunci inggris yang sedang diputar. "Semoga aku tak

mengagetkan kalian," katanya.Ia meletakkan kunci inggris itu dan melintasi

raangan mendekati kami. Ia mengenakan pakaian yang

sama dengan malam sebelumnya, overall denim baggy

dan kemeja merah.

Bagaimana dia bisa sampai di bawah sini? Aku,

heran, merinding ngeri. Bagaimana dia masuk rumah

ini?

"Aku harus pergi membeli klep," katanya padaku,

sambil mengerutkan kening. "Aku akan kembali kira-

kira sejam lagi."

Ia memberi isyarat padaku agar menglkutinya ke

tangga. "Aku merasa tak enak gara-gara tadi

malam," bisiknya. "Cerita tentang anak perempuan

itu cuma karanganku. Habis kau kelihatan kepingin

sekali mendengar cerita seram, jadi—"

"Karanganmu?" seruku.

Ia mengangguk. "Memang salah satu hobiku ada-

Iah mengarang cerita. Aku suka sekali mendongeng.

Mungkin suatu hari rianti aku akan memasukkanmu ke

cerita seram." Ia mengedip padaku.

Aku mengawasinya menghilang ke atas. Aku me-rasa

lebih bingung daripada sebelumnya. Benarkah ia

hanya mengarang cerita itu? Aku berbalik ke teman-

temanku.

Bill mengulurkan topeng hitam itu padaku. "Apa

yang akan kita lakukan?" tanyanya.

"Mencoba berhubungan dengan anak-anak itu entah

bagaimana caranya," jawabku. "Mencoba

memperingatkan mereka."

Kupasang topeng itu ke wajahku dan kubetulkan

letak lubangnya tepat di atas mataku Yes! Itu dia

mereka. Keempat anak kuno itu, duduk di lantai,

merrgitari papan permainan itu.

"Siapa nama kalian?" teriakku. "Halo? Bisakah

kalian mendengarku? Siapa nama kalian?"Kalau saja aku bisa melihat wajah mereka. Tapi

sosok mereka samar-samar, tersembunyi di balik

sinar lampu yang suram.

"Siapa nama kalian? Bisakah kalian mendengarku?"

Tak ada sahutan. Mereka terus menggelindingkan

dadu, menjalankan buah masing-masing.

Masih sambil memanggil-manggil mereka, aku ber-

jalan melintasi ruangan. Kuulurkan tanganku. Ku-

coba menyentuh bahu salah satu cowok.

Tanganku melewatinya.

Ia tidak bereaksi.

Kucoba menarik rambut salah satu cewek itu.

Tak ada apa-apa. Aku tak bisa memegang rambut-nya,

bahkan tak bisa merasakannya.

Kulepaskan topeng itu dengan jengkel. "Aku tak

berhasil menyentuh mereka," kataku pada teman-

temanku.

"Sini. Coba ini," kata Julie. Ia menyodorkan

secarik kertas ke tanganku. "Kutulis pesan buat

mereka. Kusuruh mereka segera keluar dari basement

ini."

Kuulurkan topeng itu pada Julie. "Kau saja yang

coba memberikan pesan itu pada mereka."

Ia ragu-ragu, lalu memakai topeng itu. Valerie,

Bill, dan aku memperhatikan Julie melintasi

ruangan. Kami mengawasinya mencoba berkali-kali

menyam-paikan catatan pesan itu. Tetapi kertas itu

tetap berada di tangannya.

Akhirnya ia melepaskan topeng itu dan me-

lemparkannya padaku. "No way," katanya. "Mereka

tak bisa melihatnya."

"Mereka semua akan mati!" keluh Valerie.

"Mengerikan!"

"Pasti ada cara untuk berkomunikasi dengan

mereka," aku ngotot. "Semacam cara rahasia. Ruangan ini menyimpan rahasia-rahasia. Aku tahu.

Cara rahasia untuk menghubungi anak-anak itu

dan..."

Kupikir kami berempat memandang lemari dinding

yang tergembok itu bersamaan.

Rahasia... lemari dinding rahasia itu... satu-

satunya lemari di ruangan ini yang tergembok.

"Kita harus membukanya," kata Valerie. "Berani

Taruhan kita akan menemukan apa yang kita can di

situ."

"Tunggu," kataku. "Perasaanku tak enak tentang

ini. Mungkin sebaiknya lata tak membuka lemari

itu. Mungkin lemari itu digembok demi kebaikan."

Tapi terlambat. Mereka sudah sampai di muka lemari

dinding itu, menarik-narik gemboknya yang

berkarat.

"Please, guys? aku memohon. "Ini sangat mengeri-

kan. Kupikir sebaiknya kita tak membuka..."

Dengan mengerahkan tenaganya, Bill menyentak-kan

gembok tua itu hingga membuka. Dilepaskan-nya

gembok itu dari gerendel dan dilemparkannya ke

lantai.

Valerie mengerutkan kening padaku. "Mungkin

sebaiknya lata melihat apa yang ada di dalamnya,

Robb," katanya pelan.

Ia memutar pegangan pintu lemari itu. Pintu tua

yang berat itu berderak saat ia mendorongnya

membuka.

Lampu lemari dinding itu menyala. Kami berempat

menyusup memasukinya. Dan tersentak kaget sekali.

"Pakaian-pakaian kuno!" seru Julie, mengangkat se-

buah blus berkerah renda yang sudah lusuh. "Ber-

uk-tumpuk."

Bill bersin. "Lihat sepatu-sepatu ini." Ia

mengangkat sepasang sepatu hitam berujung tinggi. Se-patu itu memakai kancing, bukannya tali. Bill

me-niup debu yang menempel dan bersin lagi.

Julie memegang sebuah jumper korduroi hitam di

depannya. "Wow. Sangat mengagumkan, hah? Ini

seperti pakaian yang dikenakan anak-anak itu."

Aku gemetar. "Menurutku sebaiknya kita tak me-

nyentuh benda-benda ini."

Tetapi Julie sudah mengandngkan blus berenda itu

di atas T-shirt-nya. Dan Bill sedang mengagumi

jaket hitam dengan kelepak lebar.

"Stop!" seruku. "Menurutku barang-barang ini ke-

punyaan anak-anak yang sudah mati itu."

"Ya! Itu betul!" kata Julie, sambil melicinkan

bahan yang berat itu dengan tangannya. "Inilah

yang mereka kenakan!"

"Jadi kita harus memakainya," desak Valerie. "Kau

tak mengerti ya, Robb? Mungkin inilah rahasia yang

kita cari. Mungkin jika memakai pakaian ini, kita

bisa berkomunikasi dengan mereka."

"Ya, betul!" Bill setuju. "Mungkin mereka akan

bisa mendengar kita dan bicara dengan kita kalau

kita mengenakan pakaian mereka."

Aku tak yakin ini akan berhasil, tapi aku meng-

ikuti jejak teman-temanku itu. Kupakai kemeja yang

bikin gatal dengan kerah putih kaku dan celana wd

baggy yang panjangnya hanya sampai bawah lututku.

Kami semua saling mengagumi selama beberapa

merit. Valerie dan Julie kelihatan agak aneh

dengan rambut yang disisir ke atas dan disanggul.

Kami mengeluh betapa tidak nyamannya semua pakaian

itu dan betapa tersiksanya anak-anak zaman dulu.

"Ayo kita coba topeng itu," Valerie mengusulkan.

"Ayo kita lihat apakah kita bisa menghubungi anak-

anak itu.""Tidak, tunggu," sela Julie. "Kita harus

melakukan-nya dengan benar. Kita memerlukan satu

hal lagi."

Ia menemukan papan permainan rua itu dalam pen'

kayu dan menggelar Pah-Cheesi itu di lantai. "Oke,

duduklah, semuanya," katanya. "Come on. Ayo kita

mainkan permainan ini. Persis seperti keempat anak

dari zaman dulu itu."

Dengan patuh kami duduk di lantai dan me-

ngelilingi papan permainan itu. "Semoga ini ber-

hasil," kataku. "Semoga kita bisa menghubungi

mereka sekarang."

Setelah kami bermain beberapa menit, aku meng-

ambil topeng hitam itu dan mulai memakainya, tapi

aku berhenti ketika mendengar langkah-langkah

berat menuruni tangga. Langkah-langkah tetap dan

pelan-pelan yang cukup berat untuk membuat tangga

berderak.

Kami semua berpaling dan melihat Cal. "Main-main

dengan pakaian?" katanya. "Kalian semua kelihatan

sangat anggun. Teruskan saja, jangan ter-ganggu

olehku."

Ia menghilahg ke balik perapian dan mulai me-

ngerjakan pipa-pipa dengan kunci inggrisnya.

Sekarang ini sempurna, aku menyadari. Dengan Cal

kembali ke sana, kami telah menciptakan pe-

mandangan yang persis sama. Tapi bisakah kami

bicara pada anak-anak malang itu? Bisakah kami

memperingatkan mereka?

Topeng hitam itu kuraih kembali.

Tapi aku tak pernah sempat mengenakannya.

"Awas!" teriak Cal dari belakang kami. "Perapian-

nya akan meledak\"Ledakan itu mengempaskan kami semua hingga

tertelentang. Napasku tersengal-sengal. Rasa nyeri

menjalari sekujur tubuhku.

Kudengar bunyi kraaaak keras di atas kepalaku.

Aku mendongak tepat pada saat tiang langit-langit

patah... patah menjadi dua....

Sekarang kami berempat menjerit.

Menjerit... menjerit... saat tiang itu jatuh dan

langit-langit mulai*runtuh.

Dan dalam dua detik terakhir itu, dalam saat yang

paling mengerikan dalam hidupku itu, aku menyadari

rasa takut mengalami hal ini.

Aku menyadari kebenaran tentang topeng hitam itu.

Kami salah. Kami sangat salah. Anak-anak itu

adalah kami sendiri! Topeng itu tidak pernah

menunjukkan pada kami masa lalu—melainkan

menunjukkan pada kami masa

depan.

Inilah Wajah Misterius Yang Hadir di Mimpi Ribuan Orang diseluruh Dunia

Inilah Wajah Misterius Yang
Hadir di Mimpi Ribuan Orang
diseluruh Dunia

LONDON - Sebuah situs yang
beralamat di http://
www.thisman.org/ telah
membuat banyak orang
penasaran. Situs yang
memajang sketsa wajah pria
misterius ini meminta setiap
pengaksesnya memberikan
informasi seandainya mereka
pernah memimpikan wajah
tersebut.
Konon, wajah pria dalam sketsa
tersebut sudah hadir dalam
mimpi ribuan orang di seluruh
dunia. Mungkin oleh karena
itulah banyak orang yang ingin
tahu dan mencoba
mengaksesnya. Situs ini
kemudian langsung menjadi hit
dengan trafik akses yang padat.
Dalam situs itu disebutkan,
sketsa wajah pria misterius itu
pertama kali digambar oleh
seorang wanita yang tengah
menjalani sesi terapi dengan
psikiater pribadinya tiga tahun
lalu. Wanita itu menyebutkan,
wajah pria tersebut hadir
berulang kali di mimpinya.
Demikian keterangan yang
dikutip dari Big News Networks.
Berdasarkan keterangan dalam
situs itu pula, si wanita tersebut
mengaku tidak pernah melihat
atau bertemu dengan pria itu
sebelumnya. Anehnya, pasien
lain yang melihat sketsa wajah si
pria misterius juga mengaku
pernah bermimpi tentang pria
itu.
Kemudian, saat si psikiater
mengirimkan gambar tersebut
pada rekannya, beberapa
pasien rekannya juga mengenali
wajah itu.
Kini, gambar tersebut diposting
di internet. Hanya dalam waktu
dua pekan sejak diposting, situs
yang memajang sketsa wajah
pria itu langsung menjadi
sebuah fenomena. Bahkan
beberapa pengakses mengaku
sulit mengaksesnya. Di duga, hal
ini disebabkan begitu banyak
orang yang ingin
mengetahuinya sehingga
membuat trafik aksesnya padat.
Namun begitu, banyak pula
yang mengkritik kehadiran situs
ini dan menyebutkan bahwa
sketsa wajah pria tersebut
hanya kabar bohong yang
sengaja dibuat untuk
menimbulkan sensasi.


VISUAL

Hantu Aswang

Aswang atau Asuwang atau
white lady adalah setan kuburan
dalam dongeng2 filipina. aswang
boleh dibilang drakulanya
filipina. mitos2 aswang populer di
daerah visayan barat kaya di
daerah capiz, iloilo ama antique.
ciri khas aswang daripada
makhluk supranatural filipina
lain adalah kecendrungan untuk
menutupi bangkai hasil buruan
mereka dgn batang2 pisang.
katanya mereka juga suka
makan anak kecil. bagian tubuh
favoritnya yaitu liver (hati) ama
jantung. di daerah capiz terkenal
dengan sebutan tik-tik ama
wak-wak, karena suaranya yg
kaya gitu. suaranya kerap
terdengar di beberapa tempat
dan suaranya juga kalo dari jauh
terdengar tik-tik ato wak-wak
tapi kalo dari dekat
kedengarannya beda lagi.
kabarnya mereka suka tinggal di
daerah pegunungan dan tak
pernah ke kota…..tapi prnah
terdengar kabar bahwa mereka
terlihat juga di kota, menurut
para sesepuh filipina, aswang
bisa berubah ke wujud manusia
ato hewan kaya anjing, babi en
burung hitam
banyak jenisnya loh :
ada juga tipe aswang yg suka
nyari ibu yang mengandung dan
ngisep darah kandungan,
caranya mereka memasukkan
belalai mereka yang panjang
melalui rahim dan ngisap darah
janin, shg janin di kandungan
mati.
ada juga yg berwujud pria
tampan yang siang harinya dia
gay tapi malem2 berburu cewe
buat diisep darahnya
aswang juga ada yang berujud
cewe cantik disiang harinya trus
jadi setan kelelawar dimalem
harinya
fakta lain:
Aswang juga sebutan untuk
tukang daging ama pembuat
sosis di filipina
Apabila para aswang ini
memiliki anak maka hanya
keturunannya yang
perempuanlah yang mewarisi
darah aswangnya.


VISUAL

Ba’albek

Ba’albek merupakan salah satu situs purbakala paling misterius di dunia , karena banyak-nya teka-teki yang belum berhasil terjawab disini.Salah satunya adalah bagaimana cara para pembangunnya memindahkan dan menyusun batu-batu balok seberat 1200 ton

Ba’albek, atau “kota Ba’al” (nama dewa kaum Phoenician) adalah sebuah kota yang terletak 86 km dari Beirut, ibukota Lebanon. Di kota inilah terdapat peninggalan sejarah penting namun juga misterius, berkaitan dengan ukuran dan berat batu utuh yang digunakan sebagai bahan bangunan kuil-kuil Romawi kuno di sana.


Batu-batu bangunan itu demikian besar bila dibandingkan dengan ukuran manusia modern. Dibentuk dengan halus dan rapi sebagai bagian-bagian bangunan yang megah dan artistik. Namun hal yang paling mengherankan adalah benda seberat itu ternyata telah mampu pula dibentuk dan disusun sedemikian rupa, sedangkan pada era kini pun masih terlalu berat untuk dapat diangkat oleh beberapa crane besar sekaligus.

penemuan goresan-goresan mirip hasil gergaji listrik pada salah satu bagian pondasi batu Piramid Giza, Mesir

Di sebelah selatan Ba’albek, terdapat lokasi bekas penggalian yang tampaknya merupakan tempat untuk pemotongan batu-batu besar bahan bangunan kuil tersebut.

Di tempat ini pula, ditemukan sebuah balok batu raksasa (gambar dibawah) dan telah berada di sana sejak pemotongannya, lebih dari 2.000 tahun yang lalu. Balok batu ini dinamakan “Stone of the Pregnant Woman” dan dinyatakan sebagai batu olahan terbesar di dunia. Berukuran 21,5 m x 4,2 m dengan berat diperkirakan mencapai 1.500 ton.


Berdasarkan sejarah, pada mulanya, Ba’albek dihuni oleh kaum Phoenician sampai kemudian diduduki oleh Bangsa Yunani pada 323 – 64 SM yang lalu mengubah nama kota ini menjadi “Heliopolis” (kota matahari). Tahun 64 SM, kota ini menjadi koloni Romawi (Colonia Julia Augusta Felix Heliopolitana) pada masa pemerintahan Julius Caesar. Dalam masa pendudukan Romawi inilah kuil-kuil berbahan batu raksasa tersebut dibangun. Didedikasikan untuk dewa bangsa Romawi kuno, Jupiter.





SUMBER: http://misteridunia.wordpress.com/2008/09/23/baalbek/#more-621


VISUAL

The Faces of Belmez


Dipermulaan Agustus 1971, seorang wanita Spanyol, Maria Gomez Pereira merasa mendapati beberapa peristiwa ganjil di kediamannya.
Dikisahkan olehnya,tepatnya mulai tanggal 23 Agustus 1971,beberapa citra/gambaran raut wajah seorang laki-laki secara spontan muncul di lantai keramik dapurnya, ingat, hanya kepalanya saja, tanpa badan dan organ2 lainnya.

Yang lebih menyeramkan lagi, raut-raut wajah misterius itu selalu mengikuti mood dari sang pemilik rumah,jika Nyonya Maria Gomez sedang gembira raut wajah mereka terlihat sumringah,begitu pula sebaliknya.

Fenomena menyeramkan tersebut kurang lebih menghantui dirinya selama satu minggu lamanya,sebelum akhirnya ia berniat menyewa beberapa pekerja bangunan untuk membongkar beberapa lantai keramik dapur.

Sebelumnya, fenomena misterius dikediaman Nyonya Maria Gomez telah banyak diketahui oleh beberapa warga sekitar dan dengan cepat tersebar luas hampir keseluruh negeri karena beberapa media masa maupun elektronik pada saat itu selalu memuat fenomena misterius tersebut sebagai topik utamanya.

Jika kita flash back ,memang kediaman yang ditempati oleh Maria Gomez dulunya merupakan bekas sebuah tanah pekuburan. Hal itu baru diketahui setelah beberapa pengkaji dari para ahli-ahli supranatural yang melakukan investigasi singkat disana, serta beberapa oknum peneliti yang turut serta melakukan penggalian mendapati beberapa tulang belulang manusia terkubur tepat dibawah lantai keramik dapur rumah.

Uniknya,setelah lantai keramik dapur diganti dengan yang baru serta beberapa tulang belulang manusia telah diangkat dan kemudian dikuburkan ditempat lain, fenomena itu masih saja muncul. Dua minggu setelah pembongkaran,dua raut wajah manusia kembali muncul di lantai baru, kali ini lengakap dengan gambaran anggota tubuh mereka, lalu secara berturut-turut raut wajah lainnya selalu bermunculan silih berganti setiap harinya. Nyonya Maria Gomez yang sudah terlanjur ketakuatan setangah mati akhirnya memutuskan untuk menjual rumahnya yang menyeramkan. Kini, status dari rumah tersebut menjadi kepemilikan pemerintahan setempat dan dijadikan sebagai salah satu obyek pariwisata yang cukup unik disana.
Beberapa pengunjung yang datang juga kerap melihat penampakan mereka, lengkap dengan berbagai ekspresi wajah yang mereka tampilkan.

Ada suatu penelitian unik yang dilakukan oleh beberapa praktisi,yaitu dengan menempatkan sebuah kamera video yang sengaja ditinggalkan di tempat itu selama satu hari penuh. Dari hasil yang didapat ,mereka cukup terkejut karena raut-raut wajah itu ternyata dapat saling berkomunikasi satu sama lainnya, hal itu terbukti ketika pita rekaman diputar terdengar semacam suara percakapan lirih yang keluar dari arah-arah mereka. Sejauh ini,dari hasil penelitian oleh ahli Kimia yang menguji sampel dari struktur penyusun lantai,memang benar tidak ditemukan bukti cat atau pewarna yang kemungkinan besar menyebabkan pembentukan raut-raut wajah tersebut.Hingga saat ini belum ada yang bisa menjelaskan bagaimana fenomena-fenomena itu bisa terbentuk.


SUMBER: http://misteridunia.wordpress.com/2008/09/24/the-faces-of-belmez/#more-639


VISUAL

Manusia Es Terkutuk

Oetzi, atau manusia es, begitulah ia dikenal, ditemukan di Puncak Gunung antara Austria dan Italia pada tahun 1991. Selama 13 tahun selanjutnya, tujuh orang yang berhubungan dengan temuannnya, tewas. Dalam beberapa kasus, kematian mereka tampak seperti kematian biasa, namun empat kematian di antaranya cukup ganjil atau mengenaskan.
Kematian pertama terjadi tahun 1992 ketika Rainer Henn, ahli patologi forensik yang menyimpan Oetzi ke dalam sebuah kantung mayat dengan tangan telanjangnya, tewas akibat tabrakan mobil dalam perjalanan menuju sebuah konferensi dunia untuk membahas Manusia Es tersebut. Berikutnya, Kurt Fritz, pemandu gunung yang mengantarkan Henn ke Oetzi, dan yang membuka wajah Oetzi, tewas tertimbun tanah longsor. Orang nomor tiga, yang mem-film-kan penemuan Oetzi, meninggal akibat tumor otak.
Daftar korban semakin menyeramkan: Helmut Simon, yang dengan istrinya adalah orang yang pertama kali menemukan Manusia Es tersebut, menghilang selama 8 hari pada tahun 2004. Ketika tubuhnya ditemukan wajahnya menunduk di dalam tumpukan es, dimana ia telah jatuh dari karang terjal setinggi 300 kaki. Dieter Warnecke, kepala tim penyelamatan yang menemukan Helmut, tewas akibat serangan jantung satu sjam setelah penguburan Helmut.
Pria nomor enam, Konrad Spindler, meninggal akibat komplikasi yang disebabkan oleh Multiple Sclerosis enam bulan setelah kutipannya disebarkan “Menurut saya, kejadian ini hanya sampah. Ini hanya buatan media saja. Anda akan mengatakan bahwa sayalah korban selanjutnya.”
Yang ketujuh dan yang terakhir (sejauh ini) adalah tahun 2005: Tom Loy, seorang ilmuwan yang menemukan darah manusia pada pakaian dan senjata Oetzi, meninggal akibat penyakit darah turunan. Kejadian ini biasanya dianggap tidak lebih dari kematian alami tetapi tidak apabila melihat kenyataan bahwa ia didiagnosa pada tahun 1992, satu tahun setelah mulai bekerja dengan Manusia Es tersebut. Berdasarkan kejadian-kejadian ini, mungkin kamu akan menjadi korban selanjutnya karena membaca artikel ini!
Bukti menunjukkan bahwa Manusia Es mengalami akhir yang kejam, ditembak dengan sebuah anak panah sebelum kepalanya tertampar keras. Jadi pada dasarnya, Oetzi adalah korban pembunuhan klasik yang tertinggal di pegunungan sehingga menjadi mumi di sebuah kuburan tak bertanda.

http://klikmenarik.blogspot.com/2012/06/5-kutukan-nyata-paling-aneh-di-dunia.html

♥ Lee

Yakuza

Sejarah panjang Yakuza dimulai kira-kira pada tahun 1612, saat Shogun Tokugawa berkuasa dan menyingkirkan shogun sebelumnya.

Pergantian ini mengakibatkan kira-kira 500.000 orang samurai yang sebelumnya disebut hatomo-yakko (pelayan shogun) menjadi kehilangan tuan, atau disebut sebagai kaum ronin.

Seperti kata pepatah : “orang yang hanya punya martil cenderung melihat segala sesuatu bisa beres dengan dimartil..”, demikian juga dengan kaum ronin ini. Banyak dari mereka menjadi penjahat dan centeng. Mereka disebut sebagai kabuki-mono atau samurai nyentrik urakan yang ke mana-mana membawa pedang. Mereka berbicara satu sama lain dalam bahasa slang dan kode rahasia. Terdapat kesetiaan tingi di antara sesama ronin sehingga kelompok ini sulit dibasmi.

Apakah kaum ronin ini yang menjadi biang Yakuza…? Bukan.

Untuk melindungi kota dari para kabuki-mono, banyak kota-kota kecil di Jepang membentuk machi-yokko (satgas kampung). Satgas ini terdiri dari para pedagang, pegawai, dan orang biasa yang mau menyumbangkan tenaganya untuk menghadapi kaum kabuki-mono. Walaupun mereka kurang terlatih dan jumlahnya sedikit, tetapi ternyata para anggota machi-yokko ini sanggup menjaga daerah mereka dari serangan para kabuki mono. Di kalangan rakyat Jepang abad ke 17 – kaum machi-yokko ini dianggap seperti pahlawan.

Masalah jadi rumit, karena setelah berhasil menggulung para ronin, para anggota machi-yokko ini malah meninggalkan profesi awal mereka – dan memilih jadi preman. Hal ini diperparah lagi dengan turut campurnya Shogun dalam memelihara para machi-yokko ini. Ada dua kelas profesi para machi-yokko, yaitu kaum Bakuto (penjudi) dan Tekiya (pedagang). Namanya saja kaum pedagang – tetapi pada kenyataannya, kaum Tekiya ini suka menipu dan memeras sesama pedagang. Walau begitu, kaum ini punya sistem kekerabatan yang kuat. Ada hubungan kuat antara Oyabun (Boss-bapak) dan Kobun (bawahan-anak), serta Senpai-Kohai (Senior-Junior) yang kemudian menjadi kental di organisasi Yakuza.

PEJUDI SEWAAN

Kaum Bakuto (penjudi), punya sejarah yang unik. Awalnya mereka disewa oleh Shogun untuk berjudi melawan para pegawai konstruksi dan irigasi. Untuk apa…? Agar gaji para pegawai konstruksi dan irigasi habis di meja judi – dan tenaga mereka bisa disewa dengan harga murah!

Jenis judi yang biasa dilakukan adalah menggunakan kartu Hanafuda dengan sistem permainan mirip Black Jack. Tiga kartu dibagikan dan bila angka kartu dijumlahkan – maka angka terakhir menunjukkan siapa pemenang. Nah diantara sekian banyak “kartu sial”, kartu berjumlah 20 adalah yang paling sering disumpahi orang, karena berakhiran nol. Salah satu konfigurasi kartu ini adalah kartu dengan nilai 8-9-3 – yang dalam bahasa Jepang menjadi Ya-Ku-Za – yang kemudian menjadi nama asal Yakuza.

Dari kaum Bakuto ini juga muncul tradisi menandai diri dengan tattoo sekujur badan (disebut irezumi) dan yubitsume (potong jari) sebagai bentuk penyesalan ataupun sebagai hukuman. Awalnya hukuman ini bersifat simbolik – karena ruas atas jari kelingking yang dipotong membuat si empunya tangan menjadi lebih sulit memegang pedang dengan mantap. Hal ini menjadi simbol ketaatan terhadap pimpinan.

YAKUZA MODERN

Waktu pun berlalu, kaum Bakuto dan Tekiya menjadi satu identitas sebagai Yakuza. Kaum yang asalnya bertugas melindungi masyarakat – menjadi ditakuti masyarakat. Para pimpinan Jepang memanfaatkan hal ini untuk mengendalikan masyarakat dan menggerakkan nasionalisme. Yakuza ikut direkrut oleh pemerintah Jepang dalam aksi pendudukan di Manchuria dan China oleh Jepang tahun 1930-an. Para Yakuza dikirim ke daerah tersebut untuk merebut tanah, dan memperoleh hak monopoli sebagai imbalan.

Peruntungan kaum Yakuza berubah setelah Jepang menyerang Pearl Harbor. Militer mengambil alih kendali dari tangan Yakuza. Para anggota Yakuza akhirnya harus memilih apakah bergabung dalam birokrasi pemerintah, jadi tentara atau masuk penjara. Boleh dikata pamor Yakuza tenggelam.

Setelah Jepang menyerah, para anggota Yakuza kembali ke masyarakat. Muncul satu orang yang berhasil mempersatukan seluruh organisasi Yakuza. Orang itu adalah Yoshio Kodame, seorang ex-militer dengan pangkat terakhir Admiral Muda (yang dicapainya di usia 34 tahun). Yoshio Kodame berhasil mempersatukan dua fraksi besar Yakuza, yaitu Yamaguchi-gumi yang dipimpin Kazuo Taoka, dan Tosei-kai yang dipimpin Hisayuki Machii. Yakuza pun bertambah besar keanggotaannya terutama di periode 1958-1963 – saat organisasi Yakuza diperkirakan memiliki anggota 184.000 orang – atau lebih banyak daripada anggota tentara angkatan darat Jepang saat itu. Yoshio Kodame dinobatkan sebagai godfather-nya Yakuza.

ECSTASY, PACHINKO DAN PELUNCUR ROKET

Di masa kini, keanggotaan Yakuza diperkirakan telah menurun tajam – tetapi bukan berarti tidak berbahaya. Tulang punggung bisnis illegal mereka adalah pachinko, perdagangan ampethamine (termasuk ice dan ecstasy), prostitusi, pornografi, pemerasan, hingga penyelundupan senjata.

Di era 1980-an, Yakuza mengembangkan sayap mereka hingga ke Amerika, dan ikut masuk dalam bisnis legal untuk mencuci uang mereka. Dalam operasinya, Yakuza membeli asset di Amerika – dan salah satu yang pernah mencuat ke permukaan adalah keterlibatan Prescott Bush Jr., saudara dari presiden George Bush dan paman dari Presiden George W. Bush Jr., dalam transaksi penjualan perusahaan Asset Management International Financing & Settlements di awal 1990-an.

Berdasarkan perkiraan kasar dari sumber majalah Far Eastern Economic Review edisi 17 Januari 2002 – Yakuza diperkirakan telah menanamkan uang hingga USD 50 Milyar dalam investasi saham dan perusahaan di Amerika. Bandingkan dengan cadangan devisa Indonesia yang USD 36 Milyar.

Di dalam negeri, Yakuza juga ditengarai turut berperan dalam anjloknya ekonomi Jepang selama 10 tahun terakhir. Sebagai akibat amblasnya bisnis properti dan macetnya kredit bank di Jepang pasca 1990 – banyak debitor yang menyewa anggota Yakuza agar agunan mereka tidak disita oleh bank. Selain itu, banyak perusahaan yang memperoleh pinjaman bank – pada dasarnya adalah sebuah kigyo shatei atau perusahaan boneka miliki Yakuza. Perusahaan milik Yakuza ini diperkirakan memperoleh kredit antara USD 300-400 Milyar, dan sebagian dari jumlah itu dialirkan ke induk organisasi Yakuza. Menghadapi hal seperti ini – bank Jepang jelas tidak bisa berkutik.

Di sisi lain, anggota Yakuza juga kerap membeli asset properti dengan harga miring dari perusahaan yang butuh cash – untuk dijual kembali dengan harga tinggi – apapun itu mulai dari apartemen, perkantoran hingga rumah sakit. Bila sebuah bangunan telah dibeli oleh Yakuza – siapa sih yang berani jadi tetangga mereka? Alhasil harga properti langsung amblas, dan segera naik segera setelah Yakuza menjualnya.

Selain beroperasi secara di level bawah, Yakuza juga menggurita di kalangan politisi Jepang. Beberapa praktek suap telah terbongkar termasuk dalam program tender proyek umum senilai trilyunan yen. Program rekapitalisasi perbankan Jepang yang berlarut-larut tidak kunjung selesai – diperparah oleh keterlibatan Yakuza yang sangat berkepentingan dalam bisnis properti dan kredit perbankan. Saat ini perbankan Jepang masih menanggung beban kredit macet sebesar kira-kira USD 1,2 Trilyun – dan membuat ekonomi tidak bertumbuh selama 10 tahun terakhir



SUMBER: http://misteridunia.wordpress.com/2008/09/22/yakuza/#more-490


VISUAL

Kutukan Superman

Kutukan superman ini mengacu kepada ketidakberuntungan dan nasib sial terhadap orang orang yang terlibat dengan cerita superman dalam beberapa tahun ini. mungkin yang paling terkenal adalah kutukan pada George Reeves yang merupakan pemeran awal superman pada serial televisi dan Christoper Reeve yang memainkan karakter Superman di film film awalnya, George Reeves bunuh diri, dan Christoper Reeve menjadi lumpuh setelah terjatuh dari kuda. korban lainnya adalah Jerry Siegel dan Joe Shuster yang merupakan pencipta karakter Superman namun mereka hanya mendapat sedikit sekali uang, karena Perusahaan DC Comic yang merupakan pegawai mereka memegang seluruh hak cipta atas karya superman, beberapa orang pernah mengatakan bahwa jerry dan joe menaruh kutukan kepada karakter superman karena mereka merasa hasil jerih payah mereka tidak dihargai. ada sebuah spekulasi yang mengatakan bahwa John F Kennedy juga merupakan korban dari kutukan ini, sebelum kematiannya, seorang staff dari JFK menyetujui skenario cerita superman dimana sang pahlawan memuji kesehatan fisik sang presiden, skenario ini dijadwalkan akan rilis pada bulan april 1964.

Oleh karena kutukan semacam ini lah banyak sekali aktor yang menolak untuk memerankan tokoh superman, Contohnya adalah Pemeran Superman yang bernama Paul Walker, dia terpilih sebagai salah satu dari 10 aktor paling buruk.

http://www.misterius.net/kutukan-misterius-paling-terkenal-291.html

Pernikahan Terkutuk

Menikah adalah salah satu urusan terbesar dalam hampir semua kehidupan orang, dan biasanya wanita selalu ketakutan terhadap hal-hal kecil sampai acara pernikahan selesai. Namun, berbeda dengan pernikahan terkutuk Maria Vittoria dal Pozzo, Putri della Cisterna ke-6 yang jauh, jauh lebih buruk.
Ketika pangeran Amedeo dari Savoy mengumumkan bahwa ia akan menikahi Maria, Raja Victor Emmanuel II dari Italia sangat tidak menyetujui pernikahan tersebut. Untuk satu alasan, ia pikir anaknya yang tampan bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari “wanita bangsawan” tersebut. Kedua, pilihan anak Raja Victor tersebut bukan keturunan kerajaan. Pada dasarnya, Raja Victor adalah seorang pria yang memiliki standar tinggi.
Meskipun demikian, Pangeran Amedeo I menikahi Putri Maria pada tanggal 30 Mei, 1867 di sebuah peristiwa yang bisa disebut sebagai pernikahan paling terkutuk di dalam catatan sejarah.
Di hari pernikahan, rombongan pengantin tersebut menemukan wanita yang bertanggung jawab untuk membuat pakaian sang Putri mati dengan memakai gaun pengantin tersebut. Maka, Maria yang percaya takhayul bersikeras untuk menikah dengan gaun yang berbeda.
Kemudian, ketika rombongan pengantin sedang dalam perjalanan dari istana menuju gereja, kolonel yang memimpin prosesi tersebut jatuh dari kudanya dan meninggal akibat sunstroke (serangan jantung yang disebabkan oleh sinar matahari). Setelah mereka menemukan pengganti kolonel tersebut, rombongan tersebut terhenti lagi di gerbang istana, yang untuk alasan tertentu menolak untuk dibuka. Penjaga gerbang yang ditugaskan tergeletak mati tertutup oleh banyak darah.
Segera setelah pernikahan, pria terbaik memberi hormat kepada pasangan tersebut dengan menembak dirinya di kepala. Rombongan tersebut dengan cepat pergi ke stasiun kereta api, mungkin mereka ingin naik kereta untuk pergi keluar kota. Pria yang menulis kontrak pernikahan pun mengalami “gangguan apopleksia,” pendarahan internal besar-besaran – biasanya dalam otak – yang hampir menyebabkan kematian. Setelah itu, kepala stasiun kereta api tersebut tertarik oleh kereta kuda pengantin.
Pada titik ini, Raja Victor Emmanuel II sadar bahwa pernikahan ini akan membebani dia dengan biaya pemakaman, dan memerintahkan agar tak seorang pun yang menggunakan kereta api dan malah berjalan kaki secara diam-diam kembali ke istana sebelum para dewa sadar bahwa ada orang lain yang lupa untuk dibunuh. Pembatalan tersebut berjalan sangat baik sekali sampai Pangeran dari Castiglione juga terseret di bawah kereta kuda pengantin.
Pangeran tersebut adalah yang terakhir tewas, namun pernikahan pembawa sial antara Maria Vittoria dal Pozzo dan Pangeran Amadeo I secara resmi tidak berakhir sampai sepuluh tahun kemudian ketika Putri Maria meninggal setelah komplikasi saat melahirkan pada usia 29.

http://klikmenarik.blogspot.com/2012/06/5-kutukan-nyata-paling-aneh-di-dunia.html