KAU tak bisa tidur. Kau berbaring dengan mala tak
mau terpicdng dan memandangi langtt-langit
Jantungmu berdegup-degup kencang. Tangantnu dingin
dan kaku. Dengan bergidik kau turun dari tempat
tidur. Kau mulai mondar-mandir. Pikiran-mu
berputar-putat
Aku sering sekali mengalami hal seperri itu. Kalau
kau?
Kau tahu sesuatu yang mengerikan akan terjadi. Kau
tak hanya merasakannya—kau dapat melihat-nya dalam
benakmu. Kau harus melakukan sesuatu. Tapi apa?
Waktumu sangat sedikit. Dan tidak ada orang yang
bisa kauajak bicara. Tak ada bantuan yang bisa diharapkan. Kau tak punya kekuatan. Kau
ketakutan.... Bagus.
Tahan perasaan itu. Kau sudah siap untuk mem-baca
kisah ini. Kau sudah siap memakai Topeng
Hitam,.
ILUSTRASI OLEH MARK SUMMERS
SEtELAH keluargaku pindah ke rumah baru kami,
teman-temanku mulai suka kumpul-kumpul di
basement. Tempat itu besar, be rantakan karena
banyak tumpukan barang-barang peninggalan pemilik
rumah sebe-lumnya. Tetapi Dad sudah membuat salah
satu sudut tempat itu menjadi seperti ruai%an
rekreasi.
Kami meletakkan meja pingpong di bawah sana,
kulkas kecil yang berisi soda, dan TV yang ku-
hubungkan dengan video game vlayer-hi.
Hampir setiap sore Bill, Julie, Valerie, dan aku
berada di sana.
Bill berbadan besar, berambut pkang, dan ber-wajah
bintik-bintik. Ia berlanh di gym Dad.
Ia suka pamer betapa kuat dirinya. Tapi cowok
malang itu alergi terhadap banyak hal. Ia mulai
bersin-bersin ketika kami turun.
Julie dan Valerie hampir mirip saudara. Keduanya
tinggi dan kurus, berambut cokelat pendek, dan
bermata cokelat. Valeri memakai kacamata, sedang-
kan Julie tidak
Itu bukan satu-satunya perbedaan mereka. Julie
pemalu, suaranya lirih berbisik-bisik Ia adalah
otak kelompok ini. Ia selalu membawa buku atau
maja-lah.
Valerie tidak pernah dapat duduk anteng cukup lama
untuk membaca buku. Ia selalu bicara dan tertawa,
selalu merancang rencana, selalu mengaju-kan pada kami rencana gila untuk menghasilkan berton-ton
uang.
Aku? Aku adalah si cebol dalam kelompok, satu-
satunya yang bertubuh pendek. Rambutku cokelat
yang dipangkas cepak; mukaku tirus, serius, dan
muram. Orang-orang selalu menyuruhku gembira,
bahkan ketika aku sedang senang.
Bill dan aku menghabiskan sebagian besar waktu
kami di basement dengan bermain video game. Julie
suka membaca-baca di antara tumpukan-tumpukan buku
tua dan majalah-majalah yang bertimbun di mana-
mana.
Valerie suka menelepon teman-temannya memakai
pesawat telepon hitam kuno di.samping sofa dan
menyusun rencana. Lucu. Valerie menghabiskan waktu
begitu banyak menyusun rencana, tapi tidak pernah
sempat mewujudkannya satu pun.
Kalau sudah bosan, kami menjelajahi gudang-gudang
dan lemari-lemari dinding. Kau akan ter-cengang
pada barang-barang hebat yang kami temu-kan.Suatu
sore kami membongkar-bongkar setumpuk menu
restoran kuno.
"Robb, apa yang akan dilakukan ayahmu dengan
gundukan-gundukan rongsokan ini?" Valerie ber-
tanya.
"Dad ingin memilah-milah semuanya," kataku
padanya. "Dia ingin melihat-lihat kalau-kalau ada
yang berguna. Tapi akan butuh waktu lama. Umur
rumah ini lebih dari seratus tahun. Dan kupikir
orang-orang yang tinggal di sini aneh. Mereka tak
pernah membuang apa pun"
Di sofa di belakang kami, Julie sedang membaca-
baca di antara tumpukan majalah film yang sudah
menguning. "Ini sangat kuno," katanya. "Siapa orang-orang ini? George Brent? Robert Taylor? Se-
perti membaca buku sejarah saja."
"Hei—lihat ini!" teriak Bill.
Ia membungkuk di atas peti kayu dan menyodor-kan
setumpuk kotak karton persegi empat. "Per-mainan
kuno. Steeplechase—fcuda melewati rintangan. Jenis
permainan apa itu? Dan yang ini dinamakan Pah-
Cheesi. Aneh."
. Ia meniup debu di atas kotak itu dan langsung
mulai bersin-bersin. Bersinnya semakin keras. Ia
tidak berhenti bersiti sampai Valerie mengambil
permainan itu dan menjauhkannya darinya.
"Mungkin ada beberapa dari ini yang mahal nilai-
nya," kata Valerie menggebu-gebu. "Aku berani
taruhan permainan-permainan ini paling tidak ber-
umur seratus tahun."
"Ih." Bill mengelap hidungnya dengan tisu. "Bau-
nya seratus tahun. Aku benci bau lembap."
"Itu bukan bau permainan-permainan ini—tapi
kausmu!" kataku.
Julie dan Valerie tertawa. Bill bergegas maju dan
pura-pura mencekikku. Ia suka berkelahi dan me-
mukul orang-orang serta anak-anak di sekitamya.
Tapi aku jauh lebih kecil daripada dia, takkan
pernah seimbang kalau berkelahi.
Valerie sudah menghampiri sebuah lemari dinding.
"Wow. ltd luar biasa! Lihat!"
Kami semua berbalik untuk melihat harta karun yang
ditemukannya, sebuah kamera yang besar sekali.
"Kau mungkin bisa mendapatkan seratus dolar untuk
ini," katanya, mengangkat kamera itu ke mukanya,
menekan tombolnya. "Robb, sebaiknya ayahmu
menunjukkan barang ini pada orangtuaku. Bisa
dijual di toko barang antik mereka. Kau
mendapatkan keberuntungan di bawah sini!"Aku mengedarkan pandang ke sekeliling basement
ini. Setidaknya ada selusin lemari dinding dan gu-
dang, semuanya penuh dengan barang kuno. Dan ada
sebuah lemari yang terkunci dengan gembok berkarat
yang belum pernah kami buka.
Aku membungkuk di atas kotak besar yang se-
belumnya tempat menyimpan papan-papan per-mainan
kuno itu dan sekilas melihat sesuatu yang hitam di
dasarnya. Syal rua? Bukan. Topeng.
Aku mengambilnya, mengibas-ngibaskannya, dan
memasangnya di wajahku. "Lihat—aku Zorro!"
"Zorro? No way? seru Bill dari seberang ruangan.
"Kau mirip perampok bank."
Aku membetulkan letak topeng itu supaya dapat
melihat dengan jelas lewat lubang matanya—dan
tersentak kaget.
Teman-temanku! Di mana ketiga temanku? Mereka
lenyap.
Lewat topeng itu aku melihat empat anak lainnya.
Mereka duduk melingkar di lantai. Dua cewek dan
dua cowok, semuanya memakai pakaian kuno ber-wama
gelap.
Mereka sedang memainkan salah satu permainan itu.
Aku tidak dapat melihat wajah mereka dengan jelas.
Sosok mereka tersembunyi di balik cahaya terang
berkilauan.
Salah satu cowok memakai setelan hitam. Cowok di
seberangnya memakai kemeja putih berkerah kaku dan
celana wol cokelat yang panjangnya hanya sampai di
bawah lututnya. Sepatu kulitnya cokelat, besar,
dan berdetak. Bahunya turun dengan sedih.
Ketiga anak lainnya tampak gembira. Kedua cewek
itu berambut hitam yang diikat dan disanggul di
puncak kepala mereka. Yang satu memakai jumper
hitam panjang di atas blus putih tipis. Yang lainnya memakai rok berlipit-lipit abu-abu. Ia
tampaknya sedang menceritakan lelucon, sambil
melambai-lambaikan tangannya dan tertawa.
"Hei! Apa yang terjadi?" seruku. "Siapa kalian!"
Keempat anak kuno itu tidak membalikkan badan
ataupun mendongak. Aku tak bisa mendengar cerita
cewek itu. Cowok yang bersetelan hitam meraih dadu
di atas papan permainan itu.
"Hei!" aku kembali berteriak pada mereka. "Kalian
bisa mendengarku? Hei! Kalian bisa melihatku?"
Mereka tetap tidak berbalik. Hanya duduk di sana
dalam pakaian kuno kaku itu, bercakap-cakap dan
bermain.
Napasku sesak, jantungku berdegup kencang. Ku-
tanggalkan topeng itu dari wajahku.
"Tak mungkin!" teriakku.
"Robb, kau kenapa?" Bill bertanya. Ia mengguncang-
guncangkan bahuku. "Ada apa denganmu? Kau
oke?
Aku mengejap-ngejapkan mata beberapa kali. Dan
memandang ketiga temanku—Julie, Valerie, dan Bill,
kembali di basement, kembali dari mana pun mereka
menghilang.
"Kau cuma tertegun, lalu teriak-teriak," kata
Valerie. "Apa sih yang kaulihat tadi?"
Aku menelan hidah dengan susah payah. "Aku mencoba
pakai topeng ini," kataku pada Bill. "Baru saja
kulihat sesuatu... seram sekali."
"Apa kau melihat ke dalam cermin?" guraunya. Ia
menyodok perutku sangat keras, hingga aku
sempoyongan. Ia tidak pemah tahu kekuatannya
sendiri.
Ia mengerutkan kening melihat topeng itu. "Topeng
ini membuatku bersin."Kujejalkan topeng itu ke dalam tangannya. "Please.
Coba pakai ini."
Direntangkannya topeng kain itu dan dipasangnya ke
wajahnya. Kulihat matanya di balik kedua lubang
mata itu.
Ia memandang ke luar pada kami dari balik topeng
itu. "Hei—whoa!" serunya. "Siapa kalian? Bagaimana
kalian bisa ke sini?"
Aku berjongkok di samping Bill. "Kau melihat
ak-anak asing itu juga?" tanyaku. "Ya, kan?".
Bill tidak menjawab. Kukira ia tidak mendengarku.
Mulutnya menganga dan matanya membelalak di balik
topeng.
"Siapa kalian?" Bill bertanya lagi, sekarang ber-
teriak. "Siapa kalian? Jawab aku!"
Ia menarik lepas topeng itu. Mukanya merah par
dam. Ia menggeleng-geleng keras seolah mencoba
menjernihkan pikirannya.
Kuraih pundaknya. "Tadi kaulihat keempat anak itu?
Empat anak yang kelihatannya kuno?"
Bill mengangguk, mulutnya masih menganga. "Ya,"
sahutnya akhirnya. "Anak-anak yang kelihatannya
berasal dari abad lain. Aku—aku tak bisa melihat
muka mereka dengan jelas...."
Julie mengawasi kami dengan membisu, ekspresi-nya
serius, agak ngeri.
Valerie memutar bola matanya. "Dan kapan kalian
berdua merencanakan lelucon kecil ini?" tanyanya.
"Pikir kalian Julie dan aku akan bisa kalian
kibuli?"
"Tidak Ini... ini sungguhan," kata Bill. "Begitu
topeng itu kaupakai, kau akan melihat keempat anak
itu."
Valerie mendengus. "Ya. Tentu."Kusambar topeng itu dari tangan Bill dan kusodor-
kan ke kepala Valerie. "Ayo. Pakai ini."
Ia ragu-ragu, matanya yang hitam mengawasiku dari
balik kacamatanya.
"Ayo," desakku. "Kami nggak bercanda."
Valerie mencoba topeng itu. Lalu giliran Julie.
Mereka berdua melihat anak-anak yang sama dalam
oakaian kuno itu, sedang duduk dalam
Iingkaran di tempat kami duduk, ngobrol, bermain-
main.
Julie-mengembalikan topeng itu padaku. Kami saling
memandang. Tak ada yang bicara. Kuangkat topeng
itu ke dekat wajahku dan meng-amatinya,
membaliknya. Hanya topeng kain. Tak ada
isn'mewanya. Tak ada yang ganjil.
"Kau tahu apa yang kita lihat lewat topeng ini,
kan?" Julie bertanya dengan suara gemetar. "Kita
melihat anak-anak dari zaman dulu. Mungkin anak-
anak yang tinggal di basement ini seratus tahun
lalu."
Pesawat telepon hitam yang kuno itu berdering. Aku
memandanginya. Apakah kami menerima telepon dari
zaman dulu? Ternyata ibu JuHe, menyuruh Julie
pulang. Bill dan Valerie memutuskan pulang juga.
Aku mengantarkan teman-temanku itu naik ke pintu
depan, sambil masih memegang topeng itu erat-erat.
"Kau mau pakai topeng itu lagi?" tanya Bill sambil
berjalan ke pintu. Aku bergidik. "Nggak," sahutku.
"No way."
Tapi aku tak tahan godaan.
Setelah makan malam seharusnya aku mengerja-kan
PR, tapi aku malahan mengendap-endap turun
basement.Kukeluarkan topeng hitam itu dari tempat per-
sembunyiannya, laci bawah meja kabinet kuno. Lalu
aku duduk di ujung sofa.
Dadaku mulai berdegup kencang saat topeng itu
hipasang di mukaku.
Tiba-tiba aku melihat mereka. Keempat anaR itu.
Mereka duduk bersila di lantai, mengenakan pakaian
berat dan kaku, bermain papan permainan kuno.
"Hei! Kalian bisa mendengarku?" panggilku. "Ber-
baliklah!"
Mereka tetap bermain terus.
"Halo!" seruku. "Halo?"
Tak ada reaksi. Cowok pirang itu mengocok dadu
dalam tangannya, menggelindingkannya, dan meng-
gerakkan buahnya di papan permainan. Perhatian
mereka terpusat ke permainan itu.
Aku mengatupkan tanganku ke sekeliling mulutku dan
berteriak sekeras-kerasnya. "Hei! Dengarkan aku!
Kalian bisa—"
Aku berhenti l$etika kulihat ada seseorang lagi di
basement itu. Satu sosok tinggi berbayang-bayang
di belakang perapian.
Seorang laki-laki. Bersembunyi di balik perapian.
Apa yang sedang dilakukannya di sana? Apakah
keempat anak itu tahu ia sedang sembunyi di sana,
menguitip mereka, tetap berada di tempat gelap
itu?
Tidak. Mereka tidak mengangkat kepala dari
permainan mereka itu. "Hei! Lihat!" Aku berteriak,
suaraku serak karena
ngeri. "Ada orang di sana! Di belakang kalian!
Hei!"
Salah satu cewek itu menggelindingkan dadu, lalu
menjalankan buahnya di papan permainan.Aku mengerjap-ngerjapkan mata agar dapat me* lihat
laki-laki itu lebih baik. Ia sangat tua, badannya
tinggi dan kurus. Ia memakai overall kerja baggy
berwarna biru di atas kemeja lengan panjangnya
yang merah. Ia juga memakai kacamata tebal. Ke-
palanya botak, dengan hanya sejumput rambut uban
yang mencuat di telinganya.
Apa yang sedang dipegangnya? Apa itu?
•Kunci inggris?
Kunci inggris logam besar.
Apa yang akan dilakukannya dengan benda itu?
Apakah dia akan memukulkannya pada mereka?
Napasku memburu, kutekan kedua sisi wajahku. Aku
harus memperingatkan mereka!
Apa yang akan terjadi jika aku melintasi ruangan
dan mencoba menyentuh salah satti dari mereka?
Aku akan mencobanya.
Sebelum aku beranjak, terdengar bunyi gemuruh yang
memekakkan di telingaku. Seluruh ruangan bergetar
kencang sekali. Aku mencengkeram lengan sofa,
berjuang menjaga keseimbanganku.
Apa itu? Ledakan?
Kulihat keempat anak itu terbanting tertelentang.
Kudengar bunyi berderak. Bunyi kayu retak. Makin
keras. Makin keras...
"Nooooooo!" jerit salah satu cewek itu dengan
ketakutan.
"Tolong!" jerit yang satunya, berjuang untuk
beranjak duduk.
Bunyi berderak itu menyebar ke seluruh ruangan,
lalu terdengar bunyi krak keras sekali saat tiang
kayu di atas mereka patah.
Tiang berat itu jatuh menimpa mereka. Terpental
satu kali. Dua kali.Dan lalu seluruh langit-langit runtuh, kayu dan
lapisan langit-langit berguguran.
Menghancurkan mereka... menghancurkan mereka
semua... mengubur mereka.
"Noooooooooooo." Teritan mengerikan terlontar dari
dadaku.
Aku tak tahan melihatnya.
Kupejamkan mataku. Tanganku mencengkeram kedua
sisi topeng itu.
Akhirnya topeng itu kulepaskan dan kujatuhkan ke
lantai. Aku membungkuk dan memeluk tubuhku sendiri
erat-erat. Perutku bergolak. Aku berusaha keras
untuk tidak memuntahkan makan malamku.
Lama kemudian aku baru berani membuka mataku
kembali. Saat itu, basement itu tampaknya normal
lagi. Semuanya baik-baik saja. Tak ada anak-anak
yang mati. Tak ada tiang patah atau langit-langit
runtuh.
"Aku tahu kenapa kami melihat anak-anak itu,"
ucapku keras-keras, mencoba menarik kesimpulan
dari hal-hal mengerikan itu. "Seratus tahun lalu
semua anak itu mati di ruangan ini. Mereka tewas
hancur tertimpa di sini...."
Kupandangi topeng itu, yang teronggok di lantai.
Lalu aku berlari ke atas, kakiku rasanya selemas
agar-agar Jell-O.
Mom dan Dad sudah pergi berbelanja. Aku tak suka
ditinggal sendirian. Aku tak sanggup sendirian.
Aku hams menelepon Bill dan memberitahunya. Tapi
ketika aku mengangkat telepon, bel pintu ber-
bunyi.
Aku bergegas menuruni tangga ke pintu depan,
membukanya—dan menjerit. Laki-laki dari zaman dulu
itu. Laki-laki yang bersembunyi di basement, memegang kunci inggris, mengintai anak-anak mala
ng itu.
Laki-laki itu berasal dari seratus tahun lalu...
Ia sedang berdiri di teras depan rumahku!
"Maaf aku terlambat," katanya, sambil memandang-ku
lewat pintu luar.
"Hah? Terlambat? T-ti..." Aku tergagap-gagap.
"Tidak... tidak mungkin...."
Ia menggaruk sejumput ubannya dengan tangan-nya
yang bebas. "Apakah ayahmu ada di rumah? Aku
Calvin Reimer. Dia memanggilku untuk me-meriksa
perapian. Tapi aku sibuk terus dan baru sempat
sekarang."
Apa yang terjadi? tanyaku dalam hati. Aku
melihatnya lewat topeng itu, seratus tahun lalu.
Tapi ia kelihatan persis sekali!
Hantukah dia?
"Boleh aku masuk?" tanyanya. Ia mengangkat kotak
perkakas. "Aku ke sini untuk memperbaiki perapian
itu."
Aku membayangkannya lagi, bersembunyi di balik
perapian di sana, memegang kunci inggris.
Aku tak bisa membiarkannya masuk, pikirku. Dia
orang yang sama dengan yang kulihat lewat topeng
itu!
"Orangtuaku tak ada di rumah," kataku padanya.
Ia tidak memedulikanku dan membuka pintu depan. Ia
melewatiku masuk ke ruang tamu. "Tak apa-apa,"
katanya. "Aku tahu jalannya." Ia mulai melangkah
ke tangga basement.
Jantungku berdegup kencang. Aku membuntuti-nya.
"Apakah kau pernah ke sini dulu?" Suaraku
bergetar.
Ia mendecak. "Kau betul, Nak. Percaya tidak, sudah
hampir lima puluh tahun aku mengurusi rumah ini."Otakku berputar. Aku mengikutinya turun ke
basement. Ia membuka perapian dan langsung mulai
bekerja:
Aku berdiri mengawasinya, tanganku kuselipkan ke
dalam sakuku, mencoba tetap tenang, berusaha
memahami hal ini. Aku tetap membayangkan anak-
anak malang yang hancur tertimpa langit-langit
runtuh itu.
"Mr. Reimer, pernahkah... terjadi sesuatu yang
mengerikan di bawah sini?" tanyaku, suaraku serak.
Ia menatapku dari balik kacamatanya yang tebal.
"Semua orang memanggilku Cal," katanya. "Kenapa
kau menanyakan itu?"
Aku mengangkat bahu dan berusaha terdengar santai.
"Cuma kepingin tahu."
Cal menggigit bibir bawahnya. "Sebenarnya ada
tragedi mengerikan di ruangan ini, hampir lima
puluh tahun lalu terjadinya. Tapi kau umur berapa?
Sebelas? Dua belas? Kupikir kau tak ingin men-
dengarkannya."
"Ya!" sahutku, ketenanganku buyar. "Ceritakanlah!
Aku ingin mendengarnya."
Ia menggaruk ubannya dengan ujung obengnya. "Well,
waktu itu musim dingin. Keluarga Anderson—penghuni
rumah ini saat itu—masih punya perapian batu bara
yang kuno."
Ia menghela napas. "Mereka pindah dari sini
sesudah tragedi itu. Amelia, anak perempuan ketil
itu, berkeliaran di bawah sini. Tak ada orang yang
tahu bagaimana dia bisa terlepas dari pengawasan
pengasuhnya. Tapi dia sampai di bawah sini, pasti
dia lari-lari atau apa. Dan dia jatuh."
Cal berhenti dan mengerjap-ngerjapkan matanya
menatapku. "Kau yaMn ingin mendengarnya?" Aku mengangguk. "Ya. Teruskan. Teruskanlah." Ia
berdeham. "Well, singkat cerita, rupanya sese-
orang membiarkan pintu-pintu perapian terbuka.
Amelia jatuh ke dalam perapian, tepat ke atas
nyala batu bara. Ia terbakar. Terbakar hmgga ke
tulang-tulangnya. Mungkin tak lama. Tak ada yang
men-dengar jeritannya atau apa pun. Belakangan,
semua orang itu menemukan rangkanya yang sudah ha-
ngus."
Cal menggeleng-geleng. "Segera sesudah itu
keluarga Anderson pindah. Tapi beberapa orang
meng-anggap hantu Amelia itu masih tinggal di
sini. Mereka bilang hantu anak itu akan selalu
meng-hantui ruangan ini."
Aku menatap Cal dengan ternganga. Aku tak tahu
harus berkata apa. Kisah yang sangat mengerikan.
Tapi apa hubungannya dengan keempat anak yang
kulihat itu? Dan mengapa Cal kelihatan sama saja
dengan bertahun-tahun lalu?
"Semoga aku tak membuatmu ketakutan," kata Cal,
sambil membanting tutup kotak perkakasnya. "Itu
cuma cerita."
"Tak apa-apa," kataku. "Tapi... apa ada kejadian
mengerikan lainnya di bawah sini?"
Ia berpikir sejenak, lalu menggeleng. "Tidak. Se-
ingatku tak ada yang lainnya," Ia mengetuk-ngetuk
perapian. "Aku harus mengganti pipa di bawah sana
itu. Bilang pada ayahmu aku akan kembali besok"
Aku mengikutinya ke atas dan menutup pintu depan
setelah ia keluar. Kemudian aku bergegas menelepon
teman-temanku dan menceritakan semua peristiwa
itu.
Sore hari berikutnya kami berempat berkumpul di
ruang tamuku. Tidak seorang pun berminat turun ke
basement."Orang tua dari masa seratus tahun lalu itu ada di
rumahmu?" tanya Valerie, gemetar. "Kau mem-
biarkannya masuk?"
"Aku tak punya pilihan," jelasku. "Dia nyelonong
masuk begitu saja. Katanya dia datang untuk mem-
perbaiki perapian. Dia akan kembali hari ini."
"Kita tak bisa kembali ke bawah sana," kata Bill,
menunjuk ke pintu basement. "Kita harus menemu-kan
tempat main baru."
"Kita harus ke bawah sana," aku mendesak. "Ku-
pikir mereka butuh pertolongan kita. Jika kita
entah bagaimana bisa memperingatkan mereka tentang
langit-langit itu, mereka tak perlu mad dengan
cara mengerikan begitu."
"Tapi, Robb—mereka tak bisa melihat atau men-
dengar kita!" protes Julie. "Jadi bagaimana kita
bisa memperingatkan mereka?"
"Pasti ada caranya," aku bersikeras. "Kita harus
menemukan cara untuk berkomunikasi dengan mereka."
Aku bangkit berdiri. "Come on. Kita bisa
menyelamatkan mereka. Aku tahu kita bisa."
Aku nyaris harus memaksa teman-tetnanku turun,
Ketika sampai di bawah, kami betempat berhenti.
Dan memasang telinga.
Aku mendengar bunyi srek srek srek pelan dan lirih
dari sudut yang jauh. Langkah kaki? Srefc srek...
Sekarang makin keras.
"Hantu anak perempuan kecil itu!" pekik Valerie.
"Oh, nor Napasku tersekat di tenggorokanku. Aku
melangkah menuju ke bunyi itu....
Dan kulihat Cal menongolkan kepalanya dari balik
perapian. Ia mengencangkan sambungan pipa dengan
kunci inggris. Bunyi srek srek itu berasal dari
kunci inggris yang sedang diputar. "Semoga aku tak
mengagetkan kalian," katanya.Ia meletakkan kunci inggris itu dan melintasi
raangan mendekati kami. Ia mengenakan pakaian yang
sama dengan malam sebelumnya, overall denim baggy
dan kemeja merah.
Bagaimana dia bisa sampai di bawah sini? Aku,
heran, merinding ngeri. Bagaimana dia masuk rumah
ini?
"Aku harus pergi membeli klep," katanya padaku,
sambil mengerutkan kening. "Aku akan kembali kira-
kira sejam lagi."
Ia memberi isyarat padaku agar menglkutinya ke
tangga. "Aku merasa tak enak gara-gara tadi
malam," bisiknya. "Cerita tentang anak perempuan
itu cuma karanganku. Habis kau kelihatan kepingin
sekali mendengar cerita seram, jadi—"
"Karanganmu?" seruku.
Ia mengangguk. "Memang salah satu hobiku ada-
Iah mengarang cerita. Aku suka sekali mendongeng.
Mungkin suatu hari rianti aku akan memasukkanmu ke
cerita seram." Ia mengedip padaku.
Aku mengawasinya menghilang ke atas. Aku me-rasa
lebih bingung daripada sebelumnya. Benarkah ia
hanya mengarang cerita itu? Aku berbalik ke teman-
temanku.
Bill mengulurkan topeng hitam itu padaku. "Apa
yang akan kita lakukan?" tanyanya.
"Mencoba berhubungan dengan anak-anak itu entah
bagaimana caranya," jawabku. "Mencoba
memperingatkan mereka."
Kupasang topeng itu ke wajahku dan kubetulkan
letak lubangnya tepat di atas mataku Yes! Itu dia
mereka. Keempat anak kuno itu, duduk di lantai,
merrgitari papan permainan itu.
"Siapa nama kalian?" teriakku. "Halo? Bisakah
kalian mendengarku? Siapa nama kalian?"Kalau saja aku bisa melihat wajah mereka. Tapi
sosok mereka samar-samar, tersembunyi di balik
sinar lampu yang suram.
"Siapa nama kalian? Bisakah kalian mendengarku?"
Tak ada sahutan. Mereka terus menggelindingkan
dadu, menjalankan buah masing-masing.
Masih sambil memanggil-manggil mereka, aku ber-
jalan melintasi ruangan. Kuulurkan tanganku. Ku-
coba menyentuh bahu salah satu cowok.
Tanganku melewatinya.
Ia tidak bereaksi.
Kucoba menarik rambut salah satu cewek itu.
Tak ada apa-apa. Aku tak bisa memegang rambut-nya,
bahkan tak bisa merasakannya.
Kulepaskan topeng itu dengan jengkel. "Aku tak
berhasil menyentuh mereka," kataku pada teman-
temanku.
"Sini. Coba ini," kata Julie. Ia menyodorkan
secarik kertas ke tanganku. "Kutulis pesan buat
mereka. Kusuruh mereka segera keluar dari basement
ini."
Kuulurkan topeng itu pada Julie. "Kau saja yang
coba memberikan pesan itu pada mereka."
Ia ragu-ragu, lalu memakai topeng itu. Valerie,
Bill, dan aku memperhatikan Julie melintasi
ruangan. Kami mengawasinya mencoba berkali-kali
menyam-paikan catatan pesan itu. Tetapi kertas itu
tetap berada di tangannya.
Akhirnya ia melepaskan topeng itu dan me-
lemparkannya padaku. "No way," katanya. "Mereka
tak bisa melihatnya."
"Mereka semua akan mati!" keluh Valerie.
"Mengerikan!"
"Pasti ada cara untuk berkomunikasi dengan
mereka," aku ngotot. "Semacam cara rahasia. Ruangan ini menyimpan rahasia-rahasia. Aku tahu.
Cara rahasia untuk menghubungi anak-anak itu
dan..."
Kupikir kami berempat memandang lemari dinding
yang tergembok itu bersamaan.
Rahasia... lemari dinding rahasia itu... satu-
satunya lemari di ruangan ini yang tergembok.
"Kita harus membukanya," kata Valerie. "Berani
Taruhan kita akan menemukan apa yang kita can di
situ."
"Tunggu," kataku. "Perasaanku tak enak tentang
ini. Mungkin sebaiknya lata tak membuka lemari
itu. Mungkin lemari itu digembok demi kebaikan."
Tapi terlambat. Mereka sudah sampai di muka lemari
dinding itu, menarik-narik gemboknya yang
berkarat.
"Please, guys? aku memohon. "Ini sangat mengeri-
kan. Kupikir sebaiknya kita tak membuka..."
Dengan mengerahkan tenaganya, Bill menyentak-kan
gembok tua itu hingga membuka. Dilepaskan-nya
gembok itu dari gerendel dan dilemparkannya ke
lantai.
Valerie mengerutkan kening padaku. "Mungkin
sebaiknya lata melihat apa yang ada di dalamnya,
Robb," katanya pelan.
Ia memutar pegangan pintu lemari itu. Pintu tua
yang berat itu berderak saat ia mendorongnya
membuka.
Lampu lemari dinding itu menyala. Kami berempat
menyusup memasukinya. Dan tersentak kaget sekali.
"Pakaian-pakaian kuno!" seru Julie, mengangkat se-
buah blus berkerah renda yang sudah lusuh. "Ber-
uk-tumpuk."
Bill bersin. "Lihat sepatu-sepatu ini." Ia
mengangkat sepasang sepatu hitam berujung tinggi. Se-patu itu memakai kancing, bukannya tali. Bill
me-niup debu yang menempel dan bersin lagi.
Julie memegang sebuah jumper korduroi hitam di
depannya. "Wow. Sangat mengagumkan, hah? Ini
seperti pakaian yang dikenakan anak-anak itu."
Aku gemetar. "Menurutku sebaiknya kita tak me-
nyentuh benda-benda ini."
Tetapi Julie sudah mengandngkan blus berenda itu
di atas T-shirt-nya. Dan Bill sedang mengagumi
jaket hitam dengan kelepak lebar.
"Stop!" seruku. "Menurutku barang-barang ini ke-
punyaan anak-anak yang sudah mati itu."
"Ya! Itu betul!" kata Julie, sambil melicinkan
bahan yang berat itu dengan tangannya. "Inilah
yang mereka kenakan!"
"Jadi kita harus memakainya," desak Valerie. "Kau
tak mengerti ya, Robb? Mungkin inilah rahasia yang
kita cari. Mungkin jika memakai pakaian ini, kita
bisa berkomunikasi dengan mereka."
"Ya, betul!" Bill setuju. "Mungkin mereka akan
bisa mendengar kita dan bicara dengan kita kalau
kita mengenakan pakaian mereka."
Aku tak yakin ini akan berhasil, tapi aku meng-
ikuti jejak teman-temanku itu. Kupakai kemeja yang
bikin gatal dengan kerah putih kaku dan celana wd
baggy yang panjangnya hanya sampai bawah lututku.
Kami semua saling mengagumi selama beberapa
merit. Valerie dan Julie kelihatan agak aneh
dengan rambut yang disisir ke atas dan disanggul.
Kami mengeluh betapa tidak nyamannya semua pakaian
itu dan betapa tersiksanya anak-anak zaman dulu.
"Ayo kita coba topeng itu," Valerie mengusulkan.
"Ayo kita lihat apakah kita bisa menghubungi anak-
anak itu.""Tidak, tunggu," sela Julie. "Kita harus
melakukan-nya dengan benar. Kita memerlukan satu
hal lagi."
Ia menemukan papan permainan rua itu dalam pen'
kayu dan menggelar Pah-Cheesi itu di lantai. "Oke,
duduklah, semuanya," katanya. "Come on. Ayo kita
mainkan permainan ini. Persis seperti keempat anak
dari zaman dulu itu."
Dengan patuh kami duduk di lantai dan me-
ngelilingi papan permainan itu. "Semoga ini ber-
hasil," kataku. "Semoga kita bisa menghubungi
mereka sekarang."
Setelah kami bermain beberapa menit, aku meng-
ambil topeng hitam itu dan mulai memakainya, tapi
aku berhenti ketika mendengar langkah-langkah
berat menuruni tangga. Langkah-langkah tetap dan
pelan-pelan yang cukup berat untuk membuat tangga
berderak.
Kami semua berpaling dan melihat Cal. "Main-main
dengan pakaian?" katanya. "Kalian semua kelihatan
sangat anggun. Teruskan saja, jangan ter-ganggu
olehku."
Ia menghilahg ke balik perapian dan mulai me-
ngerjakan pipa-pipa dengan kunci inggrisnya.
Sekarang ini sempurna, aku menyadari. Dengan Cal
kembali ke sana, kami telah menciptakan pe-
mandangan yang persis sama. Tapi bisakah kami
bicara pada anak-anak malang itu? Bisakah kami
memperingatkan mereka?
Topeng hitam itu kuraih kembali.
Tapi aku tak pernah sempat mengenakannya.
"Awas!" teriak Cal dari belakang kami. "Perapian-
nya akan meledak\"Ledakan itu mengempaskan kami semua hingga
tertelentang. Napasku tersengal-sengal. Rasa nyeri
menjalari sekujur tubuhku.
Kudengar bunyi kraaaak keras di atas kepalaku.
Aku mendongak tepat pada saat tiang langit-langit
patah... patah menjadi dua....
Sekarang kami berempat menjerit.
Menjerit... menjerit... saat tiang itu jatuh dan
langit-langit mulai*runtuh.
Dan dalam dua detik terakhir itu, dalam saat yang
paling mengerikan dalam hidupku itu, aku menyadari
rasa takut mengalami hal ini.
Aku menyadari kebenaran tentang topeng hitam itu.
Kami salah. Kami sangat salah. Anak-anak itu
adalah kami sendiri! Topeng itu tidak pernah
menunjukkan pada kami masa lalu—melainkan
menunjukkan pada kami masa
depan.
mau terpicdng dan memandangi langtt-langit
Jantungmu berdegup-degup kencang. Tangantnu dingin
dan kaku. Dengan bergidik kau turun dari tempat
tidur. Kau mulai mondar-mandir. Pikiran-mu
berputar-putat
Aku sering sekali mengalami hal seperri itu. Kalau
kau?
Kau tahu sesuatu yang mengerikan akan terjadi. Kau
tak hanya merasakannya—kau dapat melihat-nya dalam
benakmu. Kau harus melakukan sesuatu. Tapi apa?
Waktumu sangat sedikit. Dan tidak ada orang yang
bisa kauajak bicara. Tak ada bantuan yang bisa diharapkan. Kau tak punya kekuatan. Kau
ketakutan.... Bagus.
Tahan perasaan itu. Kau sudah siap untuk mem-baca
kisah ini. Kau sudah siap memakai Topeng
Hitam,.
ILUSTRASI OLEH MARK SUMMERS
SEtELAH keluargaku pindah ke rumah baru kami,
teman-temanku mulai suka kumpul-kumpul di
basement. Tempat itu besar, be rantakan karena
banyak tumpukan barang-barang peninggalan pemilik
rumah sebe-lumnya. Tetapi Dad sudah membuat salah
satu sudut tempat itu menjadi seperti ruai%an
rekreasi.
Kami meletakkan meja pingpong di bawah sana,
kulkas kecil yang berisi soda, dan TV yang ku-
hubungkan dengan video game vlayer-hi.
Hampir setiap sore Bill, Julie, Valerie, dan aku
berada di sana.
Bill berbadan besar, berambut pkang, dan ber-wajah
bintik-bintik. Ia berlanh di gym Dad.
Ia suka pamer betapa kuat dirinya. Tapi cowok
malang itu alergi terhadap banyak hal. Ia mulai
bersin-bersin ketika kami turun.
Julie dan Valerie hampir mirip saudara. Keduanya
tinggi dan kurus, berambut cokelat pendek, dan
bermata cokelat. Valeri memakai kacamata, sedang-
kan Julie tidak
Itu bukan satu-satunya perbedaan mereka. Julie
pemalu, suaranya lirih berbisik-bisik Ia adalah
otak kelompok ini. Ia selalu membawa buku atau
maja-lah.
Valerie tidak pernah dapat duduk anteng cukup lama
untuk membaca buku. Ia selalu bicara dan tertawa,
selalu merancang rencana, selalu mengaju-kan pada kami rencana gila untuk menghasilkan berton-ton
uang.
Aku? Aku adalah si cebol dalam kelompok, satu-
satunya yang bertubuh pendek. Rambutku cokelat
yang dipangkas cepak; mukaku tirus, serius, dan
muram. Orang-orang selalu menyuruhku gembira,
bahkan ketika aku sedang senang.
Bill dan aku menghabiskan sebagian besar waktu
kami di basement dengan bermain video game. Julie
suka membaca-baca di antara tumpukan-tumpukan buku
tua dan majalah-majalah yang bertimbun di mana-
mana.
Valerie suka menelepon teman-temannya memakai
pesawat telepon hitam kuno di.samping sofa dan
menyusun rencana. Lucu. Valerie menghabiskan waktu
begitu banyak menyusun rencana, tapi tidak pernah
sempat mewujudkannya satu pun.
Kalau sudah bosan, kami menjelajahi gudang-gudang
dan lemari-lemari dinding. Kau akan ter-cengang
pada barang-barang hebat yang kami temu-kan.Suatu
sore kami membongkar-bongkar setumpuk menu
restoran kuno.
"Robb, apa yang akan dilakukan ayahmu dengan
gundukan-gundukan rongsokan ini?" Valerie ber-
tanya.
"Dad ingin memilah-milah semuanya," kataku
padanya. "Dia ingin melihat-lihat kalau-kalau ada
yang berguna. Tapi akan butuh waktu lama. Umur
rumah ini lebih dari seratus tahun. Dan kupikir
orang-orang yang tinggal di sini aneh. Mereka tak
pernah membuang apa pun"
Di sofa di belakang kami, Julie sedang membaca-
baca di antara tumpukan majalah film yang sudah
menguning. "Ini sangat kuno," katanya. "Siapa orang-orang ini? George Brent? Robert Taylor? Se-
perti membaca buku sejarah saja."
"Hei—lihat ini!" teriak Bill.
Ia membungkuk di atas peti kayu dan menyodor-kan
setumpuk kotak karton persegi empat. "Per-mainan
kuno. Steeplechase—fcuda melewati rintangan. Jenis
permainan apa itu? Dan yang ini dinamakan Pah-
Cheesi. Aneh."
. Ia meniup debu di atas kotak itu dan langsung
mulai bersin-bersin. Bersinnya semakin keras. Ia
tidak berhenti bersiti sampai Valerie mengambil
permainan itu dan menjauhkannya darinya.
"Mungkin ada beberapa dari ini yang mahal nilai-
nya," kata Valerie menggebu-gebu. "Aku berani
taruhan permainan-permainan ini paling tidak ber-
umur seratus tahun."
"Ih." Bill mengelap hidungnya dengan tisu. "Bau-
nya seratus tahun. Aku benci bau lembap."
"Itu bukan bau permainan-permainan ini—tapi
kausmu!" kataku.
Julie dan Valerie tertawa. Bill bergegas maju dan
pura-pura mencekikku. Ia suka berkelahi dan me-
mukul orang-orang serta anak-anak di sekitamya.
Tapi aku jauh lebih kecil daripada dia, takkan
pernah seimbang kalau berkelahi.
Valerie sudah menghampiri sebuah lemari dinding.
"Wow. ltd luar biasa! Lihat!"
Kami semua berbalik untuk melihat harta karun yang
ditemukannya, sebuah kamera yang besar sekali.
"Kau mungkin bisa mendapatkan seratus dolar untuk
ini," katanya, mengangkat kamera itu ke mukanya,
menekan tombolnya. "Robb, sebaiknya ayahmu
menunjukkan barang ini pada orangtuaku. Bisa
dijual di toko barang antik mereka. Kau
mendapatkan keberuntungan di bawah sini!"Aku mengedarkan pandang ke sekeliling basement
ini. Setidaknya ada selusin lemari dinding dan gu-
dang, semuanya penuh dengan barang kuno. Dan ada
sebuah lemari yang terkunci dengan gembok berkarat
yang belum pernah kami buka.
Aku membungkuk di atas kotak besar yang se-
belumnya tempat menyimpan papan-papan per-mainan
kuno itu dan sekilas melihat sesuatu yang hitam di
dasarnya. Syal rua? Bukan. Topeng.
Aku mengambilnya, mengibas-ngibaskannya, dan
memasangnya di wajahku. "Lihat—aku Zorro!"
"Zorro? No way? seru Bill dari seberang ruangan.
"Kau mirip perampok bank."
Aku membetulkan letak topeng itu supaya dapat
melihat dengan jelas lewat lubang matanya—dan
tersentak kaget.
Teman-temanku! Di mana ketiga temanku? Mereka
lenyap.
Lewat topeng itu aku melihat empat anak lainnya.
Mereka duduk melingkar di lantai. Dua cewek dan
dua cowok, semuanya memakai pakaian kuno ber-wama
gelap.
Mereka sedang memainkan salah satu permainan itu.
Aku tidak dapat melihat wajah mereka dengan jelas.
Sosok mereka tersembunyi di balik cahaya terang
berkilauan.
Salah satu cowok memakai setelan hitam. Cowok di
seberangnya memakai kemeja putih berkerah kaku dan
celana wol cokelat yang panjangnya hanya sampai di
bawah lututnya. Sepatu kulitnya cokelat, besar,
dan berdetak. Bahunya turun dengan sedih.
Ketiga anak lainnya tampak gembira. Kedua cewek
itu berambut hitam yang diikat dan disanggul di
puncak kepala mereka. Yang satu memakai jumper
hitam panjang di atas blus putih tipis. Yang lainnya memakai rok berlipit-lipit abu-abu. Ia
tampaknya sedang menceritakan lelucon, sambil
melambai-lambaikan tangannya dan tertawa.
"Hei! Apa yang terjadi?" seruku. "Siapa kalian!"
Keempat anak kuno itu tidak membalikkan badan
ataupun mendongak. Aku tak bisa mendengar cerita
cewek itu. Cowok yang bersetelan hitam meraih dadu
di atas papan permainan itu.
"Hei!" aku kembali berteriak pada mereka. "Kalian
bisa mendengarku? Hei! Kalian bisa melihatku?"
Mereka tetap tidak berbalik. Hanya duduk di sana
dalam pakaian kuno kaku itu, bercakap-cakap dan
bermain.
Napasku sesak, jantungku berdegup kencang. Ku-
tanggalkan topeng itu dari wajahku.
"Tak mungkin!" teriakku.
"Robb, kau kenapa?" Bill bertanya. Ia mengguncang-
guncangkan bahuku. "Ada apa denganmu? Kau
oke?
Aku mengejap-ngejapkan mata beberapa kali. Dan
memandang ketiga temanku—Julie, Valerie, dan Bill,
kembali di basement, kembali dari mana pun mereka
menghilang.
"Kau cuma tertegun, lalu teriak-teriak," kata
Valerie. "Apa sih yang kaulihat tadi?"
Aku menelan hidah dengan susah payah. "Aku mencoba
pakai topeng ini," kataku pada Bill. "Baru saja
kulihat sesuatu... seram sekali."
"Apa kau melihat ke dalam cermin?" guraunya. Ia
menyodok perutku sangat keras, hingga aku
sempoyongan. Ia tidak pemah tahu kekuatannya
sendiri.
Ia mengerutkan kening melihat topeng itu. "Topeng
ini membuatku bersin."Kujejalkan topeng itu ke dalam tangannya. "Please.
Coba pakai ini."
Direntangkannya topeng kain itu dan dipasangnya ke
wajahnya. Kulihat matanya di balik kedua lubang
mata itu.
Ia memandang ke luar pada kami dari balik topeng
itu. "Hei—whoa!" serunya. "Siapa kalian? Bagaimana
kalian bisa ke sini?"
Aku berjongkok di samping Bill. "Kau melihat
ak-anak asing itu juga?" tanyaku. "Ya, kan?".
Bill tidak menjawab. Kukira ia tidak mendengarku.
Mulutnya menganga dan matanya membelalak di balik
topeng.
"Siapa kalian?" Bill bertanya lagi, sekarang ber-
teriak. "Siapa kalian? Jawab aku!"
Ia menarik lepas topeng itu. Mukanya merah par
dam. Ia menggeleng-geleng keras seolah mencoba
menjernihkan pikirannya.
Kuraih pundaknya. "Tadi kaulihat keempat anak itu?
Empat anak yang kelihatannya kuno?"
Bill mengangguk, mulutnya masih menganga. "Ya,"
sahutnya akhirnya. "Anak-anak yang kelihatannya
berasal dari abad lain. Aku—aku tak bisa melihat
muka mereka dengan jelas...."
Julie mengawasi kami dengan membisu, ekspresi-nya
serius, agak ngeri.
Valerie memutar bola matanya. "Dan kapan kalian
berdua merencanakan lelucon kecil ini?" tanyanya.
"Pikir kalian Julie dan aku akan bisa kalian
kibuli?"
"Tidak Ini... ini sungguhan," kata Bill. "Begitu
topeng itu kaupakai, kau akan melihat keempat anak
itu."
Valerie mendengus. "Ya. Tentu."Kusambar topeng itu dari tangan Bill dan kusodor-
kan ke kepala Valerie. "Ayo. Pakai ini."
Ia ragu-ragu, matanya yang hitam mengawasiku dari
balik kacamatanya.
"Ayo," desakku. "Kami nggak bercanda."
Valerie mencoba topeng itu. Lalu giliran Julie.
Mereka berdua melihat anak-anak yang sama dalam
oakaian kuno itu, sedang duduk dalam
Iingkaran di tempat kami duduk, ngobrol, bermain-
main.
Julie-mengembalikan topeng itu padaku. Kami saling
memandang. Tak ada yang bicara. Kuangkat topeng
itu ke dekat wajahku dan meng-amatinya,
membaliknya. Hanya topeng kain. Tak ada
isn'mewanya. Tak ada yang ganjil.
"Kau tahu apa yang kita lihat lewat topeng ini,
kan?" Julie bertanya dengan suara gemetar. "Kita
melihat anak-anak dari zaman dulu. Mungkin anak-
anak yang tinggal di basement ini seratus tahun
lalu."
Pesawat telepon hitam yang kuno itu berdering. Aku
memandanginya. Apakah kami menerima telepon dari
zaman dulu? Ternyata ibu JuHe, menyuruh Julie
pulang. Bill dan Valerie memutuskan pulang juga.
Aku mengantarkan teman-temanku itu naik ke pintu
depan, sambil masih memegang topeng itu erat-erat.
"Kau mau pakai topeng itu lagi?" tanya Bill sambil
berjalan ke pintu. Aku bergidik. "Nggak," sahutku.
"No way."
Tapi aku tak tahan godaan.
Setelah makan malam seharusnya aku mengerja-kan
PR, tapi aku malahan mengendap-endap turun
basement.Kukeluarkan topeng hitam itu dari tempat per-
sembunyiannya, laci bawah meja kabinet kuno. Lalu
aku duduk di ujung sofa.
Dadaku mulai berdegup kencang saat topeng itu
hipasang di mukaku.
Tiba-tiba aku melihat mereka. Keempat anaR itu.
Mereka duduk bersila di lantai, mengenakan pakaian
berat dan kaku, bermain papan permainan kuno.
"Hei! Kalian bisa mendengarku?" panggilku. "Ber-
baliklah!"
Mereka tetap bermain terus.
"Halo!" seruku. "Halo?"
Tak ada reaksi. Cowok pirang itu mengocok dadu
dalam tangannya, menggelindingkannya, dan meng-
gerakkan buahnya di papan permainan. Perhatian
mereka terpusat ke permainan itu.
Aku mengatupkan tanganku ke sekeliling mulutku dan
berteriak sekeras-kerasnya. "Hei! Dengarkan aku!
Kalian bisa—"
Aku berhenti l$etika kulihat ada seseorang lagi di
basement itu. Satu sosok tinggi berbayang-bayang
di belakang perapian.
Seorang laki-laki. Bersembunyi di balik perapian.
Apa yang sedang dilakukannya di sana? Apakah
keempat anak itu tahu ia sedang sembunyi di sana,
menguitip mereka, tetap berada di tempat gelap
itu?
Tidak. Mereka tidak mengangkat kepala dari
permainan mereka itu. "Hei! Lihat!" Aku berteriak,
suaraku serak karena
ngeri. "Ada orang di sana! Di belakang kalian!
Hei!"
Salah satu cewek itu menggelindingkan dadu, lalu
menjalankan buahnya di papan permainan.Aku mengerjap-ngerjapkan mata agar dapat me* lihat
laki-laki itu lebih baik. Ia sangat tua, badannya
tinggi dan kurus. Ia memakai overall kerja baggy
berwarna biru di atas kemeja lengan panjangnya
yang merah. Ia juga memakai kacamata tebal. Ke-
palanya botak, dengan hanya sejumput rambut uban
yang mencuat di telinganya.
Apa yang sedang dipegangnya? Apa itu?
•Kunci inggris?
Kunci inggris logam besar.
Apa yang akan dilakukannya dengan benda itu?
Apakah dia akan memukulkannya pada mereka?
Napasku memburu, kutekan kedua sisi wajahku. Aku
harus memperingatkan mereka!
Apa yang akan terjadi jika aku melintasi ruangan
dan mencoba menyentuh salah satti dari mereka?
Aku akan mencobanya.
Sebelum aku beranjak, terdengar bunyi gemuruh yang
memekakkan di telingaku. Seluruh ruangan bergetar
kencang sekali. Aku mencengkeram lengan sofa,
berjuang menjaga keseimbanganku.
Apa itu? Ledakan?
Kulihat keempat anak itu terbanting tertelentang.
Kudengar bunyi berderak. Bunyi kayu retak. Makin
keras. Makin keras...
"Nooooooo!" jerit salah satu cewek itu dengan
ketakutan.
"Tolong!" jerit yang satunya, berjuang untuk
beranjak duduk.
Bunyi berderak itu menyebar ke seluruh ruangan,
lalu terdengar bunyi krak keras sekali saat tiang
kayu di atas mereka patah.
Tiang berat itu jatuh menimpa mereka. Terpental
satu kali. Dua kali.Dan lalu seluruh langit-langit runtuh, kayu dan
lapisan langit-langit berguguran.
Menghancurkan mereka... menghancurkan mereka
semua... mengubur mereka.
"Noooooooooooo." Teritan mengerikan terlontar dari
dadaku.
Aku tak tahan melihatnya.
Kupejamkan mataku. Tanganku mencengkeram kedua
sisi topeng itu.
Akhirnya topeng itu kulepaskan dan kujatuhkan ke
lantai. Aku membungkuk dan memeluk tubuhku sendiri
erat-erat. Perutku bergolak. Aku berusaha keras
untuk tidak memuntahkan makan malamku.
Lama kemudian aku baru berani membuka mataku
kembali. Saat itu, basement itu tampaknya normal
lagi. Semuanya baik-baik saja. Tak ada anak-anak
yang mati. Tak ada tiang patah atau langit-langit
runtuh.
"Aku tahu kenapa kami melihat anak-anak itu,"
ucapku keras-keras, mencoba menarik kesimpulan
dari hal-hal mengerikan itu. "Seratus tahun lalu
semua anak itu mati di ruangan ini. Mereka tewas
hancur tertimpa di sini...."
Kupandangi topeng itu, yang teronggok di lantai.
Lalu aku berlari ke atas, kakiku rasanya selemas
agar-agar Jell-O.
Mom dan Dad sudah pergi berbelanja. Aku tak suka
ditinggal sendirian. Aku tak sanggup sendirian.
Aku hams menelepon Bill dan memberitahunya. Tapi
ketika aku mengangkat telepon, bel pintu ber-
bunyi.
Aku bergegas menuruni tangga ke pintu depan,
membukanya—dan menjerit. Laki-laki dari zaman dulu
itu. Laki-laki yang bersembunyi di basement, memegang kunci inggris, mengintai anak-anak mala
ng itu.
Laki-laki itu berasal dari seratus tahun lalu...
Ia sedang berdiri di teras depan rumahku!
"Maaf aku terlambat," katanya, sambil memandang-ku
lewat pintu luar.
"Hah? Terlambat? T-ti..." Aku tergagap-gagap.
"Tidak... tidak mungkin...."
Ia menggaruk sejumput ubannya dengan tangan-nya
yang bebas. "Apakah ayahmu ada di rumah? Aku
Calvin Reimer. Dia memanggilku untuk me-meriksa
perapian. Tapi aku sibuk terus dan baru sempat
sekarang."
Apa yang terjadi? tanyaku dalam hati. Aku
melihatnya lewat topeng itu, seratus tahun lalu.
Tapi ia kelihatan persis sekali!
Hantukah dia?
"Boleh aku masuk?" tanyanya. Ia mengangkat kotak
perkakas. "Aku ke sini untuk memperbaiki perapian
itu."
Aku membayangkannya lagi, bersembunyi di balik
perapian di sana, memegang kunci inggris.
Aku tak bisa membiarkannya masuk, pikirku. Dia
orang yang sama dengan yang kulihat lewat topeng
itu!
"Orangtuaku tak ada di rumah," kataku padanya.
Ia tidak memedulikanku dan membuka pintu depan. Ia
melewatiku masuk ke ruang tamu. "Tak apa-apa,"
katanya. "Aku tahu jalannya." Ia mulai melangkah
ke tangga basement.
Jantungku berdegup kencang. Aku membuntuti-nya.
"Apakah kau pernah ke sini dulu?" Suaraku
bergetar.
Ia mendecak. "Kau betul, Nak. Percaya tidak, sudah
hampir lima puluh tahun aku mengurusi rumah ini."Otakku berputar. Aku mengikutinya turun ke
basement. Ia membuka perapian dan langsung mulai
bekerja:
Aku berdiri mengawasinya, tanganku kuselipkan ke
dalam sakuku, mencoba tetap tenang, berusaha
memahami hal ini. Aku tetap membayangkan anak-
anak malang yang hancur tertimpa langit-langit
runtuh itu.
"Mr. Reimer, pernahkah... terjadi sesuatu yang
mengerikan di bawah sini?" tanyaku, suaraku serak.
Ia menatapku dari balik kacamatanya yang tebal.
"Semua orang memanggilku Cal," katanya. "Kenapa
kau menanyakan itu?"
Aku mengangkat bahu dan berusaha terdengar santai.
"Cuma kepingin tahu."
Cal menggigit bibir bawahnya. "Sebenarnya ada
tragedi mengerikan di ruangan ini, hampir lima
puluh tahun lalu terjadinya. Tapi kau umur berapa?
Sebelas? Dua belas? Kupikir kau tak ingin men-
dengarkannya."
"Ya!" sahutku, ketenanganku buyar. "Ceritakanlah!
Aku ingin mendengarnya."
Ia menggaruk ubannya dengan ujung obengnya. "Well,
waktu itu musim dingin. Keluarga Anderson—penghuni
rumah ini saat itu—masih punya perapian batu bara
yang kuno."
Ia menghela napas. "Mereka pindah dari sini
sesudah tragedi itu. Amelia, anak perempuan ketil
itu, berkeliaran di bawah sini. Tak ada orang yang
tahu bagaimana dia bisa terlepas dari pengawasan
pengasuhnya. Tapi dia sampai di bawah sini, pasti
dia lari-lari atau apa. Dan dia jatuh."
Cal berhenti dan mengerjap-ngerjapkan matanya
menatapku. "Kau yaMn ingin mendengarnya?" Aku mengangguk. "Ya. Teruskan. Teruskanlah." Ia
berdeham. "Well, singkat cerita, rupanya sese-
orang membiarkan pintu-pintu perapian terbuka.
Amelia jatuh ke dalam perapian, tepat ke atas
nyala batu bara. Ia terbakar. Terbakar hmgga ke
tulang-tulangnya. Mungkin tak lama. Tak ada yang
men-dengar jeritannya atau apa pun. Belakangan,
semua orang itu menemukan rangkanya yang sudah ha-
ngus."
Cal menggeleng-geleng. "Segera sesudah itu
keluarga Anderson pindah. Tapi beberapa orang
meng-anggap hantu Amelia itu masih tinggal di
sini. Mereka bilang hantu anak itu akan selalu
meng-hantui ruangan ini."
Aku menatap Cal dengan ternganga. Aku tak tahu
harus berkata apa. Kisah yang sangat mengerikan.
Tapi apa hubungannya dengan keempat anak yang
kulihat itu? Dan mengapa Cal kelihatan sama saja
dengan bertahun-tahun lalu?
"Semoga aku tak membuatmu ketakutan," kata Cal,
sambil membanting tutup kotak perkakasnya. "Itu
cuma cerita."
"Tak apa-apa," kataku. "Tapi... apa ada kejadian
mengerikan lainnya di bawah sini?"
Ia berpikir sejenak, lalu menggeleng. "Tidak. Se-
ingatku tak ada yang lainnya," Ia mengetuk-ngetuk
perapian. "Aku harus mengganti pipa di bawah sana
itu. Bilang pada ayahmu aku akan kembali besok"
Aku mengikutinya ke atas dan menutup pintu depan
setelah ia keluar. Kemudian aku bergegas menelepon
teman-temanku dan menceritakan semua peristiwa
itu.
Sore hari berikutnya kami berempat berkumpul di
ruang tamuku. Tidak seorang pun berminat turun ke
basement."Orang tua dari masa seratus tahun lalu itu ada di
rumahmu?" tanya Valerie, gemetar. "Kau mem-
biarkannya masuk?"
"Aku tak punya pilihan," jelasku. "Dia nyelonong
masuk begitu saja. Katanya dia datang untuk mem-
perbaiki perapian. Dia akan kembali hari ini."
"Kita tak bisa kembali ke bawah sana," kata Bill,
menunjuk ke pintu basement. "Kita harus menemu-kan
tempat main baru."
"Kita harus ke bawah sana," aku mendesak. "Ku-
pikir mereka butuh pertolongan kita. Jika kita
entah bagaimana bisa memperingatkan mereka tentang
langit-langit itu, mereka tak perlu mad dengan
cara mengerikan begitu."
"Tapi, Robb—mereka tak bisa melihat atau men-
dengar kita!" protes Julie. "Jadi bagaimana kita
bisa memperingatkan mereka?"
"Pasti ada caranya," aku bersikeras. "Kita harus
menemukan cara untuk berkomunikasi dengan mereka."
Aku bangkit berdiri. "Come on. Kita bisa
menyelamatkan mereka. Aku tahu kita bisa."
Aku nyaris harus memaksa teman-tetnanku turun,
Ketika sampai di bawah, kami betempat berhenti.
Dan memasang telinga.
Aku mendengar bunyi srek srek srek pelan dan lirih
dari sudut yang jauh. Langkah kaki? Srefc srek...
Sekarang makin keras.
"Hantu anak perempuan kecil itu!" pekik Valerie.
"Oh, nor Napasku tersekat di tenggorokanku. Aku
melangkah menuju ke bunyi itu....
Dan kulihat Cal menongolkan kepalanya dari balik
perapian. Ia mengencangkan sambungan pipa dengan
kunci inggris. Bunyi srek srek itu berasal dari
kunci inggris yang sedang diputar. "Semoga aku tak
mengagetkan kalian," katanya.Ia meletakkan kunci inggris itu dan melintasi
raangan mendekati kami. Ia mengenakan pakaian yang
sama dengan malam sebelumnya, overall denim baggy
dan kemeja merah.
Bagaimana dia bisa sampai di bawah sini? Aku,
heran, merinding ngeri. Bagaimana dia masuk rumah
ini?
"Aku harus pergi membeli klep," katanya padaku,
sambil mengerutkan kening. "Aku akan kembali kira-
kira sejam lagi."
Ia memberi isyarat padaku agar menglkutinya ke
tangga. "Aku merasa tak enak gara-gara tadi
malam," bisiknya. "Cerita tentang anak perempuan
itu cuma karanganku. Habis kau kelihatan kepingin
sekali mendengar cerita seram, jadi—"
"Karanganmu?" seruku.
Ia mengangguk. "Memang salah satu hobiku ada-
Iah mengarang cerita. Aku suka sekali mendongeng.
Mungkin suatu hari rianti aku akan memasukkanmu ke
cerita seram." Ia mengedip padaku.
Aku mengawasinya menghilang ke atas. Aku me-rasa
lebih bingung daripada sebelumnya. Benarkah ia
hanya mengarang cerita itu? Aku berbalik ke teman-
temanku.
Bill mengulurkan topeng hitam itu padaku. "Apa
yang akan kita lakukan?" tanyanya.
"Mencoba berhubungan dengan anak-anak itu entah
bagaimana caranya," jawabku. "Mencoba
memperingatkan mereka."
Kupasang topeng itu ke wajahku dan kubetulkan
letak lubangnya tepat di atas mataku Yes! Itu dia
mereka. Keempat anak kuno itu, duduk di lantai,
merrgitari papan permainan itu.
"Siapa nama kalian?" teriakku. "Halo? Bisakah
kalian mendengarku? Siapa nama kalian?"Kalau saja aku bisa melihat wajah mereka. Tapi
sosok mereka samar-samar, tersembunyi di balik
sinar lampu yang suram.
"Siapa nama kalian? Bisakah kalian mendengarku?"
Tak ada sahutan. Mereka terus menggelindingkan
dadu, menjalankan buah masing-masing.
Masih sambil memanggil-manggil mereka, aku ber-
jalan melintasi ruangan. Kuulurkan tanganku. Ku-
coba menyentuh bahu salah satu cowok.
Tanganku melewatinya.
Ia tidak bereaksi.
Kucoba menarik rambut salah satu cewek itu.
Tak ada apa-apa. Aku tak bisa memegang rambut-nya,
bahkan tak bisa merasakannya.
Kulepaskan topeng itu dengan jengkel. "Aku tak
berhasil menyentuh mereka," kataku pada teman-
temanku.
"Sini. Coba ini," kata Julie. Ia menyodorkan
secarik kertas ke tanganku. "Kutulis pesan buat
mereka. Kusuruh mereka segera keluar dari basement
ini."
Kuulurkan topeng itu pada Julie. "Kau saja yang
coba memberikan pesan itu pada mereka."
Ia ragu-ragu, lalu memakai topeng itu. Valerie,
Bill, dan aku memperhatikan Julie melintasi
ruangan. Kami mengawasinya mencoba berkali-kali
menyam-paikan catatan pesan itu. Tetapi kertas itu
tetap berada di tangannya.
Akhirnya ia melepaskan topeng itu dan me-
lemparkannya padaku. "No way," katanya. "Mereka
tak bisa melihatnya."
"Mereka semua akan mati!" keluh Valerie.
"Mengerikan!"
"Pasti ada cara untuk berkomunikasi dengan
mereka," aku ngotot. "Semacam cara rahasia. Ruangan ini menyimpan rahasia-rahasia. Aku tahu.
Cara rahasia untuk menghubungi anak-anak itu
dan..."
Kupikir kami berempat memandang lemari dinding
yang tergembok itu bersamaan.
Rahasia... lemari dinding rahasia itu... satu-
satunya lemari di ruangan ini yang tergembok.
"Kita harus membukanya," kata Valerie. "Berani
Taruhan kita akan menemukan apa yang kita can di
situ."
"Tunggu," kataku. "Perasaanku tak enak tentang
ini. Mungkin sebaiknya lata tak membuka lemari
itu. Mungkin lemari itu digembok demi kebaikan."
Tapi terlambat. Mereka sudah sampai di muka lemari
dinding itu, menarik-narik gemboknya yang
berkarat.
"Please, guys? aku memohon. "Ini sangat mengeri-
kan. Kupikir sebaiknya kita tak membuka..."
Dengan mengerahkan tenaganya, Bill menyentak-kan
gembok tua itu hingga membuka. Dilepaskan-nya
gembok itu dari gerendel dan dilemparkannya ke
lantai.
Valerie mengerutkan kening padaku. "Mungkin
sebaiknya lata melihat apa yang ada di dalamnya,
Robb," katanya pelan.
Ia memutar pegangan pintu lemari itu. Pintu tua
yang berat itu berderak saat ia mendorongnya
membuka.
Lampu lemari dinding itu menyala. Kami berempat
menyusup memasukinya. Dan tersentak kaget sekali.
"Pakaian-pakaian kuno!" seru Julie, mengangkat se-
buah blus berkerah renda yang sudah lusuh. "Ber-
uk-tumpuk."
Bill bersin. "Lihat sepatu-sepatu ini." Ia
mengangkat sepasang sepatu hitam berujung tinggi. Se-patu itu memakai kancing, bukannya tali. Bill
me-niup debu yang menempel dan bersin lagi.
Julie memegang sebuah jumper korduroi hitam di
depannya. "Wow. Sangat mengagumkan, hah? Ini
seperti pakaian yang dikenakan anak-anak itu."
Aku gemetar. "Menurutku sebaiknya kita tak me-
nyentuh benda-benda ini."
Tetapi Julie sudah mengandngkan blus berenda itu
di atas T-shirt-nya. Dan Bill sedang mengagumi
jaket hitam dengan kelepak lebar.
"Stop!" seruku. "Menurutku barang-barang ini ke-
punyaan anak-anak yang sudah mati itu."
"Ya! Itu betul!" kata Julie, sambil melicinkan
bahan yang berat itu dengan tangannya. "Inilah
yang mereka kenakan!"
"Jadi kita harus memakainya," desak Valerie. "Kau
tak mengerti ya, Robb? Mungkin inilah rahasia yang
kita cari. Mungkin jika memakai pakaian ini, kita
bisa berkomunikasi dengan mereka."
"Ya, betul!" Bill setuju. "Mungkin mereka akan
bisa mendengar kita dan bicara dengan kita kalau
kita mengenakan pakaian mereka."
Aku tak yakin ini akan berhasil, tapi aku meng-
ikuti jejak teman-temanku itu. Kupakai kemeja yang
bikin gatal dengan kerah putih kaku dan celana wd
baggy yang panjangnya hanya sampai bawah lututku.
Kami semua saling mengagumi selama beberapa
merit. Valerie dan Julie kelihatan agak aneh
dengan rambut yang disisir ke atas dan disanggul.
Kami mengeluh betapa tidak nyamannya semua pakaian
itu dan betapa tersiksanya anak-anak zaman dulu.
"Ayo kita coba topeng itu," Valerie mengusulkan.
"Ayo kita lihat apakah kita bisa menghubungi anak-
anak itu.""Tidak, tunggu," sela Julie. "Kita harus
melakukan-nya dengan benar. Kita memerlukan satu
hal lagi."
Ia menemukan papan permainan rua itu dalam pen'
kayu dan menggelar Pah-Cheesi itu di lantai. "Oke,
duduklah, semuanya," katanya. "Come on. Ayo kita
mainkan permainan ini. Persis seperti keempat anak
dari zaman dulu itu."
Dengan patuh kami duduk di lantai dan me-
ngelilingi papan permainan itu. "Semoga ini ber-
hasil," kataku. "Semoga kita bisa menghubungi
mereka sekarang."
Setelah kami bermain beberapa menit, aku meng-
ambil topeng hitam itu dan mulai memakainya, tapi
aku berhenti ketika mendengar langkah-langkah
berat menuruni tangga. Langkah-langkah tetap dan
pelan-pelan yang cukup berat untuk membuat tangga
berderak.
Kami semua berpaling dan melihat Cal. "Main-main
dengan pakaian?" katanya. "Kalian semua kelihatan
sangat anggun. Teruskan saja, jangan ter-ganggu
olehku."
Ia menghilahg ke balik perapian dan mulai me-
ngerjakan pipa-pipa dengan kunci inggrisnya.
Sekarang ini sempurna, aku menyadari. Dengan Cal
kembali ke sana, kami telah menciptakan pe-
mandangan yang persis sama. Tapi bisakah kami
bicara pada anak-anak malang itu? Bisakah kami
memperingatkan mereka?
Topeng hitam itu kuraih kembali.
Tapi aku tak pernah sempat mengenakannya.
"Awas!" teriak Cal dari belakang kami. "Perapian-
nya akan meledak\"Ledakan itu mengempaskan kami semua hingga
tertelentang. Napasku tersengal-sengal. Rasa nyeri
menjalari sekujur tubuhku.
Kudengar bunyi kraaaak keras di atas kepalaku.
Aku mendongak tepat pada saat tiang langit-langit
patah... patah menjadi dua....
Sekarang kami berempat menjerit.
Menjerit... menjerit... saat tiang itu jatuh dan
langit-langit mulai*runtuh.
Dan dalam dua detik terakhir itu, dalam saat yang
paling mengerikan dalam hidupku itu, aku menyadari
rasa takut mengalami hal ini.
Aku menyadari kebenaran tentang topeng hitam itu.
Kami salah. Kami sangat salah. Anak-anak itu
adalah kami sendiri! Topeng itu tidak pernah
menunjukkan pada kami masa lalu—melainkan
menunjukkan pada kami masa
depan.

0 komentar:
Posting Komentar