cerpen horror karya RL STINE (Goosebumps)

KAU tak bisa tidur. Kau berbaring dengan mala tak

mau terpicdng dan memandangi langtt-langit

Jantungmu berdegup-degup kencang. Tangantnu dingin

dan kaku. Dengan bergidik kau turun dari tempat

tidur. Kau mulai mondar-mandir. Pikiran-mu

berputar-putat

Aku sering sekali mengalami hal seperri itu. Kalau

kau?

Kau tahu sesuatu yang mengerikan akan terjadi. Kau

tak hanya merasakannya—kau dapat melihat-nya dalam

benakmu. Kau harus melakukan sesuatu. Tapi apa?

Waktumu sangat sedikit. Dan tidak ada orang yang

bisa kauajak bicara. Tak ada bantuan yang bisa diharapkan. Kau tak punya kekuatan. Kau

ketakutan.... Bagus.

Tahan perasaan itu. Kau sudah siap untuk mem-baca

kisah ini. Kau sudah siap memakai Topeng

Hitam,.

ILUSTRASI OLEH MARK SUMMERS

SEtELAH keluargaku pindah ke rumah baru kami,

teman-temanku mulai suka kumpul-kumpul di

basement. Tempat itu besar, be rantakan karena

banyak tumpukan barang-barang peninggalan pemilik

rumah sebe-lumnya. Tetapi Dad sudah membuat salah

satu sudut tempat itu menjadi seperti ruai%an

rekreasi.

Kami meletakkan meja pingpong di bawah sana,

kulkas kecil yang berisi soda, dan TV yang ku-

hubungkan dengan video game vlayer-hi.

Hampir setiap sore Bill, Julie, Valerie, dan aku

berada di sana.

Bill berbadan besar, berambut pkang, dan ber-wajah

bintik-bintik. Ia berlanh di gym Dad.

Ia suka pamer betapa kuat dirinya. Tapi cowok

malang itu alergi terhadap banyak hal. Ia mulai

bersin-bersin ketika kami turun.

Julie dan Valerie hampir mirip saudara. Keduanya

tinggi dan kurus, berambut cokelat pendek, dan

bermata cokelat. Valeri memakai kacamata, sedang-

kan Julie tidak

Itu bukan satu-satunya perbedaan mereka. Julie

pemalu, suaranya lirih berbisik-bisik Ia adalah

otak kelompok ini. Ia selalu membawa buku atau

maja-lah.

Valerie tidak pernah dapat duduk anteng cukup lama

untuk membaca buku. Ia selalu bicara dan tertawa,

selalu merancang rencana, selalu mengaju-kan pada kami rencana gila untuk menghasilkan berton-ton

uang.

Aku? Aku adalah si cebol dalam kelompok, satu-

satunya yang bertubuh pendek. Rambutku cokelat

yang dipangkas cepak; mukaku tirus, serius, dan

muram. Orang-orang selalu menyuruhku gembira,

bahkan ketika aku sedang senang.

Bill dan aku menghabiskan sebagian besar waktu

kami di basement dengan bermain video game. Julie

suka membaca-baca di antara tumpukan-tumpukan buku

tua dan majalah-majalah yang bertimbun di mana-

mana.

Valerie suka menelepon teman-temannya memakai

pesawat telepon hitam kuno di.samping sofa dan

menyusun rencana. Lucu. Valerie menghabiskan waktu

begitu banyak menyusun rencana, tapi tidak pernah

sempat mewujudkannya satu pun.

Kalau sudah bosan, kami menjelajahi gudang-gudang

dan lemari-lemari dinding. Kau akan ter-cengang

pada barang-barang hebat yang kami temu-kan.Suatu

sore kami membongkar-bongkar setumpuk menu

restoran kuno.

"Robb, apa yang akan dilakukan ayahmu dengan

gundukan-gundukan rongsokan ini?" Valerie ber-

tanya.

"Dad ingin memilah-milah semuanya," kataku

padanya. "Dia ingin melihat-lihat kalau-kalau ada

yang berguna. Tapi akan butuh waktu lama. Umur

rumah ini lebih dari seratus tahun. Dan kupikir

orang-orang yang tinggal di sini aneh. Mereka tak

pernah membuang apa pun"

Di sofa di belakang kami, Julie sedang membaca-

baca di antara tumpukan majalah film yang sudah

menguning. "Ini sangat kuno," katanya. "Siapa orang-orang ini? George Brent? Robert Taylor? Se-

perti membaca buku sejarah saja."

"Hei—lihat ini!" teriak Bill.

Ia membungkuk di atas peti kayu dan menyodor-kan

setumpuk kotak karton persegi empat. "Per-mainan

kuno. Steeplechase—fcuda melewati rintangan. Jenis

permainan apa itu? Dan yang ini dinamakan Pah-

Cheesi. Aneh."

. Ia meniup debu di atas kotak itu dan langsung

mulai bersin-bersin. Bersinnya semakin keras. Ia

tidak berhenti bersiti sampai Valerie mengambil

permainan itu dan menjauhkannya darinya.

"Mungkin ada beberapa dari ini yang mahal nilai-

nya," kata Valerie menggebu-gebu. "Aku berani

taruhan permainan-permainan ini paling tidak ber-

umur seratus tahun."

"Ih." Bill mengelap hidungnya dengan tisu. "Bau-

nya seratus tahun. Aku benci bau lembap."

"Itu bukan bau permainan-permainan ini—tapi

kausmu!" kataku.

Julie dan Valerie tertawa. Bill bergegas maju dan

pura-pura mencekikku. Ia suka berkelahi dan me-

mukul orang-orang serta anak-anak di sekitamya.

Tapi aku jauh lebih kecil daripada dia, takkan

pernah seimbang kalau berkelahi.

Valerie sudah menghampiri sebuah lemari dinding.

"Wow. ltd luar biasa! Lihat!"

Kami semua berbalik untuk melihat harta karun yang

ditemukannya, sebuah kamera yang besar sekali.

"Kau mungkin bisa mendapatkan seratus dolar untuk

ini," katanya, mengangkat kamera itu ke mukanya,

menekan tombolnya. "Robb, sebaiknya ayahmu

menunjukkan barang ini pada orangtuaku. Bisa

dijual di toko barang antik mereka. Kau

mendapatkan keberuntungan di bawah sini!"Aku mengedarkan pandang ke sekeliling basement

ini. Setidaknya ada selusin lemari dinding dan gu-

dang, semuanya penuh dengan barang kuno. Dan ada

sebuah lemari yang terkunci dengan gembok berkarat

yang belum pernah kami buka.

Aku membungkuk di atas kotak besar yang se-

belumnya tempat menyimpan papan-papan per-mainan

kuno itu dan sekilas melihat sesuatu yang hitam di

dasarnya. Syal rua? Bukan. Topeng.

Aku mengambilnya, mengibas-ngibaskannya, dan

memasangnya di wajahku. "Lihat—aku Zorro!"

"Zorro? No way? seru Bill dari seberang ruangan.

"Kau mirip perampok bank."

Aku membetulkan letak topeng itu supaya dapat

melihat dengan jelas lewat lubang matanya—dan

tersentak kaget.

Teman-temanku! Di mana ketiga temanku? Mereka

lenyap.

Lewat topeng itu aku melihat empat anak lainnya.

Mereka duduk melingkar di lantai. Dua cewek dan

dua cowok, semuanya memakai pakaian kuno ber-wama

gelap.

Mereka sedang memainkan salah satu permainan itu.

Aku tidak dapat melihat wajah mereka dengan jelas.

Sosok mereka tersembunyi di balik cahaya terang

berkilauan.

Salah satu cowok memakai setelan hitam. Cowok di

seberangnya memakai kemeja putih berkerah kaku dan

celana wol cokelat yang panjangnya hanya sampai di

bawah lututnya. Sepatu kulitnya cokelat, besar,

dan berdetak. Bahunya turun dengan sedih.

Ketiga anak lainnya tampak gembira. Kedua cewek

itu berambut hitam yang diikat dan disanggul di

puncak kepala mereka. Yang satu memakai jumper

hitam panjang di atas blus putih tipis. Yang lainnya memakai rok berlipit-lipit abu-abu. Ia

tampaknya sedang menceritakan lelucon, sambil

melambai-lambaikan tangannya dan tertawa.

"Hei! Apa yang terjadi?" seruku. "Siapa kalian!"

Keempat anak kuno itu tidak membalikkan badan

ataupun mendongak. Aku tak bisa mendengar cerita

cewek itu. Cowok yang bersetelan hitam meraih dadu

di atas papan permainan itu.

"Hei!" aku kembali berteriak pada mereka. "Kalian

bisa mendengarku? Hei! Kalian bisa melihatku?"

Mereka tetap tidak berbalik. Hanya duduk di sana

dalam pakaian kuno kaku itu, bercakap-cakap dan

bermain.

Napasku sesak, jantungku berdegup kencang. Ku-

tanggalkan topeng itu dari wajahku.

"Tak mungkin!" teriakku.

"Robb, kau kenapa?" Bill bertanya. Ia mengguncang-

guncangkan bahuku. "Ada apa denganmu? Kau

oke?

Aku mengejap-ngejapkan mata beberapa kali. Dan

memandang ketiga temanku—Julie, Valerie, dan Bill,

kembali di basement, kembali dari mana pun mereka

menghilang.

"Kau cuma tertegun, lalu teriak-teriak," kata

Valerie. "Apa sih yang kaulihat tadi?"

Aku menelan hidah dengan susah payah. "Aku mencoba

pakai topeng ini," kataku pada Bill. "Baru saja

kulihat sesuatu... seram sekali."

"Apa kau melihat ke dalam cermin?" guraunya. Ia

menyodok perutku sangat keras, hingga aku

sempoyongan. Ia tidak pemah tahu kekuatannya

sendiri.

Ia mengerutkan kening melihat topeng itu. "Topeng

ini membuatku bersin."Kujejalkan topeng itu ke dalam tangannya. "Please.

Coba pakai ini."

Direntangkannya topeng kain itu dan dipasangnya ke

wajahnya. Kulihat matanya di balik kedua lubang

mata itu.

Ia memandang ke luar pada kami dari balik topeng

itu. "Hei—whoa!" serunya. "Siapa kalian? Bagaimana

kalian bisa ke sini?"

Aku berjongkok di samping Bill. "Kau melihat

ak-anak asing itu juga?" tanyaku. "Ya, kan?".

Bill tidak menjawab. Kukira ia tidak mendengarku.

Mulutnya menganga dan matanya membelalak di balik

topeng.

"Siapa kalian?" Bill bertanya lagi, sekarang ber-

teriak. "Siapa kalian? Jawab aku!"

Ia menarik lepas topeng itu. Mukanya merah par

dam. Ia menggeleng-geleng keras seolah mencoba

menjernihkan pikirannya.

Kuraih pundaknya. "Tadi kaulihat keempat anak itu?

Empat anak yang kelihatannya kuno?"

Bill mengangguk, mulutnya masih menganga. "Ya,"

sahutnya akhirnya. "Anak-anak yang kelihatannya

berasal dari abad lain. Aku—aku tak bisa melihat

muka mereka dengan jelas...."

Julie mengawasi kami dengan membisu, ekspresi-nya

serius, agak ngeri.

Valerie memutar bola matanya. "Dan kapan kalian

berdua merencanakan lelucon kecil ini?" tanyanya.

"Pikir kalian Julie dan aku akan bisa kalian

kibuli?"

"Tidak Ini... ini sungguhan," kata Bill. "Begitu

topeng itu kaupakai, kau akan melihat keempat anak

itu."

Valerie mendengus. "Ya. Tentu."Kusambar topeng itu dari tangan Bill dan kusodor-

kan ke kepala Valerie. "Ayo. Pakai ini."

Ia ragu-ragu, matanya yang hitam mengawasiku dari

balik kacamatanya.

"Ayo," desakku. "Kami nggak bercanda."

Valerie mencoba topeng itu. Lalu giliran Julie.

Mereka berdua melihat anak-anak yang sama dalam

oakaian kuno itu, sedang duduk dalam

Iingkaran di tempat kami duduk, ngobrol, bermain-

main.

Julie-mengembalikan topeng itu padaku. Kami saling

memandang. Tak ada yang bicara. Kuangkat topeng

itu ke dekat wajahku dan meng-amatinya,

membaliknya. Hanya topeng kain. Tak ada

isn'mewanya. Tak ada yang ganjil.

"Kau tahu apa yang kita lihat lewat topeng ini,

kan?" Julie bertanya dengan suara gemetar. "Kita

melihat anak-anak dari zaman dulu. Mungkin anak-

anak yang tinggal di basement ini seratus tahun

lalu."

Pesawat telepon hitam yang kuno itu berdering. Aku

memandanginya. Apakah kami menerima telepon dari

zaman dulu? Ternyata ibu JuHe, menyuruh Julie

pulang. Bill dan Valerie memutuskan pulang juga.

Aku mengantarkan teman-temanku itu naik ke pintu

depan, sambil masih memegang topeng itu erat-erat.

"Kau mau pakai topeng itu lagi?" tanya Bill sambil

berjalan ke pintu. Aku bergidik. "Nggak," sahutku.

"No way."

Tapi aku tak tahan godaan.

Setelah makan malam seharusnya aku mengerja-kan

PR, tapi aku malahan mengendap-endap turun

basement.Kukeluarkan topeng hitam itu dari tempat per-

sembunyiannya, laci bawah meja kabinet kuno. Lalu

aku duduk di ujung sofa.

Dadaku mulai berdegup kencang saat topeng itu

hipasang di mukaku.

Tiba-tiba aku melihat mereka. Keempat anaR itu.

Mereka duduk bersila di lantai, mengenakan pakaian

berat dan kaku, bermain papan permainan kuno.

"Hei! Kalian bisa mendengarku?" panggilku. "Ber-

baliklah!"

Mereka tetap bermain terus.

"Halo!" seruku. "Halo?"

Tak ada reaksi. Cowok pirang itu mengocok dadu

dalam tangannya, menggelindingkannya, dan meng-

gerakkan buahnya di papan permainan. Perhatian

mereka terpusat ke permainan itu.

Aku mengatupkan tanganku ke sekeliling mulutku dan

berteriak sekeras-kerasnya. "Hei! Dengarkan aku!

Kalian bisa—"

Aku berhenti l$etika kulihat ada seseorang lagi di

basement itu. Satu sosok tinggi berbayang-bayang

di belakang perapian.

Seorang laki-laki. Bersembunyi di balik perapian.

Apa yang sedang dilakukannya di sana? Apakah

keempat anak itu tahu ia sedang sembunyi di sana,

menguitip mereka, tetap berada di tempat gelap

itu?

Tidak. Mereka tidak mengangkat kepala dari

permainan mereka itu. "Hei! Lihat!" Aku berteriak,

suaraku serak karena

ngeri. "Ada orang di sana! Di belakang kalian!

Hei!"

Salah satu cewek itu menggelindingkan dadu, lalu

menjalankan buahnya di papan permainan.Aku mengerjap-ngerjapkan mata agar dapat me* lihat

laki-laki itu lebih baik. Ia sangat tua, badannya

tinggi dan kurus. Ia memakai overall kerja baggy

berwarna biru di atas kemeja lengan panjangnya

yang merah. Ia juga memakai kacamata tebal. Ke-

palanya botak, dengan hanya sejumput rambut uban

yang mencuat di telinganya.

Apa yang sedang dipegangnya? Apa itu?

•Kunci inggris?

Kunci inggris logam besar.

Apa yang akan dilakukannya dengan benda itu?

Apakah dia akan memukulkannya pada mereka?

Napasku memburu, kutekan kedua sisi wajahku. Aku

harus memperingatkan mereka!

Apa yang akan terjadi jika aku melintasi ruangan

dan mencoba menyentuh salah satti dari mereka?

Aku akan mencobanya.

Sebelum aku beranjak, terdengar bunyi gemuruh yang

memekakkan di telingaku. Seluruh ruangan bergetar

kencang sekali. Aku mencengkeram lengan sofa,

berjuang menjaga keseimbanganku.

Apa itu? Ledakan?

Kulihat keempat anak itu terbanting tertelentang.

Kudengar bunyi berderak. Bunyi kayu retak. Makin

keras. Makin keras...

"Nooooooo!" jerit salah satu cewek itu dengan

ketakutan.

"Tolong!" jerit yang satunya, berjuang untuk

beranjak duduk.

Bunyi berderak itu menyebar ke seluruh ruangan,

lalu terdengar bunyi krak keras sekali saat tiang

kayu di atas mereka patah.

Tiang berat itu jatuh menimpa mereka. Terpental

satu kali. Dua kali.Dan lalu seluruh langit-langit runtuh, kayu dan

lapisan langit-langit berguguran.

Menghancurkan mereka... menghancurkan mereka

semua... mengubur mereka.

"Noooooooooooo." Teritan mengerikan terlontar dari

dadaku.

Aku tak tahan melihatnya.

Kupejamkan mataku. Tanganku mencengkeram kedua

sisi topeng itu.

Akhirnya topeng itu kulepaskan dan kujatuhkan ke

lantai. Aku membungkuk dan memeluk tubuhku sendiri

erat-erat. Perutku bergolak. Aku berusaha keras

untuk tidak memuntahkan makan malamku.

Lama kemudian aku baru berani membuka mataku

kembali. Saat itu, basement itu tampaknya normal

lagi. Semuanya baik-baik saja. Tak ada anak-anak

yang mati. Tak ada tiang patah atau langit-langit

runtuh.

"Aku tahu kenapa kami melihat anak-anak itu,"

ucapku keras-keras, mencoba menarik kesimpulan

dari hal-hal mengerikan itu. "Seratus tahun lalu

semua anak itu mati di ruangan ini. Mereka tewas

hancur tertimpa di sini...."

Kupandangi topeng itu, yang teronggok di lantai.

Lalu aku berlari ke atas, kakiku rasanya selemas

agar-agar Jell-O.

Mom dan Dad sudah pergi berbelanja. Aku tak suka

ditinggal sendirian. Aku tak sanggup sendirian.

Aku hams menelepon Bill dan memberitahunya. Tapi

ketika aku mengangkat telepon, bel pintu ber-

bunyi.

Aku bergegas menuruni tangga ke pintu depan,

membukanya—dan menjerit. Laki-laki dari zaman dulu

itu. Laki-laki yang bersembunyi di basement, memegang kunci inggris, mengintai anak-anak mala

ng itu.

Laki-laki itu berasal dari seratus tahun lalu...

Ia sedang berdiri di teras depan rumahku!

"Maaf aku terlambat," katanya, sambil memandang-ku

lewat pintu luar.

"Hah? Terlambat? T-ti..." Aku tergagap-gagap.

"Tidak... tidak mungkin...."

Ia menggaruk sejumput ubannya dengan tangan-nya

yang bebas. "Apakah ayahmu ada di rumah? Aku

Calvin Reimer. Dia memanggilku untuk me-meriksa

perapian. Tapi aku sibuk terus dan baru sempat

sekarang."

Apa yang terjadi? tanyaku dalam hati. Aku

melihatnya lewat topeng itu, seratus tahun lalu.

Tapi ia kelihatan persis sekali!

Hantukah dia?

"Boleh aku masuk?" tanyanya. Ia mengangkat kotak

perkakas. "Aku ke sini untuk memperbaiki perapian

itu."

Aku membayangkannya lagi, bersembunyi di balik

perapian di sana, memegang kunci inggris.

Aku tak bisa membiarkannya masuk, pikirku. Dia

orang yang sama dengan yang kulihat lewat topeng

itu!

"Orangtuaku tak ada di rumah," kataku padanya.

Ia tidak memedulikanku dan membuka pintu depan. Ia

melewatiku masuk ke ruang tamu. "Tak apa-apa,"

katanya. "Aku tahu jalannya." Ia mulai melangkah

ke tangga basement.

Jantungku berdegup kencang. Aku membuntuti-nya.

"Apakah kau pernah ke sini dulu?" Suaraku

bergetar.

Ia mendecak. "Kau betul, Nak. Percaya tidak, sudah

hampir lima puluh tahun aku mengurusi rumah ini."Otakku berputar. Aku mengikutinya turun ke

basement. Ia membuka perapian dan langsung mulai

bekerja:

Aku berdiri mengawasinya, tanganku kuselipkan ke

dalam sakuku, mencoba tetap tenang, berusaha

memahami hal ini. Aku tetap membayangkan anak-

anak malang yang hancur tertimpa langit-langit

runtuh itu.

"Mr. Reimer, pernahkah... terjadi sesuatu yang

mengerikan di bawah sini?" tanyaku, suaraku serak.

Ia menatapku dari balik kacamatanya yang tebal.

"Semua orang memanggilku Cal," katanya. "Kenapa

kau menanyakan itu?"

Aku mengangkat bahu dan berusaha terdengar santai.

"Cuma kepingin tahu."

Cal menggigit bibir bawahnya. "Sebenarnya ada

tragedi mengerikan di ruangan ini, hampir lima

puluh tahun lalu terjadinya. Tapi kau umur berapa?

Sebelas? Dua belas? Kupikir kau tak ingin men-

dengarkannya."

"Ya!" sahutku, ketenanganku buyar. "Ceritakanlah!

Aku ingin mendengarnya."

Ia menggaruk ubannya dengan ujung obengnya. "Well,

waktu itu musim dingin. Keluarga Anderson—penghuni

rumah ini saat itu—masih punya perapian batu bara

yang kuno."

Ia menghela napas. "Mereka pindah dari sini

sesudah tragedi itu. Amelia, anak perempuan ketil

itu, berkeliaran di bawah sini. Tak ada orang yang

tahu bagaimana dia bisa terlepas dari pengawasan

pengasuhnya. Tapi dia sampai di bawah sini, pasti

dia lari-lari atau apa. Dan dia jatuh."

Cal berhenti dan mengerjap-ngerjapkan matanya

menatapku. "Kau yaMn ingin mendengarnya?" Aku mengangguk. "Ya. Teruskan. Teruskanlah." Ia

berdeham. "Well, singkat cerita, rupanya sese-

orang membiarkan pintu-pintu perapian terbuka.

Amelia jatuh ke dalam perapian, tepat ke atas

nyala batu bara. Ia terbakar. Terbakar hmgga ke

tulang-tulangnya. Mungkin tak lama. Tak ada yang

men-dengar jeritannya atau apa pun. Belakangan,

semua orang itu menemukan rangkanya yang sudah ha-

ngus."

Cal menggeleng-geleng. "Segera sesudah itu

keluarga Anderson pindah. Tapi beberapa orang

meng-anggap hantu Amelia itu masih tinggal di

sini. Mereka bilang hantu anak itu akan selalu

meng-hantui ruangan ini."

Aku menatap Cal dengan ternganga. Aku tak tahu

harus berkata apa. Kisah yang sangat mengerikan.

Tapi apa hubungannya dengan keempat anak yang

kulihat itu? Dan mengapa Cal kelihatan sama saja

dengan bertahun-tahun lalu?

"Semoga aku tak membuatmu ketakutan," kata Cal,

sambil membanting tutup kotak perkakasnya. "Itu

cuma cerita."

"Tak apa-apa," kataku. "Tapi... apa ada kejadian

mengerikan lainnya di bawah sini?"

Ia berpikir sejenak, lalu menggeleng. "Tidak. Se-

ingatku tak ada yang lainnya," Ia mengetuk-ngetuk

perapian. "Aku harus mengganti pipa di bawah sana

itu. Bilang pada ayahmu aku akan kembali besok"

Aku mengikutinya ke atas dan menutup pintu depan

setelah ia keluar. Kemudian aku bergegas menelepon

teman-temanku dan menceritakan semua peristiwa

itu.

Sore hari berikutnya kami berempat berkumpul di

ruang tamuku. Tidak seorang pun berminat turun ke

basement."Orang tua dari masa seratus tahun lalu itu ada di

rumahmu?" tanya Valerie, gemetar. "Kau mem-

biarkannya masuk?"

"Aku tak punya pilihan," jelasku. "Dia nyelonong

masuk begitu saja. Katanya dia datang untuk mem-

perbaiki perapian. Dia akan kembali hari ini."

"Kita tak bisa kembali ke bawah sana," kata Bill,

menunjuk ke pintu basement. "Kita harus menemu-kan

tempat main baru."

"Kita harus ke bawah sana," aku mendesak. "Ku-

pikir mereka butuh pertolongan kita. Jika kita

entah bagaimana bisa memperingatkan mereka tentang

langit-langit itu, mereka tak perlu mad dengan

cara mengerikan begitu."

"Tapi, Robb—mereka tak bisa melihat atau men-

dengar kita!" protes Julie. "Jadi bagaimana kita

bisa memperingatkan mereka?"

"Pasti ada caranya," aku bersikeras. "Kita harus

menemukan cara untuk berkomunikasi dengan mereka."

Aku bangkit berdiri. "Come on. Kita bisa

menyelamatkan mereka. Aku tahu kita bisa."

Aku nyaris harus memaksa teman-tetnanku turun,

Ketika sampai di bawah, kami betempat berhenti.

Dan memasang telinga.

Aku mendengar bunyi srek srek srek pelan dan lirih

dari sudut yang jauh. Langkah kaki? Srefc srek...

Sekarang makin keras.

"Hantu anak perempuan kecil itu!" pekik Valerie.

"Oh, nor Napasku tersekat di tenggorokanku. Aku

melangkah menuju ke bunyi itu....

Dan kulihat Cal menongolkan kepalanya dari balik

perapian. Ia mengencangkan sambungan pipa dengan

kunci inggris. Bunyi srek srek itu berasal dari

kunci inggris yang sedang diputar. "Semoga aku tak

mengagetkan kalian," katanya.Ia meletakkan kunci inggris itu dan melintasi

raangan mendekati kami. Ia mengenakan pakaian yang

sama dengan malam sebelumnya, overall denim baggy

dan kemeja merah.

Bagaimana dia bisa sampai di bawah sini? Aku,

heran, merinding ngeri. Bagaimana dia masuk rumah

ini?

"Aku harus pergi membeli klep," katanya padaku,

sambil mengerutkan kening. "Aku akan kembali kira-

kira sejam lagi."

Ia memberi isyarat padaku agar menglkutinya ke

tangga. "Aku merasa tak enak gara-gara tadi

malam," bisiknya. "Cerita tentang anak perempuan

itu cuma karanganku. Habis kau kelihatan kepingin

sekali mendengar cerita seram, jadi—"

"Karanganmu?" seruku.

Ia mengangguk. "Memang salah satu hobiku ada-

Iah mengarang cerita. Aku suka sekali mendongeng.

Mungkin suatu hari rianti aku akan memasukkanmu ke

cerita seram." Ia mengedip padaku.

Aku mengawasinya menghilang ke atas. Aku me-rasa

lebih bingung daripada sebelumnya. Benarkah ia

hanya mengarang cerita itu? Aku berbalik ke teman-

temanku.

Bill mengulurkan topeng hitam itu padaku. "Apa

yang akan kita lakukan?" tanyanya.

"Mencoba berhubungan dengan anak-anak itu entah

bagaimana caranya," jawabku. "Mencoba

memperingatkan mereka."

Kupasang topeng itu ke wajahku dan kubetulkan

letak lubangnya tepat di atas mataku Yes! Itu dia

mereka. Keempat anak kuno itu, duduk di lantai,

merrgitari papan permainan itu.

"Siapa nama kalian?" teriakku. "Halo? Bisakah

kalian mendengarku? Siapa nama kalian?"Kalau saja aku bisa melihat wajah mereka. Tapi

sosok mereka samar-samar, tersembunyi di balik

sinar lampu yang suram.

"Siapa nama kalian? Bisakah kalian mendengarku?"

Tak ada sahutan. Mereka terus menggelindingkan

dadu, menjalankan buah masing-masing.

Masih sambil memanggil-manggil mereka, aku ber-

jalan melintasi ruangan. Kuulurkan tanganku. Ku-

coba menyentuh bahu salah satu cowok.

Tanganku melewatinya.

Ia tidak bereaksi.

Kucoba menarik rambut salah satu cewek itu.

Tak ada apa-apa. Aku tak bisa memegang rambut-nya,

bahkan tak bisa merasakannya.

Kulepaskan topeng itu dengan jengkel. "Aku tak

berhasil menyentuh mereka," kataku pada teman-

temanku.

"Sini. Coba ini," kata Julie. Ia menyodorkan

secarik kertas ke tanganku. "Kutulis pesan buat

mereka. Kusuruh mereka segera keluar dari basement

ini."

Kuulurkan topeng itu pada Julie. "Kau saja yang

coba memberikan pesan itu pada mereka."

Ia ragu-ragu, lalu memakai topeng itu. Valerie,

Bill, dan aku memperhatikan Julie melintasi

ruangan. Kami mengawasinya mencoba berkali-kali

menyam-paikan catatan pesan itu. Tetapi kertas itu

tetap berada di tangannya.

Akhirnya ia melepaskan topeng itu dan me-

lemparkannya padaku. "No way," katanya. "Mereka

tak bisa melihatnya."

"Mereka semua akan mati!" keluh Valerie.

"Mengerikan!"

"Pasti ada cara untuk berkomunikasi dengan

mereka," aku ngotot. "Semacam cara rahasia. Ruangan ini menyimpan rahasia-rahasia. Aku tahu.

Cara rahasia untuk menghubungi anak-anak itu

dan..."

Kupikir kami berempat memandang lemari dinding

yang tergembok itu bersamaan.

Rahasia... lemari dinding rahasia itu... satu-

satunya lemari di ruangan ini yang tergembok.

"Kita harus membukanya," kata Valerie. "Berani

Taruhan kita akan menemukan apa yang kita can di

situ."

"Tunggu," kataku. "Perasaanku tak enak tentang

ini. Mungkin sebaiknya lata tak membuka lemari

itu. Mungkin lemari itu digembok demi kebaikan."

Tapi terlambat. Mereka sudah sampai di muka lemari

dinding itu, menarik-narik gemboknya yang

berkarat.

"Please, guys? aku memohon. "Ini sangat mengeri-

kan. Kupikir sebaiknya kita tak membuka..."

Dengan mengerahkan tenaganya, Bill menyentak-kan

gembok tua itu hingga membuka. Dilepaskan-nya

gembok itu dari gerendel dan dilemparkannya ke

lantai.

Valerie mengerutkan kening padaku. "Mungkin

sebaiknya lata melihat apa yang ada di dalamnya,

Robb," katanya pelan.

Ia memutar pegangan pintu lemari itu. Pintu tua

yang berat itu berderak saat ia mendorongnya

membuka.

Lampu lemari dinding itu menyala. Kami berempat

menyusup memasukinya. Dan tersentak kaget sekali.

"Pakaian-pakaian kuno!" seru Julie, mengangkat se-

buah blus berkerah renda yang sudah lusuh. "Ber-

uk-tumpuk."

Bill bersin. "Lihat sepatu-sepatu ini." Ia

mengangkat sepasang sepatu hitam berujung tinggi. Se-patu itu memakai kancing, bukannya tali. Bill

me-niup debu yang menempel dan bersin lagi.

Julie memegang sebuah jumper korduroi hitam di

depannya. "Wow. Sangat mengagumkan, hah? Ini

seperti pakaian yang dikenakan anak-anak itu."

Aku gemetar. "Menurutku sebaiknya kita tak me-

nyentuh benda-benda ini."

Tetapi Julie sudah mengandngkan blus berenda itu

di atas T-shirt-nya. Dan Bill sedang mengagumi

jaket hitam dengan kelepak lebar.

"Stop!" seruku. "Menurutku barang-barang ini ke-

punyaan anak-anak yang sudah mati itu."

"Ya! Itu betul!" kata Julie, sambil melicinkan

bahan yang berat itu dengan tangannya. "Inilah

yang mereka kenakan!"

"Jadi kita harus memakainya," desak Valerie. "Kau

tak mengerti ya, Robb? Mungkin inilah rahasia yang

kita cari. Mungkin jika memakai pakaian ini, kita

bisa berkomunikasi dengan mereka."

"Ya, betul!" Bill setuju. "Mungkin mereka akan

bisa mendengar kita dan bicara dengan kita kalau

kita mengenakan pakaian mereka."

Aku tak yakin ini akan berhasil, tapi aku meng-

ikuti jejak teman-temanku itu. Kupakai kemeja yang

bikin gatal dengan kerah putih kaku dan celana wd

baggy yang panjangnya hanya sampai bawah lututku.

Kami semua saling mengagumi selama beberapa

merit. Valerie dan Julie kelihatan agak aneh

dengan rambut yang disisir ke atas dan disanggul.

Kami mengeluh betapa tidak nyamannya semua pakaian

itu dan betapa tersiksanya anak-anak zaman dulu.

"Ayo kita coba topeng itu," Valerie mengusulkan.

"Ayo kita lihat apakah kita bisa menghubungi anak-

anak itu.""Tidak, tunggu," sela Julie. "Kita harus

melakukan-nya dengan benar. Kita memerlukan satu

hal lagi."

Ia menemukan papan permainan rua itu dalam pen'

kayu dan menggelar Pah-Cheesi itu di lantai. "Oke,

duduklah, semuanya," katanya. "Come on. Ayo kita

mainkan permainan ini. Persis seperti keempat anak

dari zaman dulu itu."

Dengan patuh kami duduk di lantai dan me-

ngelilingi papan permainan itu. "Semoga ini ber-

hasil," kataku. "Semoga kita bisa menghubungi

mereka sekarang."

Setelah kami bermain beberapa menit, aku meng-

ambil topeng hitam itu dan mulai memakainya, tapi

aku berhenti ketika mendengar langkah-langkah

berat menuruni tangga. Langkah-langkah tetap dan

pelan-pelan yang cukup berat untuk membuat tangga

berderak.

Kami semua berpaling dan melihat Cal. "Main-main

dengan pakaian?" katanya. "Kalian semua kelihatan

sangat anggun. Teruskan saja, jangan ter-ganggu

olehku."

Ia menghilahg ke balik perapian dan mulai me-

ngerjakan pipa-pipa dengan kunci inggrisnya.

Sekarang ini sempurna, aku menyadari. Dengan Cal

kembali ke sana, kami telah menciptakan pe-

mandangan yang persis sama. Tapi bisakah kami

bicara pada anak-anak malang itu? Bisakah kami

memperingatkan mereka?

Topeng hitam itu kuraih kembali.

Tapi aku tak pernah sempat mengenakannya.

"Awas!" teriak Cal dari belakang kami. "Perapian-

nya akan meledak\"Ledakan itu mengempaskan kami semua hingga

tertelentang. Napasku tersengal-sengal. Rasa nyeri

menjalari sekujur tubuhku.

Kudengar bunyi kraaaak keras di atas kepalaku.

Aku mendongak tepat pada saat tiang langit-langit

patah... patah menjadi dua....

Sekarang kami berempat menjerit.

Menjerit... menjerit... saat tiang itu jatuh dan

langit-langit mulai*runtuh.

Dan dalam dua detik terakhir itu, dalam saat yang

paling mengerikan dalam hidupku itu, aku menyadari

rasa takut mengalami hal ini.

Aku menyadari kebenaran tentang topeng hitam itu.

Kami salah. Kami sangat salah. Anak-anak itu

adalah kami sendiri! Topeng itu tidak pernah

menunjukkan pada kami masa lalu—melainkan

menunjukkan pada kami masa

depan.

0 komentar:

Posting Komentar