cerpen goosebumps (Karya RL STINE)

JANTUNGKU berpacu. Aku lari... lebih cepat...

semakin cepat1 Aku tak bisa melihatnya, tapi aku

tahu ia mengejarku. Kupaksa kakiku berlari semakin

kencang. Tapi sebuah tangan kurus dengan tulang

bertonjolan memegang bahuku. Ia berhasil

mengejarku! Aku menjerit—dan terbangun!

Mimpi seram. Aku bermimpi tentang itu sejak aku

berumur delapan atau sembilan. Ketika aku masih

anak-anak di Ohio, di belakang rumah kami ada hutan lebat. Di tengah-tengah hutan itu ada

gundukan tinggi batu putih halus. Kami menghindari

batu-batu putih itu. Semua anak di sekitar situ

percaya bahwa ada mayat yang di-kubur di bawahnya.

Aku masih bermimpi tentang batu-batu itu. Aku

melihat batu-batu itu mulai berguncang. LaJu

kulihat sesosok tubuh yang sudah membusuk dan me-

ngerikan memanjat keluar dari bawah dan ter-

huyung-huyung menuju ke rumahku, sambil meng-

geram, "Aku datang untuk mengambilmu, Bobby. Aku

dotting untuk mengambilmu!"

Dari situlah aku mendapat ide untuk cerita ini.

Selamat datang di mimpi burukku....


######

KVUT kayu pohort itu menggores tangan ku.

Batangnya yang kurus bergoyang-goyang di bawahku.

Kueratkan pegang anku pada cabang itu dan

kukerjap-kerjapkan mataku menatap anak-anak di

bawah itu. Tiba-tiba aku merasa pusing. Wajah

nyengir mereka jadi kelihatan buram.

"Ada apa, Willy?" Kudengar Travis memanggilku.

"Kau butuh tangga buat turun?"

"Aku—tak apa-apa," sahutku tergagap. Tapi aku apa-

apa. Aku sudah memanjat setengah tinggi po-hon,

dan tidak ada jalan soma sekali untuk turun.

"Perlu keteleponkan unit pemadam kebakaran?" seru

Travis. Anak-anak lain tertawa seperti biasanya.

Kemudian Travis menyanyikan lagu yang tak asing

lagi itu, "Willy the Wimp!" Willy si Lemah.

Aku ingin menutupi kupingku, tapi tak bisa me-

lepaskan cabang pohon. Cabang itu kupeluk erat-

erat, aku gemetaran. "Namaku Will—bukan Willy!"

Tapi itu malahan membuat mereka menyanyi semakin

keras. "Willy the Wimp! Willy the Wimp!"Sudah berapa tahun aku terpaksa mendengarkan lagu

itu?

Kupejamkan mataku dan kukertakkan gigiku. Aku

benci mereka, termasuk Travis, meskipun ia

sahabat-ku. Tapi aku paling benci diriku sendiri,

karena lemah, penakut, hingga dijuluki Willy the

Wimp.

"Stop!" teriakku. "Stop!" Kuacung-acungkan tin-

juku pada mereka—dan keseimbanganku hilang.

Aku terpelanting dari cabang itu dan merosot di

batang. Kulit kayu menggores tanganku dan mero-bek

depan kemejaku. Aku mendarat dengan keras di

tanah, dan jaruh berlutut. "Wow. Lihat, kau begitu

lagi!" seru Travis. Tanganku berdarah. Aku

menyingkirkan debu dan kulit kayu yang menempel

pada kemejaku, lalu mengibaskan sejumput daun dari

rambutku. Aku memelototi Travis. "Jangan ganggu

aku."

Tetapi ia tidak pernah menggubrisku. Ia selalu

menantangku untuk melakukan hal-hal yang ber-

bahaya. Selalu membual di depan anak-anak lain

bahwa ia pemberani dan aku penakut.

Aku selalu jadi anak terkecil di kelasku. Bahkan

di kelas satu aku kelihatan lebih muda dari semua

anak Mengapa itu membuat mereka merasa berhak

menantangku berkelahi dan menertawakanku?

Sambil berjalan tertatih-tatih pulang, dengan ke-

dua tangan terselip ke dalam saku jinsku, aku ter-

ingat akan beberapa trik licik Travis. Ketika

dalam pelajaran sains ia menjatuhkan gumpalan

kapas besar ke punggungku dan mengatakan itu

tarantula. Ketika ia menyemprot dengan pistol

airnya ke bagian depan celanaku tepat sebelum aku

harus berdiri di depan kelas dan membacakan

laporan buku.Dan semua tantangan konyol itu. Menantangku

menyelam ke dalam Handler's Creek ketika air

sungai kecfl itu hanya beberapa inci dalamnya. Me-

lemparkan topiku ke atas atap sekolah dan

menantangku memanjat ke sana untuk mengambilnya.

Mengatakan ruangan ganti pakaian murid cewek

144

sedang kosong dan menantangku menyelinap ke sana,

padahal ia tahu ruangan itu sedang penuh

cewek

Dan si Tolol Will selalu menerima tantangan itu.

Si Tblol Will menanggapi setiap tantangan.

Pagi berikutnya aku agak terlambat sampai di

sekolah. Aku melangkah masuk kelas dan tercengang

menatap gambar pada papan tulis. Ada yang telah

menggambar pohon besar dengan aku bergelantung-an

pada salah satu cabangnya yang tinggi dan seekor

hiring pada cabang lainnya. Di bawahnya tertulis:

YANG MANA SI KUCING PENAKUT?

Aku berbalik dan ternyata semua anak sedang

nyengir padaku.

Melihat wajah-wajah cengar-cengir itu, aku tahu

aku tak bisa lagi menerima perlakuan ini. Aku tahu

aku harus bertindak. Tapi apa?

Beberapa hari kemudian aku kembali di hutan. Mr.

Kretchmer, guru kami, memimpin kami sekelas ke

Handler's Creek untuk mengumpulkan serangga.

Saat kami menyusuri jalan setapak tanah yang

berkelok-kelok di antara pepohonan, Travis muncul

di sampingku, nyengir seperti biasanya. "Kutantang

kau berenang di sungai kecil itu," katanya.

Kuputar bola mataku. "Ha ha. Lucu sekali." Sudah

berminggu-minggu tidak turun hujan. Bahkan aku

pun tahu sungai kecil itu hanya berupa tanah ber-

lumpur saat ini."Aku akan berjalan lebih dulu untuk melihat apakah

sungai kecil itu sudah kering sampai ke dasarnya,"

Mr. Kretchmer mengumurnkan. "Aku ingin semuanya

sudah siap. Tetap ikuti jalan se-tapak." Ia

berbalik dan bergegas pergi.

Sepatu kami menggilas tanah kering. Sinar mata-

hari yang terang membuat gatal tengkukku. Di depan

tampak segerombolan serangga putih ber-kilauan

terbang beiputar-putar di atas rumput tinggi.

Jalan setapak itu membelok melintasi tanah ter-

buka berumput. Kupindahkan ranselku ke bahuku yang

satunya dan kulihat sebuah gudang kecil yang

terbuat dari kayu di belakang tanah terbuka itu.

Apa itu yang tergeletak di rumput di depan gudang

itu? Aku mengedip-ngedip untuk mem-fokuskan

mataku. "Hei!" Aku berlari. "Hei!"

Aku berhenti beberapa kaki dari gudang itu dan

memandangi laki-laki di atas tanah itu. Ia

berbaring miring dengan kaku, lengan dan kakinya

sangat lurus. Sebuah topeng—topeng wol hitam—

menutupi wajahnya. Lewat lubang matanya aku dapat

melihat bahwa bola matanya terbalik ke atas ke

dalam kepalanya. Hanya bagian putihnya yang

tampak.

"Hei!" Aku memanggil anak-anak lain, suaraku

tinggi dan melengking. Kulambai-lambaikan tanganku

dengan panik. "Hei—ke sini! Cepat!"

Semua anak sekelas berlari-lari datang. Mereka

berhenti ketika melihat mayat yang tergeletak di

rumput itu. Setelah mendesah kaget, setiap anak

mulai bicara pada saat yang bersamaan, sehingga

suasana ribut.

"Apa dia hidup?"

"Kenapa dia pakai topeng?"

"Apa yang terjadi padanya?""Ini—ini mayat," gagapku. "Aku tak percaya. Aku

belum pernah melihat mayat." Aku ternganga

memandangi wajah bertopeng, bola mata putih itu.

"Cepat cari Mr. Kretchmer! Cepat!" teriak seorang

anak cewek.

Tapi tidak ada yang beranjak. Kukira semuanya

terlalu kaget, terlalu ngeri.

Lalu Travis cepat-cepat ke sebelahku, mata hitam-

nya bersinar-sinar, mulutnya mulai cengar cengir

se-perti biasanya. "Will," katanya dengan keras,

cukup keras untuk didengar semua anak. "Will,

berani kau menyentuhnya?"

"Hah?" Aku melangkah mundur. "Menyentuh mayat?"

Cengiran Travis semakin lebar. "Apa kau berani

menarik topengnya dan menyentuh wajahnya?"

Semuanya diam. Aku dapat melihat bahwa semua mata

tertuju padaku.

Aku menatap Travis, lalu berpaling ke mayat itu.

Aku menelan ludah. Kutarik napasku dalam-dalam.

"Aku menantangmu." Travis tahu aku tak pernah

menolak tantangannya. Semua anak sekelas tahu.

"Oke." Aku menelan ludah lagi. "Oke. Aku bisa

melakukannya. Ini sih masalah kecil—ya, kan?" '

Aku maju selangkah kecil ke arah mayat itu, lalu

selangkah lagi. Ketika aku berlutut di sampingnya,

beberapa anak menahan napas. "Benar dia akan

menyentuhnya?" bisik seseorang. "Dia kan penakut,"

sahut Travis. No way, ucapku dalam hati. Aku bukan

penakut. Aku akan melakukannya.

Tanganku gemetar saat kuulurkan untuk meraih

topeng hitam itu. Jari-jariku mencengkeram tepi

bawah topeng itu. Dengan entakan keras, aku mulai

menarik topeng ke atas wajah itu.

Tiba-tiba tangan kanan orang mati itu terulur dan

mencengkeram pergelangan tanganku. "Ohhhhh," aku mengerang pelan. Di belakangku terdengar jeritan

dan teriakan ngeri dari anak-anak lain.

Jari-jari orang mati itu mencengkeram erat lengan-

ku. Matanya yang putih kosong menatapku. Ta-

ngannya yang lain memegang bahuku.

Pekikan dan jeritan terdengar di sekitarku. Aku

bergeming. Aku tak bisa bergerak.

Sambil menatapku dengan matanya yang kosong mayat

itu membuka mulutnya dan berkata dengan suara

parau, "Biarkan... yang... mati... beristirahat!"

"J-jangan—" gagapku. "Lep-lepaskan—" "Biarkan...

yang... mati... beristirahat!" ulang mayat itu

dalam bisikan serak.

Aku berpaKng dan melihat anak-anak berpegang-an,

menjerit-jerit dan menangis.

Tangan orang mati itu berpindah ke leherku.

"Travis—tolong aku!" teriakku. "Travis—tolongi

Bantu aku!"

Travis ragu-ragu sesaat, mukanya pucat pasi,

matanya melirik ke sana-sini dengan panik.

Lalu ia membalikkan badan dan berlari pergi, kabur

ke dalam hutan.

Beberapa anak lari mengejarnya. Sisanya me-

mandangi dengan ngeri saat mayat itu mengencang-

kan cengkeramannya di seputar leherku.

"Biarkan... yang... mati... beristirahat!" Dengan

ge-raman pelan ia mulai mencekikku.

"Kayaknya aku terpaksa menghadapimu sendiri-an!"

teriakku.

Kuremas tangannya dan kusentakkan hingga ter-lepas

dari leherku. Lalu kupegang kepalanya dan kupuntir

kuat-kuat. Sambil mencengkeram tepi topeng aku

mengangkat kepala orang mati itu, ke-mudian

mengempaskannya ke bawah. Membanting-nya ke tanah.

Membantingnya lagi. Lagi. Lagi.Sampai dia tergeletak diam.

Dadaku kembang-kempis mengembuskan dan menghela

napas berkali-kali. Kulepaskan mayat itu dan aku

terhuyung-huyung berdiri. Aku mem-bungkuk, kedua

tanganku bertumpu pada lutut. Aku berusaha

memulihkan napasku kembali.

Semua anak terbelalak memandangiku. Gemetar-an.

Menangis. "Cepat cari Mr. Kretchmer," kataku pada

mereka. "Aku tak apa-apa. Cepat. Cari dia."

Mereka langsung lari, ingin sekali segera me

nyingkir dari situ. Aku mengawasi mereka sampai

mereka menghilang di antara pepohonan.

Lalu aku kembali ke tubuh di tanah itu. "Mereka

sudah pergi, Uncle Jake. Kau bisa bangun' kataku.

"Terima kasih banyak. Sempurna sekali. Mereka tak-

kan pernah memanggilku Willy the Wimp lagi."

Uncle Jake beranjak duduk dan menarik lepas topeng

itu. Ja menyeka keringat dari dahinya. Lalu ia

mengusap-usap bagian belakang kepalanya. "Will,

permainanmu agak kasar," erangnya.

"Maaf," sahutku. "Mungkin aku agak terpengaruh,

Aku ingin itu tadi kelihatan sungguhan."

Uncle Jake adalah pamanku yang paling baik. Ia

lucu sekali dan sangat suka bercanda. Waktu makan

bersama, ia sering kali memamerkan trik memutar

bola matanya hingga hanya bagian putihnya yang

tampak. Minggu lalu ketika aku minta tolong pada-

nya, ia langsung tidak menyia-nyiakan kesempatan

untuk menunjukkan kebolehannya itu.

Kuulurkan tanganku dan kutolong dia berdiri dengan

menghelanya. "Terima kasih sekali lagi," kataku.

"Kita berhasil membuat mereka ketakutan se-tengah

mati, kan?"

Uncle Jake mengangguk. Ia tersenyum padaku. "Aku

senang membanrumu, agar kau tak dihina te-rus. Tapi aku harus pergi sekarang," bisiknya. "Bye,

Will."

Aku mengucapkan good-bye. Lalu kuawasi dia sampai

menghilang di antara pepohonan.

Aku berlari sepanjang perjalanan pulang sekolah

dan menghambur masuk lewat pintu dapur. Aku tak

sabar lagi untuk segera menceritakan pada Mom

sukses besarku bersama Uncle Jake, berhasil me-

ngerjai Travis dan anak-anak lainnya.

Tapi kuurungkan niatku ketika kulihat Mom sedang

menangis. Dagunya gemetaran. Kedua tangan-nya

terkatup rapat.

"Will, aku sangat menyesal," katanya pelan.

"Sangat menyesal..."

"Menyesal? Mom, ada apa?"

"Ada kabar sangat jelek," jawabnya, sambil menyeka

air matanya dengan dua tangan. "Ten-tentang

pamanmu, Uncle Jake. Dia meninggal."

"Hah?" Tiba-tiba sekujur tubuhku seolah diguyur

air es. "Meninggal? Kapan?"

"Tadi malam," sahut Mom. "Suatu saat tadi ma-Iam.

Aku... aku baru saja mendengarivya."

"Tapi—" kataku.

Mom memelukku erat-erat. "Aku sangat menyesal,

Will. Aku tahu kalian berdua sangat dekat. Aku

tahu kau menganggapnya sebagai teman."

Kepalaku serasa berputar. Kutekankan wajahku ke

pipi Mom yang basah.

"Ya," bisikku. "Ya. Dia teman yang bnk sekali

0 komentar:

Posting Komentar