JANTUNGKU berpacu. Aku lari... lebih cepat...
semakin cepat1 Aku tak bisa melihatnya, tapi aku
tahu ia mengejarku. Kupaksa kakiku berlari semakin
kencang. Tapi sebuah tangan kurus dengan tulang
bertonjolan memegang bahuku. Ia berhasil
mengejarku! Aku menjerit—dan terbangun!
Mimpi seram. Aku bermimpi tentang itu sejak aku
berumur delapan atau sembilan. Ketika aku masih
anak-anak di Ohio, di belakang rumah kami ada hutan lebat. Di tengah-tengah hutan itu ada
gundukan tinggi batu putih halus. Kami menghindari
batu-batu putih itu. Semua anak di sekitar situ
percaya bahwa ada mayat yang di-kubur di bawahnya.
Aku masih bermimpi tentang batu-batu itu. Aku
melihat batu-batu itu mulai berguncang. LaJu
kulihat sesosok tubuh yang sudah membusuk dan me-
ngerikan memanjat keluar dari bawah dan ter-
huyung-huyung menuju ke rumahku, sambil meng-
geram, "Aku datang untuk mengambilmu, Bobby. Aku
dotting untuk mengambilmu!"
Dari situlah aku mendapat ide untuk cerita ini.
Selamat datang di mimpi burukku....
######
KVUT kayu pohort itu menggores tangan ku.
Batangnya yang kurus bergoyang-goyang di bawahku.
Kueratkan pegang anku pada cabang itu dan
kukerjap-kerjapkan mataku menatap anak-anak di
bawah itu. Tiba-tiba aku merasa pusing. Wajah
nyengir mereka jadi kelihatan buram.
"Ada apa, Willy?" Kudengar Travis memanggilku.
"Kau butuh tangga buat turun?"
"Aku—tak apa-apa," sahutku tergagap. Tapi aku apa-
apa. Aku sudah memanjat setengah tinggi po-hon,
dan tidak ada jalan soma sekali untuk turun.
"Perlu keteleponkan unit pemadam kebakaran?" seru
Travis. Anak-anak lain tertawa seperti biasanya.
Kemudian Travis menyanyikan lagu yang tak asing
lagi itu, "Willy the Wimp!" Willy si Lemah.
Aku ingin menutupi kupingku, tapi tak bisa me-
lepaskan cabang pohon. Cabang itu kupeluk erat-
erat, aku gemetaran. "Namaku Will—bukan Willy!"
Tapi itu malahan membuat mereka menyanyi semakin
keras. "Willy the Wimp! Willy the Wimp!"Sudah berapa tahun aku terpaksa mendengarkan lagu
itu?
Kupejamkan mataku dan kukertakkan gigiku. Aku
benci mereka, termasuk Travis, meskipun ia
sahabat-ku. Tapi aku paling benci diriku sendiri,
karena lemah, penakut, hingga dijuluki Willy the
Wimp.
"Stop!" teriakku. "Stop!" Kuacung-acungkan tin-
juku pada mereka—dan keseimbanganku hilang.
Aku terpelanting dari cabang itu dan merosot di
batang. Kulit kayu menggores tanganku dan mero-bek
depan kemejaku. Aku mendarat dengan keras di
tanah, dan jaruh berlutut. "Wow. Lihat, kau begitu
lagi!" seru Travis. Tanganku berdarah. Aku
menyingkirkan debu dan kulit kayu yang menempel
pada kemejaku, lalu mengibaskan sejumput daun dari
rambutku. Aku memelototi Travis. "Jangan ganggu
aku."
Tetapi ia tidak pernah menggubrisku. Ia selalu
menantangku untuk melakukan hal-hal yang ber-
bahaya. Selalu membual di depan anak-anak lain
bahwa ia pemberani dan aku penakut.
Aku selalu jadi anak terkecil di kelasku. Bahkan
di kelas satu aku kelihatan lebih muda dari semua
anak Mengapa itu membuat mereka merasa berhak
menantangku berkelahi dan menertawakanku?
Sambil berjalan tertatih-tatih pulang, dengan ke-
dua tangan terselip ke dalam saku jinsku, aku ter-
ingat akan beberapa trik licik Travis. Ketika
dalam pelajaran sains ia menjatuhkan gumpalan
kapas besar ke punggungku dan mengatakan itu
tarantula. Ketika ia menyemprot dengan pistol
airnya ke bagian depan celanaku tepat sebelum aku
harus berdiri di depan kelas dan membacakan
laporan buku.Dan semua tantangan konyol itu. Menantangku
menyelam ke dalam Handler's Creek ketika air
sungai kecfl itu hanya beberapa inci dalamnya. Me-
lemparkan topiku ke atas atap sekolah dan
menantangku memanjat ke sana untuk mengambilnya.
Mengatakan ruangan ganti pakaian murid cewek
144
sedang kosong dan menantangku menyelinap ke sana,
padahal ia tahu ruangan itu sedang penuh
cewek
Dan si Tolol Will selalu menerima tantangan itu.
Si Tblol Will menanggapi setiap tantangan.
Pagi berikutnya aku agak terlambat sampai di
sekolah. Aku melangkah masuk kelas dan tercengang
menatap gambar pada papan tulis. Ada yang telah
menggambar pohon besar dengan aku bergelantung-an
pada salah satu cabangnya yang tinggi dan seekor
hiring pada cabang lainnya. Di bawahnya tertulis:
YANG MANA SI KUCING PENAKUT?
Aku berbalik dan ternyata semua anak sedang
nyengir padaku.
Melihat wajah-wajah cengar-cengir itu, aku tahu
aku tak bisa lagi menerima perlakuan ini. Aku tahu
aku harus bertindak. Tapi apa?
Beberapa hari kemudian aku kembali di hutan. Mr.
Kretchmer, guru kami, memimpin kami sekelas ke
Handler's Creek untuk mengumpulkan serangga.
Saat kami menyusuri jalan setapak tanah yang
berkelok-kelok di antara pepohonan, Travis muncul
di sampingku, nyengir seperti biasanya. "Kutantang
kau berenang di sungai kecil itu," katanya.
Kuputar bola mataku. "Ha ha. Lucu sekali." Sudah
berminggu-minggu tidak turun hujan. Bahkan aku
pun tahu sungai kecil itu hanya berupa tanah ber-
lumpur saat ini."Aku akan berjalan lebih dulu untuk melihat apakah
sungai kecil itu sudah kering sampai ke dasarnya,"
Mr. Kretchmer mengumurnkan. "Aku ingin semuanya
sudah siap. Tetap ikuti jalan se-tapak." Ia
berbalik dan bergegas pergi.
Sepatu kami menggilas tanah kering. Sinar mata-
hari yang terang membuat gatal tengkukku. Di depan
tampak segerombolan serangga putih ber-kilauan
terbang beiputar-putar di atas rumput tinggi.
Jalan setapak itu membelok melintasi tanah ter-
buka berumput. Kupindahkan ranselku ke bahuku yang
satunya dan kulihat sebuah gudang kecil yang
terbuat dari kayu di belakang tanah terbuka itu.
Apa itu yang tergeletak di rumput di depan gudang
itu? Aku mengedip-ngedip untuk mem-fokuskan
mataku. "Hei!" Aku berlari. "Hei!"
Aku berhenti beberapa kaki dari gudang itu dan
memandangi laki-laki di atas tanah itu. Ia
berbaring miring dengan kaku, lengan dan kakinya
sangat lurus. Sebuah topeng—topeng wol hitam—
menutupi wajahnya. Lewat lubang matanya aku dapat
melihat bahwa bola matanya terbalik ke atas ke
dalam kepalanya. Hanya bagian putihnya yang
tampak.
"Hei!" Aku memanggil anak-anak lain, suaraku
tinggi dan melengking. Kulambai-lambaikan tanganku
dengan panik. "Hei—ke sini! Cepat!"
Semua anak sekelas berlari-lari datang. Mereka
berhenti ketika melihat mayat yang tergeletak di
rumput itu. Setelah mendesah kaget, setiap anak
mulai bicara pada saat yang bersamaan, sehingga
suasana ribut.
"Apa dia hidup?"
"Kenapa dia pakai topeng?"
"Apa yang terjadi padanya?""Ini—ini mayat," gagapku. "Aku tak percaya. Aku
belum pernah melihat mayat." Aku ternganga
memandangi wajah bertopeng, bola mata putih itu.
"Cepat cari Mr. Kretchmer! Cepat!" teriak seorang
anak cewek.
Tapi tidak ada yang beranjak. Kukira semuanya
terlalu kaget, terlalu ngeri.
Lalu Travis cepat-cepat ke sebelahku, mata hitam-
nya bersinar-sinar, mulutnya mulai cengar cengir
se-perti biasanya. "Will," katanya dengan keras,
cukup keras untuk didengar semua anak. "Will,
berani kau menyentuhnya?"
"Hah?" Aku melangkah mundur. "Menyentuh mayat?"
Cengiran Travis semakin lebar. "Apa kau berani
menarik topengnya dan menyentuh wajahnya?"
Semuanya diam. Aku dapat melihat bahwa semua mata
tertuju padaku.
Aku menatap Travis, lalu berpaling ke mayat itu.
Aku menelan ludah. Kutarik napasku dalam-dalam.
"Aku menantangmu." Travis tahu aku tak pernah
menolak tantangannya. Semua anak sekelas tahu.
"Oke." Aku menelan ludah lagi. "Oke. Aku bisa
melakukannya. Ini sih masalah kecil—ya, kan?" '
Aku maju selangkah kecil ke arah mayat itu, lalu
selangkah lagi. Ketika aku berlutut di sampingnya,
beberapa anak menahan napas. "Benar dia akan
menyentuhnya?" bisik seseorang. "Dia kan penakut,"
sahut Travis. No way, ucapku dalam hati. Aku bukan
penakut. Aku akan melakukannya.
Tanganku gemetar saat kuulurkan untuk meraih
topeng hitam itu. Jari-jariku mencengkeram tepi
bawah topeng itu. Dengan entakan keras, aku mulai
menarik topeng ke atas wajah itu.
Tiba-tiba tangan kanan orang mati itu terulur dan
mencengkeram pergelangan tanganku. "Ohhhhh," aku mengerang pelan. Di belakangku terdengar jeritan
dan teriakan ngeri dari anak-anak lain.
Jari-jari orang mati itu mencengkeram erat lengan-
ku. Matanya yang putih kosong menatapku. Ta-
ngannya yang lain memegang bahuku.
Pekikan dan jeritan terdengar di sekitarku. Aku
bergeming. Aku tak bisa bergerak.
Sambil menatapku dengan matanya yang kosong mayat
itu membuka mulutnya dan berkata dengan suara
parau, "Biarkan... yang... mati... beristirahat!"
"J-jangan—" gagapku. "Lep-lepaskan—" "Biarkan...
yang... mati... beristirahat!" ulang mayat itu
dalam bisikan serak.
Aku berpaKng dan melihat anak-anak berpegang-an,
menjerit-jerit dan menangis.
Tangan orang mati itu berpindah ke leherku.
"Travis—tolong aku!" teriakku. "Travis—tolongi
Bantu aku!"
Travis ragu-ragu sesaat, mukanya pucat pasi,
matanya melirik ke sana-sini dengan panik.
Lalu ia membalikkan badan dan berlari pergi, kabur
ke dalam hutan.
Beberapa anak lari mengejarnya. Sisanya me-
mandangi dengan ngeri saat mayat itu mengencang-
kan cengkeramannya di seputar leherku.
"Biarkan... yang... mati... beristirahat!" Dengan
ge-raman pelan ia mulai mencekikku.
"Kayaknya aku terpaksa menghadapimu sendiri-an!"
teriakku.
Kuremas tangannya dan kusentakkan hingga ter-lepas
dari leherku. Lalu kupegang kepalanya dan kupuntir
kuat-kuat. Sambil mencengkeram tepi topeng aku
mengangkat kepala orang mati itu, ke-mudian
mengempaskannya ke bawah. Membanting-nya ke tanah.
Membantingnya lagi. Lagi. Lagi.Sampai dia tergeletak diam.
Dadaku kembang-kempis mengembuskan dan menghela
napas berkali-kali. Kulepaskan mayat itu dan aku
terhuyung-huyung berdiri. Aku mem-bungkuk, kedua
tanganku bertumpu pada lutut. Aku berusaha
memulihkan napasku kembali.
Semua anak terbelalak memandangiku. Gemetar-an.
Menangis. "Cepat cari Mr. Kretchmer," kataku pada
mereka. "Aku tak apa-apa. Cepat. Cari dia."
Mereka langsung lari, ingin sekali segera me
nyingkir dari situ. Aku mengawasi mereka sampai
mereka menghilang di antara pepohonan.
Lalu aku kembali ke tubuh di tanah itu. "Mereka
sudah pergi, Uncle Jake. Kau bisa bangun' kataku.
"Terima kasih banyak. Sempurna sekali. Mereka tak-
kan pernah memanggilku Willy the Wimp lagi."
Uncle Jake beranjak duduk dan menarik lepas topeng
itu. Ja menyeka keringat dari dahinya. Lalu ia
mengusap-usap bagian belakang kepalanya. "Will,
permainanmu agak kasar," erangnya.
"Maaf," sahutku. "Mungkin aku agak terpengaruh,
Aku ingin itu tadi kelihatan sungguhan."
Uncle Jake adalah pamanku yang paling baik. Ia
lucu sekali dan sangat suka bercanda. Waktu makan
bersama, ia sering kali memamerkan trik memutar
bola matanya hingga hanya bagian putihnya yang
tampak. Minggu lalu ketika aku minta tolong pada-
nya, ia langsung tidak menyia-nyiakan kesempatan
untuk menunjukkan kebolehannya itu.
Kuulurkan tanganku dan kutolong dia berdiri dengan
menghelanya. "Terima kasih sekali lagi," kataku.
"Kita berhasil membuat mereka ketakutan se-tengah
mati, kan?"
Uncle Jake mengangguk. Ia tersenyum padaku. "Aku
senang membanrumu, agar kau tak dihina te-rus. Tapi aku harus pergi sekarang," bisiknya. "Bye,
Will."
Aku mengucapkan good-bye. Lalu kuawasi dia sampai
menghilang di antara pepohonan.
Aku berlari sepanjang perjalanan pulang sekolah
dan menghambur masuk lewat pintu dapur. Aku tak
sabar lagi untuk segera menceritakan pada Mom
sukses besarku bersama Uncle Jake, berhasil me-
ngerjai Travis dan anak-anak lainnya.
Tapi kuurungkan niatku ketika kulihat Mom sedang
menangis. Dagunya gemetaran. Kedua tangan-nya
terkatup rapat.
"Will, aku sangat menyesal," katanya pelan.
"Sangat menyesal..."
"Menyesal? Mom, ada apa?"
"Ada kabar sangat jelek," jawabnya, sambil menyeka
air matanya dengan dua tangan. "Ten-tentang
pamanmu, Uncle Jake. Dia meninggal."
"Hah?" Tiba-tiba sekujur tubuhku seolah diguyur
air es. "Meninggal? Kapan?"
"Tadi malam," sahut Mom. "Suatu saat tadi ma-Iam.
Aku... aku baru saja mendengarivya."
"Tapi—" kataku.
Mom memelukku erat-erat. "Aku sangat menyesal,
Will. Aku tahu kalian berdua sangat dekat. Aku
tahu kau menganggapnya sebagai teman."
Kepalaku serasa berputar. Kutekankan wajahku ke
pipi Mom yang basah.
"Ya," bisikku. "Ya. Dia teman yang bnk sekali
semakin cepat1 Aku tak bisa melihatnya, tapi aku
tahu ia mengejarku. Kupaksa kakiku berlari semakin
kencang. Tapi sebuah tangan kurus dengan tulang
bertonjolan memegang bahuku. Ia berhasil
mengejarku! Aku menjerit—dan terbangun!
Mimpi seram. Aku bermimpi tentang itu sejak aku
berumur delapan atau sembilan. Ketika aku masih
anak-anak di Ohio, di belakang rumah kami ada hutan lebat. Di tengah-tengah hutan itu ada
gundukan tinggi batu putih halus. Kami menghindari
batu-batu putih itu. Semua anak di sekitar situ
percaya bahwa ada mayat yang di-kubur di bawahnya.
Aku masih bermimpi tentang batu-batu itu. Aku
melihat batu-batu itu mulai berguncang. LaJu
kulihat sesosok tubuh yang sudah membusuk dan me-
ngerikan memanjat keluar dari bawah dan ter-
huyung-huyung menuju ke rumahku, sambil meng-
geram, "Aku datang untuk mengambilmu, Bobby. Aku
dotting untuk mengambilmu!"
Dari situlah aku mendapat ide untuk cerita ini.
Selamat datang di mimpi burukku....
######
KVUT kayu pohort itu menggores tangan ku.
Batangnya yang kurus bergoyang-goyang di bawahku.
Kueratkan pegang anku pada cabang itu dan
kukerjap-kerjapkan mataku menatap anak-anak di
bawah itu. Tiba-tiba aku merasa pusing. Wajah
nyengir mereka jadi kelihatan buram.
"Ada apa, Willy?" Kudengar Travis memanggilku.
"Kau butuh tangga buat turun?"
"Aku—tak apa-apa," sahutku tergagap. Tapi aku apa-
apa. Aku sudah memanjat setengah tinggi po-hon,
dan tidak ada jalan soma sekali untuk turun.
"Perlu keteleponkan unit pemadam kebakaran?" seru
Travis. Anak-anak lain tertawa seperti biasanya.
Kemudian Travis menyanyikan lagu yang tak asing
lagi itu, "Willy the Wimp!" Willy si Lemah.
Aku ingin menutupi kupingku, tapi tak bisa me-
lepaskan cabang pohon. Cabang itu kupeluk erat-
erat, aku gemetaran. "Namaku Will—bukan Willy!"
Tapi itu malahan membuat mereka menyanyi semakin
keras. "Willy the Wimp! Willy the Wimp!"Sudah berapa tahun aku terpaksa mendengarkan lagu
itu?
Kupejamkan mataku dan kukertakkan gigiku. Aku
benci mereka, termasuk Travis, meskipun ia
sahabat-ku. Tapi aku paling benci diriku sendiri,
karena lemah, penakut, hingga dijuluki Willy the
Wimp.
"Stop!" teriakku. "Stop!" Kuacung-acungkan tin-
juku pada mereka—dan keseimbanganku hilang.
Aku terpelanting dari cabang itu dan merosot di
batang. Kulit kayu menggores tanganku dan mero-bek
depan kemejaku. Aku mendarat dengan keras di
tanah, dan jaruh berlutut. "Wow. Lihat, kau begitu
lagi!" seru Travis. Tanganku berdarah. Aku
menyingkirkan debu dan kulit kayu yang menempel
pada kemejaku, lalu mengibaskan sejumput daun dari
rambutku. Aku memelototi Travis. "Jangan ganggu
aku."
Tetapi ia tidak pernah menggubrisku. Ia selalu
menantangku untuk melakukan hal-hal yang ber-
bahaya. Selalu membual di depan anak-anak lain
bahwa ia pemberani dan aku penakut.
Aku selalu jadi anak terkecil di kelasku. Bahkan
di kelas satu aku kelihatan lebih muda dari semua
anak Mengapa itu membuat mereka merasa berhak
menantangku berkelahi dan menertawakanku?
Sambil berjalan tertatih-tatih pulang, dengan ke-
dua tangan terselip ke dalam saku jinsku, aku ter-
ingat akan beberapa trik licik Travis. Ketika
dalam pelajaran sains ia menjatuhkan gumpalan
kapas besar ke punggungku dan mengatakan itu
tarantula. Ketika ia menyemprot dengan pistol
airnya ke bagian depan celanaku tepat sebelum aku
harus berdiri di depan kelas dan membacakan
laporan buku.Dan semua tantangan konyol itu. Menantangku
menyelam ke dalam Handler's Creek ketika air
sungai kecfl itu hanya beberapa inci dalamnya. Me-
lemparkan topiku ke atas atap sekolah dan
menantangku memanjat ke sana untuk mengambilnya.
Mengatakan ruangan ganti pakaian murid cewek
144
sedang kosong dan menantangku menyelinap ke sana,
padahal ia tahu ruangan itu sedang penuh
cewek
Dan si Tolol Will selalu menerima tantangan itu.
Si Tblol Will menanggapi setiap tantangan.
Pagi berikutnya aku agak terlambat sampai di
sekolah. Aku melangkah masuk kelas dan tercengang
menatap gambar pada papan tulis. Ada yang telah
menggambar pohon besar dengan aku bergelantung-an
pada salah satu cabangnya yang tinggi dan seekor
hiring pada cabang lainnya. Di bawahnya tertulis:
YANG MANA SI KUCING PENAKUT?
Aku berbalik dan ternyata semua anak sedang
nyengir padaku.
Melihat wajah-wajah cengar-cengir itu, aku tahu
aku tak bisa lagi menerima perlakuan ini. Aku tahu
aku harus bertindak. Tapi apa?
Beberapa hari kemudian aku kembali di hutan. Mr.
Kretchmer, guru kami, memimpin kami sekelas ke
Handler's Creek untuk mengumpulkan serangga.
Saat kami menyusuri jalan setapak tanah yang
berkelok-kelok di antara pepohonan, Travis muncul
di sampingku, nyengir seperti biasanya. "Kutantang
kau berenang di sungai kecil itu," katanya.
Kuputar bola mataku. "Ha ha. Lucu sekali." Sudah
berminggu-minggu tidak turun hujan. Bahkan aku
pun tahu sungai kecil itu hanya berupa tanah ber-
lumpur saat ini."Aku akan berjalan lebih dulu untuk melihat apakah
sungai kecil itu sudah kering sampai ke dasarnya,"
Mr. Kretchmer mengumurnkan. "Aku ingin semuanya
sudah siap. Tetap ikuti jalan se-tapak." Ia
berbalik dan bergegas pergi.
Sepatu kami menggilas tanah kering. Sinar mata-
hari yang terang membuat gatal tengkukku. Di depan
tampak segerombolan serangga putih ber-kilauan
terbang beiputar-putar di atas rumput tinggi.
Jalan setapak itu membelok melintasi tanah ter-
buka berumput. Kupindahkan ranselku ke bahuku yang
satunya dan kulihat sebuah gudang kecil yang
terbuat dari kayu di belakang tanah terbuka itu.
Apa itu yang tergeletak di rumput di depan gudang
itu? Aku mengedip-ngedip untuk mem-fokuskan
mataku. "Hei!" Aku berlari. "Hei!"
Aku berhenti beberapa kaki dari gudang itu dan
memandangi laki-laki di atas tanah itu. Ia
berbaring miring dengan kaku, lengan dan kakinya
sangat lurus. Sebuah topeng—topeng wol hitam—
menutupi wajahnya. Lewat lubang matanya aku dapat
melihat bahwa bola matanya terbalik ke atas ke
dalam kepalanya. Hanya bagian putihnya yang
tampak.
"Hei!" Aku memanggil anak-anak lain, suaraku
tinggi dan melengking. Kulambai-lambaikan tanganku
dengan panik. "Hei—ke sini! Cepat!"
Semua anak sekelas berlari-lari datang. Mereka
berhenti ketika melihat mayat yang tergeletak di
rumput itu. Setelah mendesah kaget, setiap anak
mulai bicara pada saat yang bersamaan, sehingga
suasana ribut.
"Apa dia hidup?"
"Kenapa dia pakai topeng?"
"Apa yang terjadi padanya?""Ini—ini mayat," gagapku. "Aku tak percaya. Aku
belum pernah melihat mayat." Aku ternganga
memandangi wajah bertopeng, bola mata putih itu.
"Cepat cari Mr. Kretchmer! Cepat!" teriak seorang
anak cewek.
Tapi tidak ada yang beranjak. Kukira semuanya
terlalu kaget, terlalu ngeri.
Lalu Travis cepat-cepat ke sebelahku, mata hitam-
nya bersinar-sinar, mulutnya mulai cengar cengir
se-perti biasanya. "Will," katanya dengan keras,
cukup keras untuk didengar semua anak. "Will,
berani kau menyentuhnya?"
"Hah?" Aku melangkah mundur. "Menyentuh mayat?"
Cengiran Travis semakin lebar. "Apa kau berani
menarik topengnya dan menyentuh wajahnya?"
Semuanya diam. Aku dapat melihat bahwa semua mata
tertuju padaku.
Aku menatap Travis, lalu berpaling ke mayat itu.
Aku menelan ludah. Kutarik napasku dalam-dalam.
"Aku menantangmu." Travis tahu aku tak pernah
menolak tantangannya. Semua anak sekelas tahu.
"Oke." Aku menelan ludah lagi. "Oke. Aku bisa
melakukannya. Ini sih masalah kecil—ya, kan?" '
Aku maju selangkah kecil ke arah mayat itu, lalu
selangkah lagi. Ketika aku berlutut di sampingnya,
beberapa anak menahan napas. "Benar dia akan
menyentuhnya?" bisik seseorang. "Dia kan penakut,"
sahut Travis. No way, ucapku dalam hati. Aku bukan
penakut. Aku akan melakukannya.
Tanganku gemetar saat kuulurkan untuk meraih
topeng hitam itu. Jari-jariku mencengkeram tepi
bawah topeng itu. Dengan entakan keras, aku mulai
menarik topeng ke atas wajah itu.
Tiba-tiba tangan kanan orang mati itu terulur dan
mencengkeram pergelangan tanganku. "Ohhhhh," aku mengerang pelan. Di belakangku terdengar jeritan
dan teriakan ngeri dari anak-anak lain.
Jari-jari orang mati itu mencengkeram erat lengan-
ku. Matanya yang putih kosong menatapku. Ta-
ngannya yang lain memegang bahuku.
Pekikan dan jeritan terdengar di sekitarku. Aku
bergeming. Aku tak bisa bergerak.
Sambil menatapku dengan matanya yang kosong mayat
itu membuka mulutnya dan berkata dengan suara
parau, "Biarkan... yang... mati... beristirahat!"
"J-jangan—" gagapku. "Lep-lepaskan—" "Biarkan...
yang... mati... beristirahat!" ulang mayat itu
dalam bisikan serak.
Aku berpaKng dan melihat anak-anak berpegang-an,
menjerit-jerit dan menangis.
Tangan orang mati itu berpindah ke leherku.
"Travis—tolong aku!" teriakku. "Travis—tolongi
Bantu aku!"
Travis ragu-ragu sesaat, mukanya pucat pasi,
matanya melirik ke sana-sini dengan panik.
Lalu ia membalikkan badan dan berlari pergi, kabur
ke dalam hutan.
Beberapa anak lari mengejarnya. Sisanya me-
mandangi dengan ngeri saat mayat itu mengencang-
kan cengkeramannya di seputar leherku.
"Biarkan... yang... mati... beristirahat!" Dengan
ge-raman pelan ia mulai mencekikku.
"Kayaknya aku terpaksa menghadapimu sendiri-an!"
teriakku.
Kuremas tangannya dan kusentakkan hingga ter-lepas
dari leherku. Lalu kupegang kepalanya dan kupuntir
kuat-kuat. Sambil mencengkeram tepi topeng aku
mengangkat kepala orang mati itu, ke-mudian
mengempaskannya ke bawah. Membanting-nya ke tanah.
Membantingnya lagi. Lagi. Lagi.Sampai dia tergeletak diam.
Dadaku kembang-kempis mengembuskan dan menghela
napas berkali-kali. Kulepaskan mayat itu dan aku
terhuyung-huyung berdiri. Aku mem-bungkuk, kedua
tanganku bertumpu pada lutut. Aku berusaha
memulihkan napasku kembali.
Semua anak terbelalak memandangiku. Gemetar-an.
Menangis. "Cepat cari Mr. Kretchmer," kataku pada
mereka. "Aku tak apa-apa. Cepat. Cari dia."
Mereka langsung lari, ingin sekali segera me
nyingkir dari situ. Aku mengawasi mereka sampai
mereka menghilang di antara pepohonan.
Lalu aku kembali ke tubuh di tanah itu. "Mereka
sudah pergi, Uncle Jake. Kau bisa bangun' kataku.
"Terima kasih banyak. Sempurna sekali. Mereka tak-
kan pernah memanggilku Willy the Wimp lagi."
Uncle Jake beranjak duduk dan menarik lepas topeng
itu. Ja menyeka keringat dari dahinya. Lalu ia
mengusap-usap bagian belakang kepalanya. "Will,
permainanmu agak kasar," erangnya.
"Maaf," sahutku. "Mungkin aku agak terpengaruh,
Aku ingin itu tadi kelihatan sungguhan."
Uncle Jake adalah pamanku yang paling baik. Ia
lucu sekali dan sangat suka bercanda. Waktu makan
bersama, ia sering kali memamerkan trik memutar
bola matanya hingga hanya bagian putihnya yang
tampak. Minggu lalu ketika aku minta tolong pada-
nya, ia langsung tidak menyia-nyiakan kesempatan
untuk menunjukkan kebolehannya itu.
Kuulurkan tanganku dan kutolong dia berdiri dengan
menghelanya. "Terima kasih sekali lagi," kataku.
"Kita berhasil membuat mereka ketakutan se-tengah
mati, kan?"
Uncle Jake mengangguk. Ia tersenyum padaku. "Aku
senang membanrumu, agar kau tak dihina te-rus. Tapi aku harus pergi sekarang," bisiknya. "Bye,
Will."
Aku mengucapkan good-bye. Lalu kuawasi dia sampai
menghilang di antara pepohonan.
Aku berlari sepanjang perjalanan pulang sekolah
dan menghambur masuk lewat pintu dapur. Aku tak
sabar lagi untuk segera menceritakan pada Mom
sukses besarku bersama Uncle Jake, berhasil me-
ngerjai Travis dan anak-anak lainnya.
Tapi kuurungkan niatku ketika kulihat Mom sedang
menangis. Dagunya gemetaran. Kedua tangan-nya
terkatup rapat.
"Will, aku sangat menyesal," katanya pelan.
"Sangat menyesal..."
"Menyesal? Mom, ada apa?"
"Ada kabar sangat jelek," jawabnya, sambil menyeka
air matanya dengan dua tangan. "Ten-tentang
pamanmu, Uncle Jake. Dia meninggal."
"Hah?" Tiba-tiba sekujur tubuhku seolah diguyur
air es. "Meninggal? Kapan?"
"Tadi malam," sahut Mom. "Suatu saat tadi ma-Iam.
Aku... aku baru saja mendengarivya."
"Tapi—" kataku.
Mom memelukku erat-erat. "Aku sangat menyesal,
Will. Aku tahu kalian berdua sangat dekat. Aku
tahu kau menganggapnya sebagai teman."
Kepalaku serasa berputar. Kutekankan wajahku ke
pipi Mom yang basah.
"Ya," bisikku. "Ya. Dia teman yang bnk sekali

0 komentar:
Posting Komentar